Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
CEMBURU?


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, saat Dean dan Melanie turun dari lantai atas. Jangan tanya bagaimana Dean membawa Melanie turun, tentu saja pria itu menggendong istri kesayangannya menuruni tangga.


"Kau sudah datang, Aaron?" Sapa Dean pada Aaron yang sedang duduk sendirian di ruang tengah.


"Ya, kata maid kau dan Melanie sedang honeymoon di atas. Jadi aku tak mau mengganggu." Jawab Aaron seraya mengendikkan bahu.


"Dean, turunkan aku!" Pinta Melanie sedikit berbisik pada Dean.


"Baiklah! Tapi jangan turun dari kursi rodamu!" Jawab Dean mengajukan syarat.


Dean meletakkan Melanie ke atas kursi roda dan sekalian memasang sabuk pengaman di kursi roda agar istrinya itu tidak bolak-balik berdiri.


"Dean, ini konyol!" Protes Melanie merasa tak terima. Wanita itu melepas sendiri sabuk pengaman yang tadi dipasang Dean.


"Jangan dilepas atau aku akan mengurungmu di kamar dan tak mengizinkanmu keluar!" Ancam Dean menuding ke arah Melanie.


"Jangan kekanakan!" Jawab Melanie acuh. Melanie sudah menjalankan kursi rodanya ke arah kamar Felichia.


Sementara Aaron langsung tertawa terbahak-bahak melihat sikap konyol Dean.


"Kau masih saja posesif dan berlebihan pada Melanie, Dean!"


"Apa itu bawaan bayi?" Tanya Aaron yang akhirnya berhenti tertawa setelah Dean mendelik ke arahnya.


"Bayi siapa?" Dean balik bertanya Aaron.


"Bayimu dan Melanie. Aku tadi bertemu dan ngobrol sebentar dengan si rahim pengganti," kedua telunjuk Aaron membentuk tanda kutip.


Aaron bicara dengan Felichia?


Memangnya kapan sekretaris sialan Dean ini tiba?


Sejak pagi?


"Kau bicara dengan Felichia?" Tanya Dean yang suaranya sudah meninggi.


Dean juga tidak tahu kenapa. Tapi hati Dean hanya sedang panas membayangkan Aaron mengobrol bersama Felichia. Atau jangan-jangan sekretaris Dean ini baru saja menggoda Felichia?


"Ya. Hanya basa-basi sedikit karena sepertinya dia seorang pemalu dan introvert," pendapat Aaron yang kembali mengendikkan bahu.


"Dia itu sudah punya suami!" Dean bangkit dari duduknya dan menuding serta memperingat Aaron dengan berbisik agar Melanie tak mendengar.


"Sudah punya su-"


"Kecilkan suaramu, Bodoh!" Dean menarik kerah kemeja Aaron dan mendelik ke arah sekretarisnya tersebut.


Aaron buru-buru mengangkat tangan sebagai tanda menyerah berdebat dengan Dean yang makin hari makin sensitif.


"Jangan coba-coba menggodanya!" Dean melanjutkan peringatannya pada Aaron.


"Aku hanya berbasa-basi, Dean! Kenapa kau sensi-an begitu?" Sergah Aaron merasa heran.


Dean sudah seperti suami Felichia yang cemburu karena Aaron mengajaknya mengobril. Padahal hanya menyapa, menanyakan kabar, dan menanyakan dimana Dean. Atau jangan-jangan suami Felichia itu adalah Dean?


Makanya Dean kebakaran jenggot saat Aaron mengaku mengobrol bersama Felichia.


Dean selalu posesif pada istrinya. Jadi mungkin Felichia itu juga istri Dean, makanya Dean posesif.


Entahlah, ini membingungkan.

__ADS_1


"Kau tidak siap-siap, Dean? Kita harus ke acara perusahaan Orlando," Aaron mengingatkan Dean yang sedang memijit pelipisnya.


Mungkin pening memikirkan dua istri.


"Iya, ini aku baru saja akan mandi. Dasar bawel!" Gerutu Dean seraya bangkit dari duduknya.


Pria itu menghilang dengan cepat ke dalam kamar, dan Aaron memilih untuk menyalakan televisi besar di depannya sembari menunggu Dean bersiap.


****


Melanie masuk ke dalam kamar Felichia , dan langsung mendapati wanita hamil itu yang sedang duduk di ayunan rotan yang berada di kamarnya sambil membaca buku.


"Fe," sapa Melanie yang langsung menutupi bukunya dan menatap pada Melanie.


"Kau sudah makan?" Tanya Melanie seraya mendekat ke arah Felichia.


"Sudah," jawab Felichia.


Melanie semakin mendekat ke arah Felichia, lalu tangannya tiba-tiba terulur untuk mengusap perut Felichia yang sebebenarnya belum terlalu kentara perubahannya.


Masih tiga bulan jalan empat bulan, tentu saja masih terlihat datar. Meskipun sebenarnya juga tidak datar sekali.


