Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
TERPAKSA BERBOHONG


__ADS_3

"Aku baik-baik saja, Erlan!" Ucap Navya bersungguh-sungguh pada Erlan yang terus menuntunnya.


Setelah pura-pura pingsan di depan toilet tadi, Navya memang tak langsung bangun dan memberi kesempatan sampai Felichia berjalan agak jauh dari toilet. Namun Erlan yang menyusul Navya malah mengira Navya pingsan sungguhan dan pria itu kini begitu khawatir.


"Kau sakit? Kenapa bisa mendadak pingsan?" Tanya Erlan yang masih khawatir seraya menyentuh leher dan dahi Navya untuk memeriksa suhu.


"Aku baik-baik saja, oke! Kita langsung pulang, ya!" Ajak Navya memaksa.


"Baiklah! Sebaiknya kita memang pulang sekarang," jawab Erlan yang tetap merangkul Navya. Dua orang itu segera menuju ke area parkir yang berada di depan Mall.


"Tunggu! Dimana mobil kamu, Nav?" Tanya Erlan bingung karena tak mendapati mobil merah Navya yang tadi ia parkir di depan Mall.


"Ada di restoran sebelah. Ayo!" Navya menarik tangan Erlan dan mengajak pria itu berjalan ke arah restorant yang bersebelahan dengan mall.


"Kau memindahkannya?" Tanya Erlan bingung.


"Iya," jawab Navya sekenanya yang terus berjalan ke area parkir restorant. Mobil merah Navya masih terparkir di halaman restorant seafood tersebut.


"Masuklah ke mobil duluan, Erlan!" Ucap Navya seraya melepaskan genggaman tangan Erlan.


"Kau mau kemana memangnya?" Tanya Erlan tak paham.


"Aku akan ke..." Navya mengedarkan pandangannya ke sekeliling resto ddmi mencari alasan kemana ia akan pergi.


Navya tak mau mengganggu momen pertemuan Erlan Dan Felichia yang sudah berbulan-bulan terpisah.


"Aku akan ke toilet di dalam resto," ucap Navya akhirnya karena tak menemukan alasan lain.


"Ya, aku kebelet," ucap Navya sekali lagi sambil pura-pura meringis demi meyakinkan Erlan.


"Baiklah, aku akan menunggumu di mobil." Jawab Erlan seraya mengangguk.


"Tapi kuncinya, Fe?" Tanya Erlan lagi, karena seingat Erlan tadi Navya yang memegang kunci mobil warna merah tersebut.


"Ada di dalam. Aku meninggalkannya di dalam," sahut Navya seraya berlari kd dalam area restoran.


"Ck! Dasar ceroboh!" Decak Erlan yang sudah berjalan santai menuju ke arah mobil. Erlan langsung membuka pintu mobil, dan benar saja memang tidak terkunci seperti kata Navya. Kunci mobil juga tergantungbdi tempatnya membuat Erlan semakin merutuki kecerobohan Navya.


"Navya, kaukah itu?" Suara seorang wanita terdengar dari jok belakang.


tentu saja Erlan kaget karena tak menyangka ada seorang wanita di dalam mobil Navya.


Wanita yang suaranya terdengar tak asing di telinga Erlan.

__ADS_1


Tidak mungkin.


"Navya!" Wanita itu mengangkat kepalanya dan langsung terkejut karena mendapati Erlan yang berada di dalam mobil Navya.


Erlan sama terkejutnya dengan wanita yang mengenakan jaket hitam dan selendang sebagai kerudung tersebut.


"Felichia!" Ucap Erlan yang matanya masih membelalak tak percaya. Buru-buru Erlan membantu Felichia untuk bangkit dari persembunyiannya karena wanita itu terlihat kepayahan. Dan saat itulah Erlan akhirnya melihat perut bulat Felichia yang berusaha ditutupi oleh wanita itu.


"Fe, kau hamil?" Kedua mata Erlan sudah berubah menjadi binar kebahagiaan sekarang. Pria itu berpindah ke jok belakang dan langsung memeluk Felichia dengan erat.


Sepertinya Erlan benar mengira kalau Felichia sedang mengandung anaknya.


Berbeda dengan Erlan yang terlihat bahagia, Felichia justru menangis tersedu-sedu di pelukan Erlan karena ingat pada semua pengkhianatannya terhadap Erlan.


