
Jam digital di atas nakas sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tubuh Dean yang sudah dipenuhi oleh peluh kembali mengejang di atas tubuh Felichia yang sama-sama berpeluh. Dean mencapai pelepasannya untuk kesekian kali. Cairan hangat milik Dean kembali memenuhi rahim Felichia.
"Lagi," bisik Felichia pada Dean yang sudah ambruk di atas dadanya.
Dean tertawa kecil.
"Kau juga tak ingin berhenti, hah?" Dean sudah mengangkat kepalanya dan tersenyum nakal pada Felichia.
"Sentuhanmu seperti candu," Felichia meraih tangan Dean yang sedang menyusuri wajahnya, lalu membawanya ke depan bibir dan mulai mengul*mnya.
Sial!
"Fe, jangan mulai!" Dean benar-benar tak tahan merasakan jilatan serta kecupan bibir dan lidah Felichia di jari-jari tangannya.
"Punyamu sudah mengeras lagi, Dean!" Ejek Felichia seraya tertawa.
"Kau benar-benar menyebalkan!" Dean sudah berguling untuk berganti posisi. Dan kini pria itu mendudukkan Felichia di atas tubuhnya.
Di atas juniornya yang sudah kembali menegang lebih tepatnya.
Sikap agresif Felichia benar-benar sukses membuat Dean bergairah semalaman. Bisa-bisa sampai besok pagi Dean tidak akan tidur dan akan terus melakukan 'olahraga ranjang' bersama Felichia.
Oh, ya ampun!
Felichia membungkukkan tubuhnya dibatas Dean, hingga kedua bukit kembar wanita itu kini sudah berubah menjadi buah pepaya yang menggantung-gantung. Membuat Dean tak tahan untuk segera melahapnya.
"Aaakh!" Felichia memekik kecil karena Dean yang begitu rakus melahap dua 'buah pepaya' miliknya.
Milik Dean dan Felichia sudah kembali menyatu. Felichia mulai bergerak dengan intens di atas Dean, masih sambil menyumpalkan kedua 'buah' nya ke mulut Dean. Des*han dan lenguhan dari pasangan suami istri itu semakin bersahut-sahutan di dalam kamar yang hawanya sudah berubah panas sejak pergelutan pertama mereka tadi. Meskipun AC sudah Dean setel ke suhu yang dingin, tubuhnya dan tubuh Felichia tetap saja dipenuhi oleh peluh.
"Pelan-pelan, Fe!" Dean menahan tubuh Felichia yang gerakannya sudah semakin tak terkendali.
__ADS_1
"Kenapa? Kau mau keluar lagi?" Goda Felichia yang malah mempercepat gerakannya dan mengabaikan aba-aba dari Dean.
"Sial!"
"Aku masih mau berlama-lama, Sayang!" Dean masih tetap berusaha menahan Felichia agar tak terburu-buru memancingnya mencapai pelepasan entah yang ke berapa kali.
"Begini lebih menyenangkan!" Felichia semakin mempercepat gerakannya dan Dean benar-benar kewalahan sekarang.
"Aaarrrgh!" Dean mengerang hebat bersamaan dengan miliknya yang kembali menyemburkan benih-benih Dean junior ke dalam rahim Felichia.
"Kita akan membuat bayi kembar sepuluh jika melakukannya sampai pagi," kelakar Dean sebelum pria itu mengecup bibir Felichia.
"Itu mustahil, Dean!" Sahut Felichia membantah kelakaran Dean.
Wanita itu hendak turun dari atas tubuh Dean saat kemudian ia malah mengerang kesakitan.
"Aduh! Aduh!" Felichia kembali ambruk dia tas tubuh sang suami.
"Ada apa?" Tanya Dean khawatir.
Buru-buru Dean menurunkan Felichia dan memeriksa kaki istrinya tersebut.
"Kau terlalu bersemangat saat terakhir tadi," kekeh Dean seraya memberikan terapi ringan pada kaki Felichia yang kram.
Sementara Felichia sudah menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Baju Felichia entah berada dimana.
"Masih sakit?" Tanya Dean memastikan.
"Sudah mendingan. Kemarilah!" Felichia menepuk ruang kosong di sebelahnya dan minta agar Dean berbaring di sana. Felichia segera menutupi tubuh Dean dan tubuhnya sendiri dalam satu selimut, lalu wanita itu membenamkan wajahnya ke dada Dean yang begitu nyaman untuk bersandar.
"Sudah capek?" Tanya Dean seraya merapikan rambut Felichia yang berserakan di wajah istrinya tersebut.
__ADS_1
"Ya, sedikit mengantuk juga," jawab Felichia seraya menguap.
Felichia semakin menyamankan posisinya di pelukan Dean.
"Tidurlah! Aku akan memelukmu sampai pagi," janji Dean seraya mengecup puncak kepala Felichia.
"Sebaiknya begitu. Karena aku tak bisa lagi jauh darimu, Dean," ucap Felichia sedikit bergumam. Rasa kantuk Felichia semakin terasa kuat.
"Maka jangan pernah jauh-jauh lagi dariku! Tak akan kubiarkan kau pergi lagi," Dean mengusap lembut kepala Felichia yang sudah mulai bernafas dengan teratur.
Sepertinya wanita itu benar-benar lelah hingga ia cepat sekali tertidur.
Dean tersenyum sendiri saat menatap wajah tenang Felichia yang sudah terlelap.
"Semoga bulan depan sudah ada kabar baik," Gumam Dean yang sudah ganti mengusap perut Felichia.
"Aku akan terus membuatmu hamil sampai rumah ini penuh dengan anak-anak kita, dan tak ada lagi kamar kosong di rumah besar ini," tekad Dean sebelum pria itu ikut menguap karena mengantuk.
Ya,
Dean juga lelah setelah pergelutannya bersama Felichia selama beronde-ronde tadi.
"Aku mencintaimu, Felichia!"
"Aku sangat mencintaimu," gumam Dean seraya mengecup kening Felichia cukup lama. Dean merapatkan selimut yang membalut tubuhnya dan tubuh Felichia, lalu mengeratkan dekapannya pada tubuh polos Felichia. Akhirnya pria itu ikut memejamkan mata, menyusul Felichia dan ketiga anaknya ke alam mimpi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.