Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
KETAHUAN


__ADS_3

"Dia sudah tidur?" Tanya Felichia seraya mengecek Naka yang masih berada di dalam gendongan Dean.


Sedangkan Richard dan Gika sudah langsung tidur setelah Felichia suapi. Kedua putra Felichia itu sepertinya memang sudah ngantuk berat saag tadi bermain sendiri di halaman rumah.


"Sudah sejak tadi. Badannya juga sudah tidak demam," jawab Dean setelah memeriksa suhu tubuh Naka.


"Biar aku pindahkan ke kamar," Felichia hendak mengambil alih Naka dari gendongan Dean, namun Dean menolak.


"Biar aku saja, dimana kamarnya?" Tanya Dean seraya menatap pada Felichia.


"Di sana!" Felichia menunjuk ke arah kamar dimana tadi wanita itu menidurkan Richard dan Gika.


Felichia membuka pintu kamar, dan Dean mengekori Felichia masuk ke dalam kamar, hanya ada satu kasur ukuran paling besar di dalam kamar tersebut, dan letaknya juga di bawah tanpa ranjang.


"Tidak ada ranjang?" Tanya Dean spontan.


Felichia tertawa kecil,


"Terlalu berisiko jika memakai ranjang. Anak-anak bisa jatuh dan cedera, jadi aku cari aman saja," jawab Felichia.


Felichia sudah selesai menyiapkan tempat untuk Naka, tepat di samping Richard. Segera Felichia membantu Dean melepaskan simpul di gendongan dan Dean meketakkan Naka dengan hati-hati agar bocah itu tidak terbangun.


Duarrr!


Tepat saat Dean selesai membaringkan Naka, petir tiba-tiba menyambar mengiringi hujan deras yang mengguyur bumi. Listrik di rumah juga padam seketika, karena sepertinya petir mengenai jaringan kabel listrik. Tapi untunglah hari belum gelap, jadi Felichia tak perlu kelabakan mencari lampu emergency.


"Kau tadi sudah makan, Dean?" Tanya Felichia seraya mengekori Dean keluar dari kamar, meninggalkan anak-anak yang sudah terlelap.


"Sudah. Tadi aku makan siang bersama klien sebelum ke sini."


"Kau sendiri?" Dean balik bertanya pada Felichia dan sedikit merasa khawatir.


"Be-" Felichia belum menyelesaikan jawabannya saat wanita itu sudah menguap lebar.


"Maaf," Felichia tertawa kecil dan sedikit tersipu malu.


"Kau terlihat lelah, Fe! Apa tidak sebaiknya kau istirahat juga bersama anak-anak?" Saran Dean menatap trenyuh pada Felichia yang wajahnya terlihat lelah.

__ADS_1


Ya,


Ibu mana yang tak kelelahan jika harus mengurus tiga balita sendirian, lalu masih disambi menjaga toko.


"Aku akan makan dan mandi sebentar."


"Biar aku yang menjaga anak-anak," tawar Dean sekali lagi pada Felichia.


"Mereka jarang terbangun saat tidur siang. Tapi, baiklah jika kau ingin menjaga mereka." Felichia sedikit salah tingkah dan tangannya menunjuk ke arah sofa di depan kamar.


"Duduk saja disini dan aku tak akan lama," ujar Felichia sebelum wanita itu menghilang ke arah ruang makan yang menyatu dengan dapur.


Dean duduk di sofa yang tadi ditunjuk oleh Felichia dan mulai sibuk dengan ponselnya.


****


Felichia sudah selesai mandi dan makan siang yang amat sangat terlambat. Wanita itu kembali ke ruang tengah dan langsung mendapati Dean yang sudah tertidur di sofa.


Ya ampun!


Felichia segera mengambil selimut dari kamar, membentangkannya untuk menyelimuti tubuh Dean. Felichia menatap sejenak pada wajah Dean yang kini lebih ramah dan murah senyum. Pria itu juga terlihat bahagia saat berada di dejat ketiga anaknya.


Felichia tersenyum sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala. Setelah mengunci pintu depan, Felichia masuk ke dalam kamar menyusul anak-anak. Mungkin Felichia akan tidur dulu satu jam sebelum mulai memasak untuk makan malam.


****


"Mom!" Naka menepuk-nepuk pipi Felichia yang masih terlelap.


"Mom, haus!" Ucap Naka lagi masih menepuk-nepuk pipi dan wajah Felichia.


"Hmmmm?" Felichia segera membuka matanya, saat mendapati langit di luar kamar yang hampir gelap.


Ya ampun!


Felichia tidur berapa lama?


"Mom, haus!" Ucap Naka lagi yang langsung membuat Felichia buru-buru meraih botol berisi air putih di atas meja kecil di kamar, lalu mejbukanaya dan membantu Naka minum. Felichia memeriksa suhu tubuh Naka sekali lagi, dan syukurlah bocah itu sudah tidak demam lagi.

__ADS_1


"Mom, om Dean," celoteh Naka yang memang bicaranya baru bisa satu dua kata.


"Om Dean di depan. Sedang bobok," jawab Felichia yang langsung bisa menangkap apa yang hendak ditanyakan Naka meskipun bocah itu hanya mengucapkan satu atau dua kalimat.


"Om Dean!" Ucap Naka lagi.


"Baiklah, ayo kita lihat!" Felichia bangkit berdiri dan menggendong Naka.


"Kalau Om Dean masih bobok, Naka memasak dulu di dapur sama Mom, ya! Kalau Km Dean udah bangun, nanti Naka main sama Om Dean," ujar Felichia membuat kesepakatan, dan Naka langsung mengangguk.


Felichia membuka pintu kamar perlahan, agar Richard dan Gika yang masih terlelap tidak terganggu. Dean sudah tidak terlihat di sofa dan hanya tertinggal selimut saja.


Apa mungkin Dean sudah pulang saat Felichia tidur tadi?


Namun dugaan Felichia langsung terbantahkan, saat Felichia samar-samar mendengar Dean yang sepertinya sedang bicara dengan seseorang dari arah dapur yang menyatu dengan ruang makan.


Felichia hendak menghampiri Dean, namun kalimat yang diucapkan Dean yang ternyata sedang menelepon seseorang seketika membuat Felichia membeku dan mengurungkan niatnya untuk menyapa Dean.


"Iya, Felichia tahunya aku masih pikun dan amnesia. Jadi aku tetap akan berpura-pura menjadi pikun dan amnesia, sampai aku berhasil meluluhkan hatinya."


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, Felichia mungkin akan pergi lagi membawa anak-anak. Aku tidak mau hal itu terjadi! Aku tidak mau berpisah dengan anak-anakku lagi, Aaron!"


"Jadi aku akan tetap berpura-pura hilang ingatan seperti saat ini saja."


Pura-pura hilang ingatan?


Apa itu artinya, Dean sudah membohongi Felichia selama satu pekan ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2