"Kau, kau kemana saja? Kenapa tiba-tiba mengirimiku surat gugatan cerai padahal kau sedang mengandung anakku?" Cecar Erlan bertubi-tubi pada Felichia yang masih menangis tersedu-sedu.


"Surat gugatan cerai?" Felichia menghapus airmatanya dan bertanya dengan terbata-bata pada Erlan.


"Surat gugatan cerai apa maksud kamu, Erlan?" Tanya Feli sekali lagi menatap tak mengerti ke arah Erlan.


"Kau mengirimkan surat gugatan cerai kepadaku," Erlan menatap bingung pada Felichia saat kemudian Erlan menyadari dan ingat satu hal tentang hubungannya bersama Felichia yang tak pernah direstui oleh Papa Panji dan Mama Astri.


Jadi surat gugatan cerai itu pasti juga palsu.


Tapi Felichia sangat tahu kalau Erlan tidak sedang marah pada Felichia melainkan pada orang lain.


Ya,


Orang itu pastilah Mama Astri dan Papa Panji.


"Maafkan aku, Erlan," cicit Felichia seraya mengusap perutnya yang membulat.


Erlan buru-buru meraup Felichia ke dalam pelukannya.


"Jangan pergi pagi, Fe! Jangan pergi lagi!"


"Aku mencintaimu!"


"Aku sangat mencintaimu!" Ucap Erlan seraya menangkup wajah Felichia yang hanya mengangguk-angguk. Erlan kembali memeluk Felichia, saat kemudian tatapan mata Erlan tertumbuk pada Navya yang kini berdiri di luar restorant seperti sedang menunggu sesuatu.


Tak berselang lama, sebuah taksi menghampiri Navya dan wanita itu langsung masuk ke dalam taksi, lalu dengan cepat meninggalkan restoran. Saat itulah, ingatan Erlan tentang hubungannya bersama Navya seolah baru saja kembali.


"Saya terima nikahnya Navya Orlando Binti Johan Orlando dengan mas kawin tersebut tunai!"

__ADS_1


Erlan membeku di tempatnya masih sambil memeluk Felichia saat tiba-tiba dering ponsel di sakunya membuyarkan lamunan Erlan.


[Tadi Felichia mengatakan kalau ia sedang diikuti oleh orang jahat dan dia begitu ketakutan. Bawalah Felichia ke apartemenku saja, Erlan! Itu lebih aman dan tak akan ada yang curiga] -Navya-


[Kau sudah bertanya pada Felichia soal surat gugatan cerai itu] -Navya-


[Felichia tak pernah mengirimkan surat gugatan cerai, Nav! Aku sangat yakin kalau Felichia tak berbohong. Mama dan Papa yang sudah menipuku,] -Erlan-


[Syukurlah kalau begitu. Aku akan bicara pada Abang Matthew lalu mengurus perceraian kita secepatnya. Jaga Felichia dan calon anak kalian] -Navya-


[Navya....]


Erlan membeku dan tak sanggup menulis lanjutan dari pesannya pada Navya. Erlan mencintai Felichia, tapi Erlan juga adalah suami dari Navya. Dan sekarang Navya mengatakan akan berpisah dari Erlan di usia pernikahan mereka yang baru dua bulan.


Ya Tuhan!


Apa yang sudah kau lakukan, Erlan!


Seharusnya kau menyelidiki dulu kebenaran surat gugatan cerai Felichia waktu itu dan tidak buru-buru menikahi Navya.


Tapi kebaikan hati Navya benar-benar sudah membuat Erlan menjadi silau dan Erlan langsung terbawa suasana dengan semua ketulusan hati Navya yang selalu ada di sisinya selama masa pemulihan.


"Erlan," panggil Felichia lirih yang langsung membuat pikiran kalut Erlan menjadi buyar.


"Kau melamun?" Tanya Felichia yang tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Erlan.


"Tidak!" Erlan membenarkan selendang yang dipakai Felichia sebagai kerudung untuk menyamarkan penampilannya.


"Kita pulang ke tempat aman, ya!" Ajak Erlan dengan nada lembut dan Felichia hanya mengangguk setuju.


Erlan segera kembali ke kursi pengemudi, lalu tak butuh waktu lama, mobil merah Navya sudah melaju membelah jalanan kota.


Akhirnya Felichia benar-benar lepas dari istana neraka Dean dan Melanie, meskipun ia harus berbohong pada Erlan.


.


.


.


Ruwet, ya?


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2