
"Kembar, Dok?" Tanya Dean penuh harap saat dokter masih menggerakkan doppler USG di atas perut Felichia.
"Tunggal," jawab Deannyang langsung membuat Felichia tertawa.
"Masa, sih?"
"Coba di periksa lagi, Dok! Mungkin kembaraannya sembunyi," pinta Dean yang masih berharap anak keempatnya kembar lagi.
"Sudah, Dean!" Felichia mengusap-usap lengan Dean dan minta Dean untuk tak terlalu lebay.
"Memang tunggal, Pak. Bukan kembar. Plasenta hanya satu, kantung hanya satu, dan janinnya juga satu," jelas Dokter panjang lebar yang langsung membuat Dean sedikit kecewa.
Namun hanya sesaat, karena setelahnya Dean kembali tersenyum melihat makhluk kecil yang berada di dalam perut Felichia tersebut.
"Jenis kelaminnya bagaimana, Dok?" Tanya Dean lagi akhirnya.
"Sementara belum terlihat, Pak! Nanti di usia 18-20 minggu kita bisa melihatnya lagi," terang dokter yang langsung membuat Dean mengangguk.
"Semoga yang ini princess cantik seperti dirimu," bisik Dean penuh harap seraya mengecup kening Felichia.
"Aaamiin!" Gumam Felichia yang langsung mengaminkan ucapan Dean.
Dean membantu Felichia untuk bangun, lalu pasangan suami istri itu lanjut duduk dibdepan meja dokter untuk berkonsultasi.
"Ada mual dan muntah?" Tanya Dokter.
"Ada!"
"Tidak!"
Felichia dan Dean menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda, sebelum keduanya tertawa bersama.
"Maksudnya, saya tidak mual dan muntah, Dok! Tapi suami saya yang mual dan muntah seperti ibu hamil yang sedang mengalami morning sickness." Jelas Felichia menerangkan pada Dokter yang akhirnya ikut tertawa kecil.
"Sebagian pasangan suami istri memang seperti itu. Syndrome kehamilan simpatik namanya," terang dokter seraya menulis resep.
"Tapi saya tidak bisa meresepkan obat antimual untuk Bapak, karena kebanyakan tak berpengaruh apa-apa," sambung dokter lagi seraya mengulurkan kertas resep pada Felichia.
"Benar itu, Dok! Saya memilih menikmatinya saja sebagai calon Dad yang baik," jawab Dean diplomatis yang langsung membuat Dokter dan Felichia tertawa.
"Itu resep vitamin dan tetap saya resepkan antimual untuk berjaga-jaga." Ujar Dokter selanjutnya pada Felichia yang hanya mengangguk-angguk.
"Selamat sekali lagi untuk Bapak dan Ibu." Dokter menyalami Felichia dan Dean sebelum pasangan suami istri itu meninggalikan ruang periksa di poli kandungan.
Keduanya langsung menujuu ke apotek untuk mengambil obat.
****
"Halo!" Jawab Dean setelah mengangkat telepon dari Aaron.
"Dean, kau ingat pada jadwalmu hari ini, kan?"
"Jadwal yang mana? Aku masih di rumah sakit mengantar Felichia check up kandungan," tanya Dean to the point.
"Felichia sudah hamil lagi?"
Terdengar siulan dari Aaron di seberang telepon.
"Selamat, Tuan Muda dan Nona Muda yang sebentar lagi akan punya kesebelasan sepak bola!"
Aaron ganti tergelak di ujung telepon.
__ADS_1
"Jadi jadwalku apa hari ini?" Tanya Dean sekali lagi seraya berdecak.
Dean membukakan pintu mobil untuk Felichia masih sambil bicara pada Aaron via telepon.
"Bermain golf, Dean! Sambil membahas bisnis. Aku jemput ke rumah sekarang?"
"Aku pergi sendiri. Kita bertemu di lokasi. Aku akan mengantar Felichia pulang dulu." Ucap Dean yang sudah menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Baiklah, calon Dad beranak banyak! Selamat pagi!"
Telepon terputus.
Dean menyimpan ponselnya dan menatap pada Felichia yang sedang tersenyum.
"Ayo kita pulang, Dean! Bukankah kau ada acara?" Ajak Felichia mengingatkan sang suami.
"Baiklah, Istriku!" Dean mengusap perut Felichia sebentar sebelum melajukan mobil sportnya dan meninggalkan kawasan rumah sakit.
Tanpa supir, tanpa bodyguard!
Dean menikmati pergi kemana-mana berdua saja bersama Felichia seperti ini.
Atau kadang berlima bersama anak-anak saat Dean sedang senggang. Keluarga adalah prioritas utama Dean saat ini.
****
Mobil Dean sudah tiba kembali di kediaman Alexander. Dean turin duluan, dan cepat-cepat membukakan pintu untuk Felichia, lalu membantu istrinya tersebut untuk turun.
"Kau mau makan sesuatu atau aku belikan sesuatu sebelum aku pergi?" Tanya Dean menawarkan pada Felichia.
