Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
INFORMASI


__ADS_3

Dean masih berada di dalam mobil dan menatap pada pagar putih yang menyembunyikan rumah bergaya skandinavian milik keluarga Prakasa. Salah atu anak buah Dean sedang berbincang dengan security rumah tersebut untuk menanyakan keberadaan keluarga Prakasa yang seakan menghilang ditelan bumi dua bulan terakhir.


Tak berselang lama, seorang anak buah yang tadi Dean utus sudah kembali masuk ke dalam mobil untuk memberikan laporan.


"Dapat info mereka dimana?" Tanya Dean cepat.


Sengaja Dean menyuruh anak buahnya untuk memberikan segepok uang pada security agar mau buka mulut. Dean tahu kalau Felichia juga berulangkali mendatangi rumah ini untuk mencari Erlan namun security selalu tutup mulut karena Felichia bodoh itu tidak memberika uang untuk buka mulut.


Ah, sial!


Perut Dean kembali terasa diaduk-aduk hanya karena Dean menyebut Felichia bodoh di dalam otaknya.


Baiklah,


Felichia yang malang!


Puas kau perut!


Dasar sialan!


Dean tak berhenti mengumpat dan marah-marah di dalam hati karena teringat pada kehamilan Felichia yang membuatnya mabuk berat, ngidam, mual muntah tak jelas, hingga kram perut seperti seorang ibu hamil.


Dean bahkan harus mengurangi frekuensi bercintanya bersama Melanie karena mual dan muntah sialan ini. Jika Dean terlalu banyak bercinta, maka mual dan muntah Dean juga akan semakin sering menghinggapinya.


Menyiksa sekali!


Dean tidak akan pernah menghamili seorang wanita lagi setelah ini!


Dasar sialan!


"Mereka berada di salah satu villa milik keluarga Orlando, Tuan," lapor anak buah Dean menjawab pertanyaan Dean yang tadi.


"Villa yang mana?" Tanya Dean lagi semakin menyelidik.


"Security tidak tahu villa yang mana. Mereka hanya menyebutkan yang berada di tengah-tengah perkebunan teh," jelas anak buah Dean itu lagi.


Dean hanya diam dan tak bertanya lagi. Pria itu terlihat sedang berpikir saat tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.


[Panji Prakasa sedang di kantor dan mencarimu sekarang, Dean! Aku rasa dia akan menangis jika kau tak kunjung datang] -Aaron-


Aaron adalah sekretaris sekaligus asisten Dean yang selama dua bulan ini mengambil alih beberapa tanggung jawab Dean di Alexander Group karena kondisi Dean yang tidak memungkinkan untuk datang ke kantor setiap hari. Dean hanya akan datang saat ada meeting penting atau kloennpenting yang berkunjung. Selebihnya Dean bekerja dari rumah dan Aaron yang mengambil alih semuanya di kantor.


Jackpot!


Pesan dari sang sekretaris langsung bisa membuat bibir Dean menyunggingkan senyuman. Akhirnya pasangan tua bangka Prakasa itu merasakan kehancurannya. Salah sendiri mereka membohongi Dean mentah-mentah.


Dean paling tidak suka dibohongi dan paling benci pada seorang penipu!


"Kita ke kantor sekarang!" Titah Dean pada sopir dan anak buahnya yang sejak tadi sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Mobil Dean baru saja putar balik dan hendak meninggalkan kediaman Prakasa, saat Dean melihat mobilnya yang lain yang kini berhenti di depan kediaman Prakasa. Mobil itu yang biasa dipakai mobilitas oleh Felichia saat wanita hamil menyebalkan itu ingin keluyuran dari kediaman Alexander.


Ah, sial!


Kenapa Dean malah mengumpati Felichia lagi?


Dean butuh kantong muntah sekarang.


****


"Tuan, Nyona, dan Tuan Muda masih belum kembali, Nona!" Ucap security yang kembali harus membuat Felichia menghela nafas kecewa.


"Tapi ini sudah lebih dari dua bulan sejak mereka pergi. Apa tidak ada informasi apapun yang kau ketahui tentang mereka?" Tanya Felichia masih berharap.


"Kami sama sekali tidak tahu, Nona. Maaf!" Ucap security itu lagi yang hanya membuat Felichia semakin merasa putus asa.


Felichia menghela nafas dan akhirnya kembali pergi dari kediaman Prakasa tanpa kabar apapun tentang Erlan.


Felichia masih di perjalanan pulang kembali ke kediaman Alexander saat pandangan mata Felichia tertumbuk pada gedung apartemen yang pernah menjadi saksi kemesraan hubungan Felichia dan Erlan. Felichia tak lagi bisa mengunjungi apartemen Erlan karena Mama Astri sudah mengganti password dan mengambil kartu akses yang dimiliki Felichia.


