Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
MAUKAH KAMU?


__ADS_3

Setelah Dean keluara dari kamar, Felichia ikut bangun dan kembali memeriksa anak-anak. Felichia mengusap wajah putranya satu persatau secara bergantian, dan sesekali bibir Felichia akan menyunggingkan senyum karena mengingat tingkah lucu yang pernah di lakukan oleh anak-anaknya.


Felichia ganti menatap pada pintu kamar yang masih tertutup, serta Dean yang belum juga kembali. Kemana perginya pria itu?


Mustahil Dean hendak mencari cincin untuk melamar Felichia.


Ya ampun!


Sepertinya Felichia terlalu banyak berkhayal sekarang.


Felichia masih sibuk menertawakan dirinya sendiri saat akhirnya pintu kamar terbuka, lalu Dean masuk dengan senyuman sumringah.


"Maaf lama," ucap Dean yang sudah kembali menutup pintu kamar.


"Kau darimana, Dean!" Tanya Felichia seraya bangkit berdiri dan menghampiri Dean yang masih tersenyum ke arah Felichia.


Ada apa memangnya dengan pria ini?


"Dari belakang rumah membuatkanmu sesuatu," jawab Dean yang sudah meraih tangan Felichia, lalu membimbing wanita itu agar berdiri agak jauh dari anak anak yang sudah terlelap.


"Jadi?" Tanya Felichia saat tiba-tiba Dean sudah berlutut dengan satu kakinya di hadapan Felichia dan memegang erat tangan Felichia.


"Felichia,"


"Mom dari Richard, Gika, dan Naka. Maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku dan menjadi Mom untuk anak-anakku?" Tanya Dean seraya menatap penuh cinta ke dalam manik mata Felichia yang kini sudah berkaca-kaca.


Felichia mengangguk-angguk.


"Ya?" Tanya Dean karena Felichia belum menjawab sepatah katapun dan wanita itu malah terus mengangguk.


"Iya, aku mau," jawab Felichia nyaris tanpa suara. Namun itu sudah cukup keras untuk Dean.


Dean mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cincin tapi bukan cincin emas atau cincin berlian.


"Ini apa?" Tanya Felichia saat Dean menyematkan cincin berwarna hijau yang terbuat dari batang-batang rumput itu ke jari manis Felichia.

__ADS_1


"Aku tidak membawa cincin untukmu, dan tidak ada toko perhiasan yang buka malam-malam begini di desa. Jadi aku membuat cincin saja dari rumput yang aku temukan di belakang rumah," cerita Dean seraya tertawa kecil. Felichia ikut tertawa dengan penuturan dan kejujuran Dean.


"Tapi ini hanya simbolis. Besok setelah kita pulang, aku akan memberikanmu cincin yang sesungguhnya." Dean sudah bangkit berdiri dan mengecup jemari Felichia cukup lama.


"Tapi aku lebih suka yang ini karena bentuknya bagus, Dean," ucap Felichia seraya melihat berulang kali cincin rumput yang melingkar di jari manisnya. Ada hiasan bunga putih kecil di bagian tengah cincin. Benar-benar mengingatkan Felichia pada masa kecilnya dulu.



"Kita akan menyimpannya nanti jika memang kau menyukainya," usul Dean seraya menangkup wajah Felichia. Wanita itu mengangguk-angguk dan tersenyum pada Dean.


"Kita menikah besok, ya? Atau lusa?" Den sudah ganti menyatukan keningnya dan kening Felichia.


"Kau ingin menikah disini? Di tengah hamparan padi-"


"Mmmmm, bukankah padinya sudah selesai kamu panen tadi siang?" Sela Felichia memotong kalimat Dean.


"Iya juga, ya." Dean tertawa kecil.


"Kita menikah di tepi sungai saja, bagaimana?" Usul Dean mengajukan ide yang lain.


"Itu konyol," jawab Felichia berpendapat.


"Kita bisa lanjut mandi di sungai bersama anak-anak setelahnya," timpal Dean yang entah kenapa otaknya penuh ide cemerlang malam ini.


"Dan memancing ikan, lalu membakarnya di pinggir sungai," Felichia menyambung ide Dean.


"Lalu menikmatinya berdua-"


"Berlima, Dean!" Felichia mengoreksi kalimat Dean.


"Iya berlima untuk saat ini. Semoga tahun depan sudah jadi berenam atau bertujuh," ucap Dean yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Felichia.


"Maksudnya?" Pertanyaan Felichia seolah terbang tertiup angin karena Dean yang sudah mengecup bibir Felichia.


Wanita itu mematung, saat Dean melesat tautan bibir mereka.

__ADS_1


"Masih ingat caranya, kan?" Goda Dean seraya mengusap lembut bibir Felichia dengan jemarinya.


"Apa kau akan mengajariku jika aku lupa?" Felichia balik menggoda pria di hadapannya tersebut.


"Aku sungguh tak keberatan." Jawab Dean seraya mengendikkan bahu.


"Tapi sebelum aku mengajarimu, mari kita cari tahu dulu kau sudah se-ahli apa sekarang."


Dean kembali memiringkan kepakanya dan mencecap bibir Felichia.


Ouh!


Rasanya masih seperti dulu saat Dean mencecapnya, manis dan membuat Dean tak mau berhenti.


Felichia memejamkan matanya dan membalas kecupan Dean yang kali ini begitu lembut. Lidah Dean yang terus menggelitik membuat Felichia akhirnya tak tahan untuk tak membuka bibirnya dan memberikan akses untuk lidah Dean menjelajah masuk dan semakin masuk ke dalam.


Dua sejoli itupun terhanyut dalam ciuman mereka yang mulai intens, dalam, dan panas. Bisa Felichia rasakan degup jantung Dean yang semakin kencang karena kini tangan Felichia yang memang berada di depan dada pria tersebut. Pun dengan jantung Felichia yang rasanya mungkin akan siap untuk meledak sebentar lagi.


"Ehm!" Sebuah erangan refleks keluar dari tenggorokan Felichia saat ciuman Dean terasa semakin melenakan. Tangan Felichia sudah beralih untuk mendekap wajah Dean dan semakin memperdalam ciuman mereka saat tiba-tiba sebuah celetukan menggema diantara decapan bibir keduanya.


"Om Dean, Mom kelihatan sesak nafas,"


Hah?


Suara polos Richard membuat kesadaran Felichia dan Dean seolah kembali. Dua sejoli tersebut langsung melepaskan tautan bibir mereka dan saling menjauh seketika. Keduanya menatap bersamaan ke arah Richard yang masih berdiri dengan tatapan polosnya.


"Richard kebelet, Mom! Mau pipis."


.


.


.


Mbuhlah

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2