"Dia sudah mulai bergerak?" Tanya Melanie yang matanya sudah berkaca-kaca hanya karena mengusap perut Felichia.


Aneh!


"Belum. Belum ada pergerakan apapun," jawab Felichia jujur.


"Hai, Sayang! Mom sudah tak sabar menantikan kamu lahir dan ingin segera menggendongmu," ucapan Melanie sontak membuat Felichia menjadi tertegun.


Mom?


Kenapa Felichia merasa tidak rela?


"Tumbuhlah sehat di dalam sana," ucap Melanie lagi yang malah membuat hati Felichia semakin tidak rela.


Felichia kenapa?


"Mel!" Panggil Dean dari ambang pintu kamar Felichia.


Pria itu sudah terlihat rapi dengan setelan tuksedo warna hitam.


"Kau mau pergi sekarang, Dean?" Melanie sudah memutar kursi rodanya dan menghampiri Dean dengan cepat.


Sementara Felichia sudah langsung memalingkan wajahnya dan pura-pura sibuk dengan buku di tangannya. Felichia memang sedang malas melihat wajah pria menyebalkan bernama Dean itu.


"Kau tadi sedang apa?" Tanya Dean menyelidik.


Dean sesekali melihat ke arah Felichia yang tetap fokus membaca tanpa sedikitpun menatap Dean.


Dasar menyebalkan!


"Menyapa calon anak kita, Dean!" Jawab Melanie dengan wajah berseri.


"Aku sudah tak sabar untuk segera menggendongnya," lanjut Melanie lagi yang sudah ganti mengusap lengan Dean.


"Begitu, ya?" Dean hanya tersenyum kaku dan menatap sekali lagi pada Feli yang masih betah di posisinya semula seperti tak merasa kepo dengan obrolan Dean dan Melanie.


Bagaimana caranya membuat wanita hamil menyebalkan itu menoleh ke arah Dean?

__ADS_1


"Aku langsung pergi, ya!" Dean menunduk dan mencium bibir Melanie cukup lama, berharap Felichia akan menolehkan kepalanya sejenak untuk melihat Dean dan Melanie berciuman, lalu wanita menyebalkan itu akan merasa cemburu.


Masih sambil mencium Melanie, Dean melirik sejenak ke arah Felichia yang tetap fokus ke bukunya.


Dasar brengsek!


Sialan!


Dean tak berhenti mengumpati dalam hati, bersamaan dengan rasa mual yang kembali hinggap di perutnya.


Oh, Dean lupa!


Seharusnya Dean tak mengumpati atau mengatai Felichia sekesal apapun dirinya pada wanita itu.


"Dean!" Melanie yang merasakan suaminya mual-mual langsung mengakhiri pagutan mereka.


Dean berlari masuk ke dalam kamar Feli dan langsung merangsek ke toilet untuk muntah-muntah.


Melanie hanya bisa menghela nafas, sementara Felichia tetap acuh.


"Mel," panggil Felichia akhirnya saat Melanie hendak menyusul sang suami.


"Iya, Fe?"


"Aku boleh makan cilok seperti yang kemarin itu?" Tanya Felichia meminta izin pada Melanie.


"Boleh, tapi minta koki saja yang membuat dan jangan beli di pinggir jalan agar kau tak sakit lagi," jawab Melanie yang langsung membuat Felichia mengangguk paham. Wanita itu sudah beranjak dari atas ayunan.


"Aku akan bilang ke koki," pamit Felichia yang sudah dengan cepat keluar dari kamarnya. Kini tinggal Melanie dan Dean yang sudah selesai muntah-muntah. Dean juga mendengar dengan jelas ngidamnya Felichia yang katanya pengen makan cilok.


Apa itu cilok?


Yang bulat-bulat kenyal disiram saus kacang kemarin itu?


Ah, Dean tiba-tiba juga kadi ingin memakannya lagi.


"Dean, kau masih mual-mual? Minta saja Aaron menggantikanmu ke pesta Matthew dan kau tak usah datang!" Saran Melanie menatap khawatir pada Dean.


"Aku baik-baik saja, Sayang! Aku datang juga hanya sebagai bentuk kepantasan agar Matthew sialan itu tidak menganggap aku pengecut," jelas Dean yang sudah bersimpuh dan mengecup kedua tangan Melanie.


"Aku akan pulang cepat," janji Dean seraya mengecup tangan Melanie sekali lagi.


"Baiklah, Tuan keras kepala!" Decak Melanie seraya menangkup wajah Dean yang menurutnya sangat tampan.


Semoga anak Dean dan Melanie nantinya mirip dengan Dean.


Dean mendorong kursi roda Melanie keluar dari kamar Felichia, saat Dean melihat Aaron yang kembali bicara dengan Felichia di dapur.


Hati Dean kembali dipenuhi amarah namun Dean mencoba menahannya karena masih ada Melanie. Nanti saja Dean memperingatkan sekretaris kurang ajarnya itu.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia

__ADS_1


__ADS_2