
"Bisa kau panggilkan Felichia dan minta ia datang ke sini?" Titah Melanie pada seorang maid yang baru saja mengantarkan makan siang Melanie.
"Maaf, Nona! Tapi Nona Felichia sedang tidak bisa kemana-mana," jawab maid yang terpaksa berbohong sesuai pesan dari Dean.
Semua maid di rumah tentu tahu kalau sudah hampir tiga hari ini Felichia tidak berada di rumah. Namun mereka semua tutup mulut dan tak ada yang berani mengatakan yang sejujurnya pada Melanie.
"Felichia kenapa?" Tanya Melanie yang raut wajahnya sudah berubah khawatir.
"Nona Felichia harus bedrest seperti halnya anda, Nona! Jadi belum bisa kemana-mana," terang maid seraya menundukkan wajahnya.
"Carikan kursi rodaku kalau begitu! Aku ingin melihat Felichia," putus Melanie akhirnya yang terang saja langsung membuat maid gelagapan.
"Kursi roda anda..."
"Saya tidak tahu, Nona!" Jawab Maid tergagap-gagap.
"Jangan bohong! Aku itu sudah sehat dan aku ingin melihat Felichia ke kamarnya!" Melanie semakin keras kepala.
"Aku akan jalan saja kalau begitu!" Ucap Melanie yang sudah terlampau kesal.
Wanita itu menyibak selimut dan hebdak bangkit dari atas tempat tidur saat tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak terbuka. Dean sudah datang dan maid yang tadi berdebat dengan Melanie segera undur diri.
"Kau mau kemana, Mel!" Dean menghampiri Melanie dengan cepat dan pria itu senera mencegah Melanie yang hampir turun dari atas tempat tidur.
"Aku mau melihat Felichia, Dean! Kata maid Felichia harus bedrest dan tidak bisa kemana-mana."
"Ada apa dengan Felichia?" Tanya Melanie yang langsung mencecar Dean.
"Felichia tidak kenapa-kenapa dan hanya harus bedrest karena kakinya bengkak. Tapi dia baik-baik saja. Jadi kau tak perlu menemuinya!" Jawab Dean mengarang indah.
Jelas-jelas Felichia tak ada di rumah ini sekarang.
"Tapi aku mau bertemu dan bicara dengannya, Dean! Kenapa srkarang kau melarangku bertemu Felichia?" Tanya Melanie tak mengerti.
"Mel, jangan keras kepala!"
"Sudah kubilang Felichia baik-baik saja!" Ucap Dean tegas dan sedikit meninggikan suaranya.
Melanie langsung diam dan balas melempar tatapan tajam ke arah Dean.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Dean!"
__ADS_1
"Aku tak menyembunyikan apapun!" Kilah Dean cepat menyangkal tuduhan Melanie.
"Kalau begitu, biarkan aku bertemu Felichia. Ambilkan kursi rodaku, atau kau mau menggendongku ke kamar Felichia, atau aku akan jalan kaki jika kau tidak mau melakukan keduanya!" Ucap Melanie keras kepala.
"Felichia sedang marah dan dia tak mau lagi bertemu denganmu. Puas kau!" Tukas Dean akhirnya mengarang cerita lain.
"Marah?"
"Marah kenapa?" Tanya Melanie yang semakin bingung.
"Aku tidak tahu!" Jawab Dean seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Dia mengurung diri di kamar sejak pulang dari Mall tiga hari yang lalu, dan hanya mengijinkan maid yang membawa makanan yang masuk ke kamarnya," tutur Dean yang benar-benar sudah fasih mengarang cerita indah.
"Kau menyakiti hatinya?" Tanya Melanie penuh selidik.
"Untuk apa?"
"Aku belum bicara dengannya sejak pulang dari Mall!" Jawab Dean jujur.
Jujur dalam artian yang sebenarnya karena Dean memang belum bicara lagi pada Felichia yang kabur dan belum ditemukan hingga detik ini.
Entah kemana wanita sialan yang merepotkan itu!
Melanie memilih untuk tak melanjutkan perdebatannya dengan Dean dan diam. Namun Melanie itu bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Felichia hingga wanita itu mengurung diri di kamar.
****
Malam sudah larut.
Melanie menyingkirkan perlahan lengan besar Dean yang sejak tadi mendekapnya. Dengkuran ringan dari Dean menandakan kalau suami Melanie itu sudah benar-benar terlelap. Jadi Dean tak akan tahu kalau Melanie menyelinap sebentar ke kamar Felichia.
Melanie menyibak selimut perlahan, lalu turun dari tempat tidur dengan mengendap-endap. Namjn baru dua langkah Melanie menjejakkan kakinya di lantai, tubuh wanita itu sudah sedikit limbung.
Sepertinya Melani terlalu banyak duduk dan berbaring.
Melanie berpegangan pada tepian tempat tidur, lalu menarik nafas berulang kali sebelum melanjutkan langkahnya ke arah pintu kamar. Wanita itu membuka pintu nyaris tanpa suara, agar Dean tidak bangun.
Melanie langsung menujuk ke kamar Felichia yang berada di bawah tangga, dengan langkahnya yang sedikit tertatih.
"Fe!" Melanie mengetuk pintu kamar Felichia.
__ADS_1
"Felichia!" Panggil Melanie lagi berharap Felichia belum tidur. Tapi setahu Melanie, Felichia memang jarang bisa tidur belakangan ini dan wanita itu selalu bangun tengah malam untuk makan sesuatu di dapur.
"Fe!" Melani mencoba membuka knop pintu kamar Felichia, saat istri Dean itu mendapati pintu kamar yang tak terkunci.
"Fe!" Panggil Melanie seraya menyalakan lampu karena kamar yang gelap gulita.
Lampu menyala!
Tempat tidur Felichia kosong dan terlihat rapi, seolah sudah beberapa hari tak ditempati. Aneh!
"Fe!" Panggil Melanie yang masih tertatih-tatih. Wanita itu memeriksa kamar mandi namun juga kosong dan tak Melanie temukan tanda-tanda keberadaan Felichia.
Mustahil Felichia pindah ke kamarnya yang ada di lantai dua, kan?
Tapi bisa saja....
Melanie keluar dari kamar Felichia dan ganti naik tangga. Wanita itu bahkan tak lagi peduli pada rasa sakit yang mulai hinggap di perutnya. Melanie hanya ingin bertemu Felichia.
"Fe!" Melanie yang sudah sampai di lantai dua mengetuk pintu kamar lama Felichia dan mendorongnya. Namun kamar ini juga kosong sama seperti kamar di bawah.
Apa?
Kemana Felichia?
"Fe-"
Melanie meringis karena merasakan nyeri hebat di bagian perutnya. Wanita itu terduduk di lantai di depan kamar Felichia dan mendapati bercak darah yang keluar dari kedua pangkal pahanya.
"Mel!"
"Melanie?"
Samar-samar masih bisa Melanie dengar teriak Dean yang sedang mencarinya dari lantai bawah, sebelum semua hal di sekitar Melanie terasa berputar dan Melanie pingsan di depan kamar lama Felichia.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.