
"Kita tidak akan bercinta di dalam mobil, Sayang!"
"Oh, ayolah! Jangan jual mahal begitu."
"Erlan!"
"Kau sudah bergairah. Lepaskan saja sabuk pengamanmu dan ayo kita bercin-"
Braaaaak!
Erlan baru akan melepaskan sabuk pengaman wanita yang duduk di sebelahnya, yang ia panggil sebagai Sayang, saat sebuah bebturan yang sangat keras membuat mobil Erlan terguncang. Tubuh Erlan seketika terpelanting dari atas jok karena sabuk pengaman yang seharusnya ia kenakan dan menahan tubuhnya, tidak terpasang.
Masih bisa Erlan rasakan benturan keras di kepalanya saat ia menabrak kaca depan mobil hingga pecah.
"Erlaaan!!"
Jeritan seorang wanita seketika membuat kedua mata Erlan terbuka. Namun Erlan kembali harus memejamkan matanya karena merasakan cahaya yang begitu menyilaukan mata, serta rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di kepalanya. Seluruh tubuh Erlan juga terasa remuk redam.
Erlan mengerang lirih, saat sebuah usapan lembut terasa di lengan kanannya.
"Erlan?"
Suara lembut seorang wanita, membuat Erlan kembali membuka matanya.
Entah sudah berapa lama Erlan tertidur, hingga matanya begitu asing pada cahaya yang sebenarnya tak terlalu silau. Pemandangan serba putih langsung bisa Erlan lihat, setelah berulang kali pria itu mengerjapkan matanya.
"Tante! Erlan sudah bangun!" Suara seruan dari wanita yang sejak tadi mengusap lengan Erlan, membuat Erlan menoleh ke samping bed perawatannya.
Erlan merasa tak asing dengan wanita itu, tapi dia siapa?
Erlan ingat wajahnya namun tidak ingat namanya.
"Erlan, kau sudah bangun?" Yang ini Erlan sangat hafal suara siapa. Itu adalah suara sang Mama.
"Ma!" Panggil Erlan lirih.
"Dia siapa, Ma?" Tanya Erlan pada Mama Astri seraya menunjuk ke arah wanita asing di sebelahnya.
"Dia Navya, Erlan," jawab Mama Astri yang langsung membuat Erlan sedikit berpikir.
"Navya?" Erlan bergumam dan masih berusaha mengingat-ingat.
"Kita berteman saat kuliah," ujar Navya mengingatkan Erlan.
"Ah! Iya! Kau Navya Orlando!" Erlan akhirnya ingat pada teman lamanya tersebut.
Navya mengangguk dan tersenyum pada Erlan.
"Ma!" Panggil Erlan lagi pada sang Mama.
"Apa, Erlan? Kau butuh sesuatu?" Tanya Mama Astri yang kini juga sudah mebdekat ke arah putra semata wayangnya tersebut.
"Bukankah Erlan sudah menikah dan punya seorang istri? Dimana istri Erlan, Ma?" Tanya Erlan sambil berusaha mengingat-ingat nama istrinya.
Kenapa Erlan mendadak lupa dengan nama semua orang?
"Dia kabur!" Jawab Mama Astri sinis.
__ADS_1
"Kabur kemana?" Tanya Erlan penuh selidik.
"Mama juga tidak tahu, Erlan! Dia tiba-tiba menghilang dan tidak menjengukmu lagi karena kau tak kunjung bangun dari koma! Istri macam apa sebenarnya Felichia itu" beber Mama Astri dengan nada berapi-api.
"Felichia nama istri Erlan, Ma?" Tanya Erlan yang sepertinya lupa-lupa ingat.
Mama Astri langsung menatap penuh selidik pada sang putra.
"Ya! Tapi dia bukan istri yang baik, Erlan! Jadi kau tak usah lagi mempedulikannya dan kau fokus aja pada pemulihanmu," jawab Mama Astri seraya bersorak dalam hati karena ternyata kecelakaan itu sudah menbuat Erlan lupa pada Felichia yang dulu membuat Erlan begitu tergila-gila.
Setidaknya ada hikmah dari kecelakaan parah yang disebabkan olrh Felichia!
Sekarang Mama Astri tak perlu susah-sudah memisahkan dua sejoli yang dulu tak terpisahkan ini. Mama Astri cukup meracuni Erlan dengan semua hal buruk tentang Felichia, sehingga Erlan akan benci sendiri pada Felichia jika nanti mereka bertemu.
Dokter yang tadi dipanggil oleh Mama Astri sudah masuk ke kamar perawatan Erlan dan langsung memeriksa kondisi Erlan. Tak lupa dokter juga memberikan beberapa pertanyaan pada Erlan untuk memastikan apa Erlan mengalami hilang ingatan atau tidak.
Erlan masih mengingat tentang orang-orang di sekelilingnya, hanya saja Erlan sedikit lupa dengan nama-nama mereka serta interaksi mereka bersama Erlan satu tahun terakhir.
Ingatan dari tahun sebelumnya malah Erlan bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
Cedera otak memang tidak pernah bisa ditebak.
