
"Sudah masuk lima minggu, dan semuanya bagus."
"Selamat, ya!" Ucap dokter yang sudah selesai memeriksa kandungan Felichia.
Melanie yng sejak masuk ke ruang poli kandungan terus mendampingi Felichia, kini tersenyum sumringah. Berbeda dengan Felichia yang hanya tersenyum tipis dan cenderung menunjukkan raut wajah datar.
"Ada mual atau muntah?" Tanya dokter selanjutnya pada Felichia yang hanya menggeleng.
"Mungkin belum, ya. Saya resepkan obat antimual untuk jaga-jaga," ucap dokter lagi seraya menulis resep.
"Apa harus diminum, Dok?" Felichia akhirnya bertanya dan buka suara.
"Kalau tidak mual, tidak diminum tidak apa-apa. Tapi untuk vitamin dan obat penambah darahnya harus rutin diminum. Lalu perbanyak juga makan makanan bergizi terutama sayur, buah, dan kacang-kacangan," tutur Dokter panjang lebar memberikan pesan pada Felichia.
"Saya mengerti, Dok!" Ucap Felichia sebelum mengakhiri konsultasinya dan berpamitan.
Felichia dan Melanie keluar beriringan dari poli kandungan.
"Kita ke kamar perawatan Dean dulu, Fe!" Ajak Melanie setelah dua wanita itu meninggalkan poli kandungan.
"Aku boleh ke mobil duluan, Mel?" Izin Felichia yang merasa enggan untuk dekat-dekat dengan Dean. Sebelum hamil, Felichia sudah benci pada pria itu. Dan kini setelah hamil, Felichia semakin membencinya dan bahkan ingin mencekik atau menendang bokongnya.
Felichia benci pada Dean Alexander!
"Aku sudah lapar lagi, dan bekalku tadi aku tinggal di mobil," lanjut Felichia memaparkan alasan pada Melanie.
"Aku telepon supir dulu agar menjemputmu kemari," ucap Melanie seraya mengutak-atik layar ponselnya.
"Aku akan ke tempat parkir sendiri, Mel!" Tukas Felichia yang sudah berubah kesal karena Melanie yang ternyata masih memperlakukan Felichia bak seorang tahanan.
"Tidak! Tunggu sampai supir datang-" Felichia menunjuk ke arah pintu utama rumah sakit, dimana seorang pria yang berpakaian serba hitam sudah berjalan ke arah Felichia dan Melanie.
Ya,
Itulah supir sekaligus bodyguard yang biasanya menjadi pengawal Dean atau Melanie saat pergi dari kediaman Alexander. Ada beberapa bodyguard yang dimiliki pasangan konglomerat ini dan semuanya menyebalkan sama seperti Dean dan Melanie.
"Antar Felichia ke mobil dan jaga dia sampai aku dan Dean kembali," titah Melanie pada sang bodyguard.
"Baik, Nona," jawab bodyguard itu patuh.
Cih!
Menjaga?
__ADS_1
Mungkin maksudnya mengawasi agar Felichia tak kabur.
"Aku ke mobil duluan, Mel!" Pamit Felichia sedikit berbasa-basi pada Nona Muda Melanie di hadapannya.
"Hati-hati!" Pesan Melanie seraya tersenyum hangat pada Felichia.
Felichia hanya mengangguk, dan segera mengayunkan kakinya ke tempat parkir di halaman depan rumah sakit. Bodyguard Melanie tadi tentu saja langsung mengekori Felichia bak seorang polisi yang menjaga tahanannya.
Menyebalkan!
****
"Hasilnya sudah keluar, Dean?" Tanya Melanie yang baru tiba di kamar perawatan Dean. Selang infus sudah terpasang di lengan kiri Dean, dan pria itu terlihat merengut.
"Belum. Katanya sebentar lagi."
"Kau darimana?" tanya Dean yang sudah bangkit dari duduknya dan menghampiri kursi roda Melanie.
"Mengantar Felichia ke poli kandungan. Bukankah aku sudah memberitahumu tadi?" Jawab Melanie sedikit ketus.
"Ya! Seharusnya aku tak perlu bertanya," Dean ikut-ikutan ketus. Pria itu kembali pucat pasi dan segera mengambil kantung muntah.
