Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
TIDAK MUNGKIN


__ADS_3

Tubuh Dean membeku seketika, saat melihat mobil hitam miliknya yang menabrak pagar pembatas jembatan, lalu terbalik berulang kali dan akhirnya berhenti lalu meledak dan membubungkan asap tebal. Kobaran api langsung membuat semua orang menjauhi mobil naas tersebut.


Dean masih mematung di tempatnya. Hatinya seketika mencelos membayangkan Richard yang terpanggang hidup-hidup di dalam mobil tersebut.


Ludah Dean rasanya mengering dan tenggorokannya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.


Richard!


Dean hanya mampu menjerit dalam hati karena kini hatinya terasa sangat sakit seperti diiris sembilu. Dean pernah merasa kehilangan separuh hidupnya saat Melanie pergi untuk selamanya, namun yang ini lebih sakit hingga Dean tak mampu berkata-kata.


Dean hanya menatap kosong pada kobaran api yang kini sudah mulai dipadamkan oleh mobil pemadam yang baru saja tiba.


"Ada dua korban di dalam mobil. Satu dewasa dan satu bayi. Supirnya berhasil kabur."


Ucapan dari tim penyelamat yang berlalu lalang seakan mengembalikan kesadaran Dean.


"Richard!" Dean mulai berteriak histeris dan hendak menghampiri mobil yang sudah hangus terbakar tersebut. Namun Aaron mencegah dengan sigap dan berusaha menenangkan Dean yang terus berteriak-teriak seperti orang gila.


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!"


"Richard! Jangan pergi, Nak!" Dean berteriak semakin keras dan pria itu mengamuk tak terkendali.


Dua kantong jenazah yang membawa dua tubuh yang sudah hangus terbakar dibawa masuk ke dalam ambulans. Dean mengejarnya seperti orang gila sebelum kemudian pria itu jatuh terduduk di atas aspal dan menangis meraung-raung.


"Richard!"


"Anakku!" Dean terus menangis meraung-raung meratapi kepergian Richard yang begitu tragis.


Aaron bergegas menghampiri Dean yang masih menangis meraung-raung dan sedikit menyeret bos-nya itu untuk kembali ke dalam mobil. Dean masih belum berhenti berteriak-teriak seperti orang gila.

__ADS_1


Dean hancur!


Dean benar-benar hancur sekarang karena putra kesayangannya sudah pergi untuk selamanya dari dunia ini meninggalkan Dean dalam kesepian.


Tepat setelah mobil Dean meninggalkan lokasi kejadian, seorang wanita yang mengenakan topi dan kacamata hitam keluar dari taksi seraya menggendong seorang bayi laki-laki yang masih terlelap di dalam dekapannya. Wanita itu memandang licik ke arah mobil Dean yang sudah dengan cepat menghilang di tengah kepadatan lalu lintas.


Bayi laki-laki di dalam dekapan wanita itu mulai menggeliat. Segera wanita tadi menepuk-nepuk punggung si bayi dan mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam taksi.


"Ke bandara kota, Pak!" Ucap wanita tersebut pada supir taksi yang segera mengangguk.


Taksi melaju membelah jalanan kota dan langsung menuju ke bandara kota dan wanita itu semakin mengeratkan dekapannya pada bayi sepuluh bulan yang berada di gendongannya.


"Kenapa harus memakai cara selicik ini, Fe? Kau bisa langsung membawa pergi Richard dan Abang Matthew pasti akan membantumu," tukas Erlan merasa keberatan dengan ide yang baru saja dipaparkan Felichia untuk menghancurkan Dean.


"Lalu Dean akan menemukan aku dan Richard. Lalu pria itu akan kembali merampas Richard dariku," mata Felichia sudah berkaca-kaca dan wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau berpisah lagi dari anakku," lanjut Felichia menatap bergantian ke arah Erlan, Tuan Matthew, dan Nona Melody yang berada di hadapannya.


"Dean tidak akan berhenti mencari sebelum menemukan aku dan Richard," Felichia menyeka dengan cepat airmata yang jatuh di kedua pipinya sebelum wanita itu lanjut memaparkan alasannya.


"Aku tak mau lagi hidup dalam ketakutan. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Richard tanpa perlu takut Dean akan menemukan kami berdua."


"Lagipula, jika Dean mengira aku dan Richard sudah tewas dalam kecelakaan itu, pria itu tak akan pernah mencari aku dan Richard lagi." Lanjut Felichia memaparkan alasannya.


"Dan aku pikir, hukuman ini sangat pantas untuk Dean yang pernah secara licik merebut Richard dariku dan memisahkan kami berdua selama berbulan-bulan." Felichia kembali menyeka airmatanya.


"Jika Dean bisa melakukan sebuah perbuatan licik, maka aku juga bisa melakukannya," Pungkas Felichia yang kembali menatap pada semua orang yang sejak tadi hanya diam mendengar penjelasan dan penuturan Felichia.


"Aku setuju dengan gagasanmu, Fe!" Ucap Tuan Matthew yang paling dukuan mendukung Felichia. Pria itu meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang dan meminta untuk menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan.

__ADS_1


"Dean akan sangat hancur," gumam Erlan seraya menatap pada Felichia.


"Dia pantas mendapatkannya, Erlan," tegas Felichia yang langsung membuat Erlan mengangkat kedua tangannya.


"Aku mendukungmu sepenuhnya, Fe!" Ucap Erlan pada akhirnya.


Felichia mengangguk samar dan tersenyum tipis pada mantan suami yang kini menjadi temannya tersebut.


****


Taksi yang ditumpangi Felichia dan Richard terus melaju membelah jalanan kota menuju ke arah bandara. Felichia mengusap lembut kepala Richard yang kembali menggeliat di dalam dekapannya.


"Selamat menikmati kehancuranmu yang sesungguhnya, Dean!"


"Aku dan Richard akan hidup tenang di kota yang jauh darimu dan dari bayang-bayang kesombonganmu itu!"


"Kau pantas menerima semua pembalasan ini!"


.


.


.


Masih kurang setimpal, nggak?


Nanti othor tambahin kalau kalian masih belum puas.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2