Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
DARIMANA?


__ADS_3

"Dean, kau sudah pulang?" Sapaan lembut dari Melanie yang baru tiba di rumah, langsung membuat Dean yang tadinya marah-marah pada kepala maid, buru-buru menghampiri Melanie.


"Kau darimana, Mel?" Tanya Dean yang wajahnya terlihat khawatir sekali.


"Menemani Mama ke acara arisan," jawab Melanie seraya meraih tangan Dean dan menggenggamnya denagn lembut.


"Kenapa tidak bilang?" Dean menatap Melanie dengan tidak senang.


"Iya, maaf! Mama menghubungiku mendadak, dan aku pikir aku akan sampai di rumah sebelum kau pulang untuk makan siang," tutur Melanie menjelaskan pada Dean seraya meringis.


Dean hanya menghela nafas dan segera memeluk serta mencium puncak kepala istrinya tersebut.


"Kau pulang lebih cepat?" Melanie berbasa-basi pada Dean.


"Ya! Meeting berjalan dengan cepat dan lancar tadi." Jawab Dean seraya mendorong kursi roda Melanie ke arah ruang makan.


"Felichia kemana? Dia tidak turun untuk makan siang?" Tanya Melanie celingukan mencari keberadaan Felichia yang selalu menolak makan bersama Dean dan Melanie.


"Tadi wanita itu baru pulang dan langsung naik ke kamarnya," jawab Dean dengan nada malas.


"Namanya Felichia, Dean! Berhentilah menyebutnya dengan wanita itu, wanita tadi!" Melanie kembali mengingatkan Dean dan sedikit merasa kesal.


Dean terkekeh.


"Baiklah! Jangan marah-marah begitu! Kau cantik sekali hari ini memakai gaun ungu itu," puji Dean sedikit bergombal pada sang istri.


"Teman-teman Mama mencercamu tadi?" Tanya Dean selanjutnya merasa khawatir.


"Soal?" Melanie mengernyit tak paham.


Hidangan makan siang sudah mulai disiapkan oleh para maid di atas meja makan.


"Momongan. Bukankah mereka selalu pamer cucu saat acara kumpul-kumpul?" Tanya Dean dengan nada sinis.


"Mana ada! Mereka membahas koleksi berlian baru hari ini," jawab Melanie sedikit terkekeh.


"Benarkah?" Dean meneguk air putih di gelasnya seraya menautkan kedua alisnya.


"Ada mama yang selalu membelaku, Dean! Kenapa kau khawatir begitu!" Tukas Melanie akhirnya berkata jujur soal pembahasan cucu di acara arisan.


"Mama bilang apa ke mereka?" Tanya Dean penasaran.


"Kita sedang program hamil, jadi itulah mengapa aku duduk di atas kursi roda," jawab Melanie seraya mengulas senyuman kecut.


Dean mendekatkan kursinya ke arah Melanie dan meraih tangan istrinya tersebut.


"Abaikan saja apa kata orang-orang di luaran sana!" Nasehat Dean pada Melanie.

__ADS_1


"Ya!" Melanie hanya mengangguk-angguk dan kedua matanya sudah berkaca-kaca sekarang.


"Aku mencintaimu, Mel! Mama dan Papa juga menyayangimu," ucap Dean lagi penuh kesungguhan.


"Aku tahu!" Melanie menyeka butir bening di sudut matanya.


"Jangan sedih lagi!" Dean ikut menyeka airmata di wajah Melanie.


"Kau akan segera memberikan cucu untuk mama dan papa, dan semua ini akan segera berakhir," tutur Melanie yang sedang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri.


"Kita!" Dean mengoreksi kalimat Melanie.


Melanie menatap tak mengerti pada kecua netra suaminya.


"Kita yang akan memberikan cucu untuk Mama dan Papa. Itu adalah anak kita!" Ucap Dean seraya meraup Melanie ke dalam pelukannya.


Melanie hanya diam dan tak berucap sepatah katapun. Mau ditilik dari segi manapun, itu tetaplah bukan anak Melanie. Karena yang mengandung dan melahirkan adalah Felichia. Tidak ada sedikit pun unsur Melanie di dalam darah daging bayi itu kelak.


Hhhh!


Menyakitkan sekali!