"Cantik!" Puji Erlan seraya merengkuh kedua pundak Felichia yang terbuka.


Gaun off shoulders yang dikenakan oleh Felichia memang langsung bisa menonjolkan pundak putih Felichia.


Felichia memoleskan blush on sekali lagi ke tualng pipinya untuk menyempurnakan penampilannya malam ini.


"Menggodamu tentu saja!" Jawab Felichia seraya tersenyum nakal pada Erlan.


"Nanti kita tidak akan jadi pergi ke pesta kalau kau menggodaku," Erlan membantu Felichia untuk bangkit berdiri, lalu Felichia membenarkan dasi Erlan yang sedkkit miring.


"Kau tampan sekali," puji Felichia seraya menangkup wajah Erlan.


"Pasti ada maunya," tebak Erlan sok tahu.


"Tidak ada! Aku hanya sedang memujimu karena kau benar-benar tampan malam ini," kilah Felichia yang sudah ganti menggamit lengan Erlan. Pasangan suami istri tersebut berjalan beriringan keluar dari kamar dan langsung menuju ke pintu utama apartemen.


Keduanya akan menghadiri pesta perusahaan Alexander malam ini.


****


"Dean."


"Felichia," balas Felichia seraya menerima uluranntangan dari Dean Alexander yang baru dikenalkan oleh Erlan malam ini. Felichia hanya menatap sejenak pada wajah Dean yang kurang bersahabat itu sebelum kembali memalongkan wajahnya ke arah lain.


"Istrimu mana, Dean? Kenapa tidak kelihatan?" Tanya Erlan berbasa-basi pada Dean.


"Dia sedang tidak enak badan malam ini, jadi aku menyuruhnya beristirahat di atas," jawab Dean seraya tangannya menunjuk ke lantai di atas ballroom hotel, tempat berlangsungnya pesta malam ini.

__ADS_1


Erlan mengangguk paham dan segera membisikkan sesuatu pada Felichia.


"Aku akan bicara hal penting pada Dean dulu. Kau keberatan jika disini sendirian?"


Felichia menggeleng.


"Aku akan duduk di sudut sana dan menunggumu." Felichia menunjuk ke arah meja bulat di sudut ruangan yang kursinya masih kosong. Sebagian besar tamu memang memilih duduk di meja bagian tengah dan depan.


"Baiklah! Aku akan segera kembali," Erlan mengecup pipi Felichia sebelum berlalu meninggalkan istrinya itu dan kembali menghampiri Dean. Felichia masih sempat melihat dua pria itu pergi ke arah balkon untuk berbicara satu hal yang kata Erlan adalah hal penting.


Ketukan di kaca mobil dari seorang ibu pengemis yang menggendong bayi menyebtak lamunan Felichia tentang Erlan.


"Hush! Pergi!" Usir supir yang merangkap sdbagai bodyguard Felichia yang duduk di jok depan.


"Jangan mengusirnya, dan berikan saja dia uang kecil!" Titah Felichia pada supirnya tersebut seraya menyodorkan uang sepuluh ribuan.


Sang supir lalu memberikannya pada ibu-ibu pengemis tadi, bersamaan dengan lampu lalu lintas yang sudah berubah menjadi hijau.


Mobil melajukan perlahan ditengah padatnya lalu lintas siang ini. Sementara Felichia kembali larut dengan lamunannya.


Mungkinkah malam itu Erlan memang membuat perjanjian bersama Dean agar Felichia menjadi rahim pengganti untuk Dean dan Melanie?


Tapi kenapa Erlan melakukannya?


Bukankah Erlan dan Felichia saling mencintai?


Atau ini hanya tipu muslihat dari Mama Astri untuk memisahkan Felichia dan Erlan?


Sekarang, kemana Felichia harus mencari Erlan?


Dimana Mama Astri menyembunyikan suami Felichia itu?


Mobil kembali berhenti karena lampu merah. Felichia melempar pandangannya keluar mobil, saat wanita itu melihat bapak-bapak tua mendorong gerobak bertuliskan Es puter


Sudah lama Felichia tidak makan jajanan itu. Dulu Erlan memang sering mengajak Felichia membeli makanan di pedagang kaki lima dan mencoba berbagai macam jajanan yang murah meriah tersebut.


Dan sekarang mendadak Felichia ingin makan es puter gerobak lagi.


"Pak! Bisa putar balik? Aku ingin es yang disana itu!" Felichia akhirnya meminta sang supir untuk putar balik.


"Baik Nona!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2