
"Dean, soal proyek di kota S. Bagaimana?" Tanya Aaron sekali lagi saat ia dan Dean baru selesai meeting.
"Apanya yang bagaimana? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi?" Jawab Dean sedikit menggertak pada Aaron.
Aaron menarik nafas panjang berulang kali dan mengumpulkan kesabarannya yang mungkin tercecer di antara ruang rapat dan ruangan Dean. Padahal tadi Aaron sudah menjelaskan, dan sekarang Aaron harus menjelaskan lagi pada tuan mudanya yang mudah pikun ini.
"HPL Claudia minggu ini, Dean! Aku tidak bisa pergi!" Ucap Aaron dengan nada tegas.
"Claudia istrimu?" Tanya Dean yang lagi-lagi lupa pada Claudia.
Semoga tuan muda ini tak buru-buru memutuskan untuk menikah. Aaron khawatir Dean akan lupa pada nama istrinya sendiri jika dia menikah dalam waktu dekat.
"Iya, Claudia istriku, dia sedang hamil, dan HPL-nya minggu ini. Jadi aku harus menjadi suami siaga yang-"
"Biar aku yang pergi kalau begitu!" Sahut Dean memotong kalimat Aaron.
"Dan kau tidak perlu juga menjelaskan semuanya sedetail itu, Aaron!"
"Aku juga mengerti kalau istri hendak melahirkan, suaminya itu harus menjadi suami yang siaga. Apa kau pikir aku ini pria bodoh?" Cecar Dean sedikit bersungut pada Aaron, sebelum tuan muda pikun menyebalkan itu mendorong pintu ruangannya dan langsung masuk ke dalam meninggalkan Aaron yang ingin menggigit pintu atau mungkin meja di kantor ini.
"Ya! Kau memang bukan pria bodoh, Dean Alexander! Kau itu hanya pikun!" Teriak Aaron dalam hati.
****
Dean duduk diam di dalam mobil yang baru saja menjemputnya dari bandara kota. Pemandangan di kota yang saat ini Dean kunjungi, berbeda dengan kota tempat tinggal Dean.
Dean memang belum pergi kemana-mana setahun terakhir karena ia harus menjalani pemulihan serta pengobatan. Kata Aaron, Dean baru saja kehilangan kedua orang tuanya, istri, sekaligus anaknya saat mereka sedang berlibur ke Eropa. Aaron juga pernah membawa Dean ke makam mereka semua. Meskipun tak banyak yang Dean ingat tentang semua keluarganya yang sudah meninggal, namun Dean tetap rajin berkunjung ke makam mereka setelahnya untuk memberikan bunga atau sekedar mendoakan mereka.
Dean juga tidak tahu, kenapa banyak memorinya di tahun-tahun sebelumnya yang ia lupakan. Padahal kalau menyangkut pekerjaan, otak Dean cepat sekali mengingatnya.
Aneh sekali!
Saat ini, Dean hanya berusaha menjalani hidup yang lebih baik dan bekerja keras di perusahaan yang kata Aaron adalah peninggalan kedua orang tuanya.
Dean masih memanjakan matanya dengan pemandangan kota yang asri dan sejuk, saat mobil yang ditumpangi oleh Dean terasa melambat dan terdapat sedikit kerumunan di jalan di depan mobil Dean.
"Ada apa, Pak?" Tanya Dean pada supir yang duduk di depan.
"Sepertinya ada kecelakaan, Tuan!" Jawab Supir menerka-nerka. Mobil Dean tetap melaju perlahan melewati kerumunan warga yang sepertinya baru saja menolong korban kecelakaan yang sudah tak terlihat lagi. Mungkin memang sudah dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Disaat Dean sedang memikirkan soal korban kecelakaan, ponsel pria itu mendadak berbunyi. Aaron menelepon.
"Halo!" Jawab Dean cepat.
"Dean, klien yang akan bertemu denganmu hari ini tidak bisa hadir karena mendadak harus dirawat di rumah sakit. Nanti aku akan mengatur ulang jadwal lertemuanmu dengan pengganti beliau."
"Sakit apa dan dirawat dimana?" Tanya Dea peduli.