"Tidak!" Felichia menggeleng.
Felichia memang semakin manja ke Dean belakangan ini, atau lebih tepatnya saat istri Dean ini hamil. Tapi Dean menyukainya.
"Ada apa? Kau mau ikut aku ke lapangan golf?" Tawar Dean lagi pada sang istri.
"Pasti membosankan sekali. Aku akan di rumah saja berenang bersama anak-anak," jawab Felichia menolak tawaran Dean.
"Baiklah!" Dean mengecup bibir Felichia.
"Mom sudah pulang!"
"Dad"
"Mom!"
Teriakan Gika, Naka, dan Richard membuat Dean harus cepat-cepat mengakhiri kecupannya di bibir Felichia. Dean ingin mencecap sedikit lebih lama padahal.
Naka hampir melompat ke gendongan Felichia saat Dean mencegah dengan cepat.
"No!"
"Nggak boleh minta gendong sama Mom dulu! Mom sedang membawa adik bayi di falam perutnya," jelas Dean pada ketiga putranya.
"Tidak apa-apa aku menggendong mereka, Dean!" Felichia yang mengajukan protes langsung mendapat delikan dari Dean.
"Aku tidak mau kau dan calon bayi kita kenapa-kenapa! Jadi stop menggendong Gika, Naka, apalagi Richard," ucap Dean tegas.
"Richard akan punya adek lagi!" Richard sudah menghampiri Felichia dan memeluk Mom-nya tersebut, sebelum kemudian mengusap-usap perut Felichia.
"Cowok lagi, ya, Mom!" Tanya Richard selanjutnya seraya menatap pada Felichia.
__ADS_1
"Mom belum tahu, Sayang!" Jawab Felichia seraya menangkup wajah Richard, yang tampannya sebelas dua belas dengan Dean.
"Richard akan jagain Mom dan adik bayi!" Richard kembali memeluk Felichia dan rasa haru langsung menyeruak di dalam hati Felichia.
Mengingat moment dua tahun yang lalu saat Richard yang juga begitu antusias saat Gika dan Naka lahir. Padahal kala itu, Richard baru genap berusia dua tahun.
"Terima kasih karena Richard selalu menjaga Mom, dan adik-adik," bisik Felichia pada putra sulungnya tersebut. Kedua mata Felichia sudah berkaca-kaca menahan perasaan haru.
Dean yang menyaksikan kedekatan Felichia dan Richard ikut merasa terharu. Pria itu memeluk Gika dan Naka yang berada di dekatnya, sebelum kemudian ponselnya kembali berbunyi.
Aaron!
Selalu saja merusak moment!
"Sebaiknya kau pergi sekarang, Dad Dean!" Ujar Felichia mengingatkan sang suami sambil menyeka butir bening di pelupuk matanya.
Dean mencium si kembar sebelum bangkit berdiri.
"Dad pergi cari uang dulu, biar bisa membelikan Gika, Naka dan Abang Richard mainan yang banyak."
"Oke, Dad!" Gika dan Naka mengacungkan kedua jempol mereka pada Dean yang langsung tertawa.
Gika, Naka dan Richard sudah kembali ke taman bermain mereka di halaman belakang bersama para pengasuh. Kini taman bermain itu juga dilengkapi dengan perpustakaan mini berisi banyak buku untuk anak-anak karena Richard yang sudah mulai tertarik untuk membaca buku bergambar.
Dean ganti berpamitan pada Felichia dan mencium bibir istrinya itu cukup lama.
"Sudah! kau akan terlambat," gumam Felichia yang masih membalas kecupan bibir Dean yang terasa menggairahkan.
"Kau yang tak mau berhenti," Dean balik menyalahkan Felichia.
"Mmmmm!" Felichia akhirnya melepaskan tautan bibirnya pada bibir Dean, lalu wanita itu mengalungkan kedua lengannya di leher Dean.
"Cepatlah pulang, karena aku punya kejutan untukmu nanti," ucap Felichia dengan nada sensual menggoda yang tentu saja membuat Dean sangat penasaran.
"Lingerie-nya warna merah? Atau hitam?"
"Kau lihat saja sendiri nanti!" Jawab Felichia mengerling nakal pada sang suami.
"Aku jadi malas untuk pergi!" Dean mengecup bibir Felichia sekali lagi.
"Kau harus pergi, Dean! Agar kau bisa membelikanku lingerie baru!" Ucap Felichia yang sudah melepaskan lengannya dari leher Dean, bersamaan dengan ponsel Dean yang kembali berdering nyaring.
"Pergilah, sebelum Aaron menyemburkan api dari mulutnya!" Kelakar Felichia sebelum wanita itu meninggalikan Dean dan menyusul anak-anak ke halaman belakang.
Dean hanya geleng-geleng kepala, dan segera pergi lagi memenuhi janji main golf-nya bersama klien.
.
.
.
Untuk adegan selanjutnya mungkin cuma bikin diabetes ðŸ˜ðŸ˜
Kalau bosan langsung info, ya!
Biar langsung bisa aku tamatin. Oke!
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1