Dokter hanya menyarankan agar mama Astri dan keluarga Erlan membantu Erlan mengingat semua memori penting satu tahun terakhir yang sekiranya Erlan lupakan, agar ingatan Erlan juga lekas pulih.
Terlepas dari semua itu, kondisi Erlan sudah membaik dan hanya tinggal pemulihan beberapa lukanya.
****
Kediaman Alexander
Tubuh Felichia sedikit menggigil pagi ini dan Felichia merasa kedinginan.
"Fe, kau mau kemana?" Tegur Melanie yang melihat Felichia yang sudah berpakaian rapi dan sepertinya hendak pergi.
"Aku mau ke rumah sakit menjenguk Erlan dan melihat kondisinya, Mel." Jawab Felichia yang kembali terbatuk-batuk. Felichia merapatkan jaket yang ia kenakan.
"Aku boleh pergi, kan?" Lanjut Felichia meminta izin pada Melanie.
"Tapi wajah kamu pucat, Fe! Kamu sepertinya sakit?" Ucap Melanie merasa khawatir.
Melanie bangkit dari kursi rodanya dan memeriksa suhu tubuh Felichia.
"Kamu demam, Fe!"
"Aku baik-baik saja dan sepertinya hanya akan flu. Aku pergi, ya!" Mohon Felichia sedikit memaksa.
"Sarapan dulu, Fe!" Ujar Melanie yang berusaha menyusul langkah Felichia.
"Nanti saja aku sarapan di ru-" Felichia belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba wanita itu memegangi kepalanya, lalu jatuh ke lantai dan pingsan.
"Felichia!" Pekik Melanie yang langsung membuat Dean yang baru keluar dari kamar buru-buru menghampiri istrinya tersebut.
"Ada apa, Mel?" Tanya Dean yang hanya mematung melihat Felichia yang sudah jatuh terkapar di lantai.
"Dean, tolong Felichia! Dia pingsan!" Pinta Melanie pada sang suami. Melanie sendiri sudah bangkit dari kursi rodanya untuk menghampiri Felichia yang masih pingsan di lantai.
"Dean!" Teriak Melanie emosi pada Dean yang hanya mematung.
__ADS_1
Namun bukannya bergerak untuk mengangkat tubuh Felichia, Dean malah memanggil maid dan menyuruh mereka memindahkan tubuh Felichia ke atas sofa.
Melanie buru-buru memanggil dokter langganan keluarga agar datang ke rumah da memeriksa kondisi Felichia.
"Jangan berdiri terlau lama, dan duduklah, Mel!" Ucap Dean pada Melanie seraya membimbing istrinya tersebut ke kursi roda.
"Aku tidak mau!" Tolak Melanie menyentak cekalan tangan Dean di lengannya.
"Mel, ada apa?" Tanya Dean bingung.
"Kau itu yang kenapa? Felichia pingsan dan aku menyuruhmu untuk menolongnya tapi kau malah diam saja! Keterlaluan kamu, Dean!" Cecar Melanie merasa kesal pada sang suami.
"Sudah ada maid yang menolongnya," jawab Dean tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Melanie benar-benar tak paham dengan sikap Dean yang seolah benci pada Felichia.
"Jika sekarang aku memintamu untuk memindahkan Felichia ke kamar, apa kau juga akan menyuruh para maid yang melakukannya?" Tanya Melanie dengan nada emosi.
"Ya! Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak mau menyentuh wanita itu lagi? Kau yang selalu memaksaku untuk menyentuhnya!" Jawab Dean mencari pembenaran.
"Tidak usah pura-pura kuat atau baik-baik saja, Mel! Hatimu juga pasti terluka saat aku bersama dengan wanita itu, kan? Aku sedang berusaha menjaga hatimu agar-"
"Tidak usah sok tahu!" Sergah Melanie memotong kalimat Dean.
"Itu sudah kesepakatan kita berdua, Dean!" Lanjut Melanie yang sudah berurai airmata.
Dean buru-buru meraup istrinya tersebut ke dalam pelukan.
"Baiklah sudah cukup! Aku minta maaf," ucap Dean yang nada bicaranya terdengar bersalah kali ini.
"Maaf karena aku sudah membentakmu dan berbicara keras padamu," ungkap Dean lagi yang semakin merasa bersalah.
"Minta maaflah juga pada Felichia!" Ujar Melanie yang sudah mengangkat kepalanya dari pelukan Dean dan menatap pada suaminya tersebut.
Melanie menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Dean merasa keberatan.
"Karena kau tidak menolongnya saat dia pingsan tadi, Dean!" Jawab Melanie yang sepertinya akan kembali emosi.
"Ck! Sudahlah, Mel! Kita hentikan perdebatan konyol ini!" Ucap Dean merasa frustasi.
Melanie baru saja akan membalas lagi, namun sapaan dokter yang sudah tiba di kediaman Alexander, membuat wanita itu mengurungkan niatnya.
Melanie kembali menghampiri Felichia yang sudah mulai sadarkan diri, setelah seorang maid mengusapkan minyak kayu putih di leher dan hidung wanita tersebut. Dokter juga sudah mulai memeriksa Felichia dan Melanie ikut menyimak penjelasan dokter tentang sakitnya Felichia.
Sementara Dean sudah menghilang tak tahu rimbanya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1