"Dia sedang sakit, Dean! Jangan mengunjunginya dan membahas bisnis di rumah sakit."
"Aku hanya ingin menjenguknya sebagai sesama rekan bisnis. Dan aku tak akan membahas bisnis. Bukankah katamu aku harus jadi orang baik dan peduli pada sesama?" Sergah Dean menyangkal tuduhan Aaron yang selalu mengira Dean adalah pria yang ambisius soal pekerjaan.
"Iya, memang harus begitu."
"Kalau begitu beritahu aku rumah sakitnya dimana!" Perintah Dean sekali lagi pada Aaron dengan nada memaksa.
"Akan aku tanyakan dulu. Nanti aku kirimkan alamatnya dan nomor kamarnya."
"Baiklah, aku tunggu!" Pungkas Dean sebelum menutup telepon.
Ddan kembali menikmati pemandangan kota di sepanjang jalan yang dilalui oleh mobilnya. Pesan dari Aaron masuk ke ponsel Dean beberapa menit kemudian berisi sebuah alamat rumah sakit. Dean segera menunjukkan ke supirnya dan mampir sebentar untuk membeli buah tangan sebelum pria itu menuju ke rumah sakit untuk menjenguk rekan bisnisnya yang sakit.
Tapi Dean hanya ingin menjadi orang baik sekarang.
****
Selesai menjenguk klien bisnisnya yang sakit, Dean berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit. Pria itu hampir mencapai pintu utama rumah sakit saat samar-samar Dean mendengar seorang wanita yang sedang berdebat dengan seorang perawat.
"Tapi darah golongan itu benar-benar sedang kosong, Bu! Silahkan mencari donor dari saudara atau teman-teman terdekat."
"Tapi anak saya sedang sekarat, Suster!" Wanita itu terlihat frustasi.
"Silahkan Ibu hubungi teman-teman terdekat Ibu dulu atau saudara, atau mungkin golongan darah ibu sama-"
"Golongan darah saya bukan AB!" Jawab wanita itu menyela kalimat saran dari suster.
"Bagaimana dengan suami anda? Atau mungkin kakek dan neneknya. Kami akan membantu semaksimal mungkin. Tapi Ibu tetap harus mencari donor secepatnya!" Pungkas suster sebelum pergi meninggalkan wanita yang kini terduduk lesu di kursi tunggu rumah sakit.
Dean yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perdebatan suster dan wanita tersebut sedikit tersentak karena getar dari ponselnya. Aaron menelepon lagi.
__ADS_1
"Dean, kau sudah selesai menjenguk klien-mu?"
"Aaron. Apa golongan darahku?" Bukannya menjawab pertanyaan Aaron, Dean malah melontarkan pertanyaan tak nyambung pada sekretarisnya tersebut.
"Apa? Kenapa malah bertanya golongan darah? Kau mau donor darah?" Terdengar gelak tawa Aaron dari seberang telepon.
"Ya! Ada yang sedang butuh darah AB untuk anaknya yang sekarat. Apa golongan darahku AB?" Tanya Dean sekali lagi pada Aaron.
"Ya! Silahkan jadi orang baik dan selamatkan anak yang sekarat itu, Dean!" Saran Aaron yang masih tergelak di ujung telepon.
"Aaron, aku serius!" Gertak Dean galak.
"Golongan darahmu AB, Dean! Aku tidak bercanda."
"Baiklah, terima kasih! Kirimkan saja jadwalku lewat pesan!" Pungkas Dean sebelum menutup telepon.
Dean buru-buru menghampiri wanita yang masih tertunduk di kursi tunggu tadi.
"Nona, maaf!"
"Golongan darah saya AB, apa saya bisa menjadi pendonor untuk anak anda?" Dean menyapa sekaligus bertanya to the point.
Wanita itu sontak mengangkat wajahnya dan bola matanya langsung membulat hingga mungkin nyaris melompat keluar hanya karena melihat wajah Dean.
Apa wajah Dean terlihat aneh dan mirip alien?
"Dean?" Gumam wanita itu yang hanya membuat Dean mengernyit.
"Anda tahu nama saya?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1