Entah itu sudah yang ke berapa.
"Kenapa memangnya? Kau tidak suka?" Bukannya membalas kelakaran Melanie, Dean malah meninggikan nada bicaranya seolah merasa tak terima dengan celetukan dari sang istri.
"Astaga! Aku hanya bercanda, Dean! Ada apa denganmu?" Kernyit Melanie yang merasa tak paham dengan sikap sensitif Dean yang sudah diluar batas kewajaran.
Dean tak pernah seperti ini sebelumnya. Dan sepanjang pernikahan Dean dan Melanie, suami Melanie ini belum pernah sedikitpun membentak Melanie.
Ada apa dengan Dean?
Aneh sekali!
"Baiklah, terserah! Aku hanya sedang badmood seharian ini, karena aku tak berhenti mual dan muntah," ungkap Dean merasa frustasi.
Melanie segera bangkit dari kursi rodanya dan menghampiri Dean,mlalu mengusap lembut punggung suaminya tersebut.
"Ini tidak akan lama, Dean! Paling hanya sehari atau dua hari."
"Jangan sedih, oke!" Hibur Melanie yang sudah ganti mendekap Dean.
Tak berselang lama, seorang dokter dan perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar perawatan, lalu menyapa Melanie dan Dean dan sedikit berbasa-basi sebelum menyampaikan hasil medical check up Dean.
__ADS_1
"Asam lambung normal, semuanya normal, Tuan Dean," terang dokter yag langsung membuat Dean berdecak.
"Lalu kenapa saya mual dan muntah-muntah terus kau memang semuanya normal, Dok? Apa saya keracunan dan salah makan?" Tanya Dean dengan nada berapi-api.
"Tidak, Tuan Dean! Tidak ditemukan kandungan racun atau apapun di dalam tubuh anda," jelas dokter yang hanya membuat Dean berdecak.
"Saya akan meresepkan obat anti mual, agar frekuensi mual dan muntah anda sedikit berkurang. Dan saran saya, mungkin anda bisa membawa istri anda ke dokter kandugan karena gejala yang anda alami ini mirip dengan syndrome kehamilan simpatik, dimana saat istri sedang hamil atau mengandung, justru suami yang mengalami mual dan muntah serta gejala morning sickness lainnya," terang dokter panjang lebar pada Dean yang raut wajahnya sudah berubah merengut untuk kesekian kalinya.
Baiklah!
Ini dokter kedua yang mengatakan tentang kehamilan simpatik sialan itu!
Andai yang hamil adalah Melanie, mungkin Dean tak akan sekesal ini kaena Dean sangat mencintai istrinya tersebut. Tapi ini yang hamil adalah seorang wanita asing yang bukan merupakan istri Dean dan dia hanya seorang rahim pengganti, kenapa Dean harus ikut merasakan efeknya dan menderita seperti ini?
Tidak adil sekali!
Dean kembali mual dan muntah-muntah.
Selalu begitu setiap kali Dean merasa kesal pada rahim pengganti bernama Felichia itu.
Apa ini berhubungan?
Perawat memberikan obat antimual Dean pada Melanie serta menjelaskan tatacara minumnya. Setelah melepaskan infus Dean dan tidak ada pertanyaan lagi dari Dean serta Melanie, dokter dan perawat akhirnya undur diri.
"Aku bisa pulang sekarang, kan?" Tanya Dean seraya mengusap lengannya yang baru saja dimasuki jarum infus.
"Ya. Tapi bisakah kau berhenti marah-marah, Dean?"
"Aku perhatikan, mual dan muntahmu semakin parah saat kau merasa kesal atau marah," pendapat Melanie yang langsung membuat Dean berdecak.
"Ya, semakin parah lagi saat aku mengumpati atau merasa kesal pada Felichia!" Dean hanya berucap dalam hati.
"Dasar sok tahu!" Dean mengacak rambut Melanie, lalu mendorong kursi roda istrinya tersebut keluar dari kamar perawatan.
Pasangan suami istri tersebut langsung menuju ke tempat parkir untuk selanjutnya pulang ke kediaman Alexander.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.