Dering dari ponsel Dean mengakhiri pelukan Dean Melanie, beserta lamunan Melanie. Dean segera mengangkat ponselnya dan berbicara di telepon entah dengan siapa. Sepertinya rekan kerja.


Melanie memilih untuk mengambilkan makan siang untuk Dean dan dirinya sendiri. Istri Dean itu juga memanggil salah satu maid dan menyuruhnya untuk mengantarkan makan siang Felichia ke kamar.


Sepertinya Felichia lebih nyaman menikmati makanannya di kamar ketimbang di ruang makan bersama Dean dan Melanie.


"Lusa aku harus ke luar kota. Ada sedikit urusan," jawab Dean seraya menatap pada Melanie.


"Berapa lama?" Tanya Melanie menyelidik.


"Mungkin dua sampai tiga hari. Aku akan langsung pulang setelah urusan selesai," janji Dean seraya menggenggam tangan Melanie.


"Kau harus melakukannya lagi bersama Felichia sebelum pergi kalau begitu," ucap Melanie tiba-tiba yang sontak membuat Dean membelalak tak percaya.


"Tapi aku sudah melakukannya tadi malam, Mel! Aku tidak mau menyentuh wanita itu berulangkali!" Tolak Dean sedikit emosi.


"Felichia! Bisakah kau berhenti menyebutnya wanita ini itu dan mulai memanggil namanya dengan benar?" Tegur Melanie yang ikut-ikutan emosi saat mengingatkan Dean.


"Aku tidak bisa!" Jawab Dean kesal seraya membanting sendoknya. Mirip Dean bocah saat sedang merajuk.


"Dan aku tak mau menyentuhnya lagi!" Sambung Dean masih kesal.


"Kalau Felichia belum hamil, maka kau harus mengulanginya lagi bulan depan, Dean! Kau mau hal itu terjadi?" Melanie mengingatkan Dean sekali lagi.


Dean mematung.

__ADS_1


"Mengulanginya?"


"Maksudmu aku harus menyentuh Felichia lagi bulan depan?" Dean tertawa kaku seolah tak percaya dengan penjelasan Melanie.


"Tentu saja! Jika kau hanya menyentuh Felichia satu kali, kemungkinan Felichia untuk hamil juga sangat kecil. Dan jika bulan depan Felichia belum hamil, maka kau harus terus mengulanginya sampai Felichia hamil!"


"Bukankah kesepakatan kita seperti itu?"


"Atau kau mau mencari wanita lain lagi, atau menikah dengan wanita pilihan Papa?" Cecar Melanie yang sudah berurai airmata.


Ada tatapan tak rela di kedua netra istri Dean tersebut.


Dean menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung mendekat ke arah Melanie, lalu memeluk istrinya tersebut.


"Felichia sedang dalam masa subur saat ini, Dean! Jadi kalian harus melakukannya sesering dan sebanyak mungkin," suara Melanie tercekat di tenggorokan.


Dean bahkan bisa merasakan sakitnya hati Melanie saat mengucapkan kalimat tersebut.


Ya!


Wanita mana yang rela suaminya menyentuh wanita lain?


Sekalipun di bibir ia berkata rela dan baik-baik saja, tapi hatinya tetap tidak mungkin baik-baik saja.


"Kau tidak akan perlu lagi menyentuh Felichia jika dia sudah hamil," lanjut Melanie lagi yang masih bersembunyi di dalam dekapan Dean.


"Baiklah! Aku akan melakukan lagi sebelum aku pergi." Dean bersimpuh di depan lutut Melanie.


"Tapi aku melakukan semua itu atas permintaanmu! Aku hanya ingin memenuhi semua permintaanmu! Kau senang sekarang?" Dean berucap seolah sedang kesal pada Melanie, padahal Melanie sangat tahu kalau Dean sebenarnya hanya berkelakar.


"Habiskan makan siangmu, atau aku perlu menyuapimu?" Melanie sudah tersenyum dan menangkup gemas wajah Dean.


"Suapi aku!" Pinta Dean manja.


"Dasar manja!" Melanie mengecup singkat bibir Dean.


"Pelit sekali!" Gerutu Dean seraya menarik kembali kepala Melanie lalu melanjutkan kecupan mereka yang hanya singkat tadi.


"Dean!" Melanie berusaha berontak, namun seperti biasa semuanya hanya sia-sia.


Dasar Dean genit!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2