Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
KEEMPAT


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Dean sedang menggosok giginya, saat tiba-tiba pria itu merasakan mual yang sudah lama tak ia rasakan. Rasanya seperti...


"Hoek!"


Dean merasakan banyak kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya, hingga pria itu akhirnya mual dan muntah tak jelas.


Apa mungkin Dean salah makan pagi ini?


Tapi Dean baru bangun dan dia belum makan apapun.


Aneh sekali.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Felichia yang baru keluar dari dalam toilet.


"Entahlah! Banyak kupu-kupu di dalam perutku dan aku jadi mual-mual tak jelas," jawab Dean yang kembali mual-mual.


"Asam lambungmu kambuh?" Tebak Felichia yang sudah berdiri di samping Dean seraya menyembunyikan tangannya di belakang punggung.


"Aku tidak punya riwayat asam lambung!" Bantah Dean tegas.


"Kau salah makan?" tebak Felichia lagi.


"Aku belum makan apapun pagi ini, Fe! Terakhir yang aku makan adalah potongan buah yang kau suapkan tadi malam," jawab Dean mengingat-ingat.


Dean kembali mual-mual. Segera Felichia mengusap-usap punggung dan tengkuk suaminya tersebut.


"Kapan terakhir kali kau mual-mual seperti ini?" Tanya Felichia menyelidik sambil berusaha menahan bibirnya agar tak tersenyum apalagi tertawa. Felichia harus pura-pura serius.


"Sudah lama sekali," Dean berusaha mengingatnya, masih sambil mual-mual.


"Sekitar...." Dean diam sebentar untuk mengingatnya.


"Tiga tahun yang lalu saat aku depresi dan kata Aaron aku terlalu banyak minum saat itu. Tapi-" Dean tak jadi melanjutkan kalimatnya dan menatap pada Felichia.


"Apa?" Felichia tersenyum aneh pada Dean.


"Kau menyembunyikan apa ini?" Dean akhirnya tanggap dan segera mencari tahu benda apa yang disembunyikan istrinya itu di belakang punggung.


"Tidak ada!" Jawab Felichia yang masih tak mau memberitahu Dean.


"Perlihatkan!" Dean sudah menangkap tubuh Felichia dan menggelitiki istrinya tersebut agar mengaku.


"Hayo! Perlihatkan!" Paksa Dean sekali lagi.


"Baiklah!" Felichia menjerit-jerit karena kegelian.

__ADS_1


"Ini!" Felichia menunjukkan sebuah testpack pada Dean.


"Aku hamil," ucap Felichia yang langsung membuat Dean melebarkan kedua matanya dan melihat dengan seksama testpack yang tadi diberikan Felichia.


"Kau benar-benar hamil!" Dean bersorak gembira dan langsung mengangkat tubuh Felichia demi meluapkan kegembiraannya.


"Yess! Yess! Kita akan dapat jagoan keempat kita!" Dean bersorak-sorak tak karuan sebelum kemudian pria itu mual-mual lagi.


"No! Yang ini harus princess, Dean!" Rengek Felichia seraya bergelayut pada Dean yang masih mual-mual.


"Hmmm, baiklah!" Dean sudah bersimpuh dan menyibak piyama Felichia, lalu menciumi perut istrinya tersebut.


"Princess dan jagoan tidak masalah sepertinya. Semoga kembar lagi," ucap Dean penuh harap.


Pria itu masih tak berhenti menciumi perut Felichia.


"Jangan kembar lagi! Princess saja!" Ucap Felichia yang sepertinya keberatan dengan pengharapan Dean.


"Tiga princess agar seimbang," Dean mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Felichia yang terlihat berseri-seri.


Sudah sejak Dean ajak pulang ke rumah ini satu bulan yang lalu, wajah Felichia selalu terlihat berseri dan bahagia. Pun dengan Dean yang hatinya juga selalu dipenuhi kebahagiaan. Semoga seterusnya keluarga Dean akan diselimuti kebahagiaan.


"Satu saja cukup aku rasa," ujar Felichia yang sudah ikut bersimpuh dan menangkup wajah Dean.


"Satu princess yang wajahnya mirip denganmu," sambung Felichia lagi seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Dean yang tumben hanya diam.


"Karena aku sukanya wajah kamu," Felichia mengecup kening Dean,lalu turun ke kedua kelopak mata suaminya tersebut, turun lagi ke hidung, pipi dan terakhir bibir Dean.


Felichia menghambur ke pelukan Dean dan tersenyum bahagia.


"Ada apa, Fe?" Tanya Dean tidak mengerti.


"Tidak ada. Aku hanya sedang bahagia, karena ini pertama kalinya aku hamil dengan status sebagai seorang istri," ujar Felichia seraya tertawa kaku.


Saat itulah hati Dean seolah tersentil. Masih sambil merangkul Felichia, Dean membawa istrinya tersebut keluar dari dalam kamar mandi, lalu mengajaknya duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu Dean ucapkan.


"Bukan sepenuhnya salahmu," cicit Felichia menjawab permintaan maaf Dean.


"Kau juga tidak tahu kalau aku sedang mengandung si kembar saat aku meninggalkanmu waktu itu," sambung Felichia lagi.


"Aku tahu!" Sergah Dean cepat.


Felichia sontak mengangkat wajahnya dari dekapan Dean.


"Aku mual-mual selama hampir satu tahun setelah kepergianmu waktu itu. Aaron sampai berulangkali membujukku agar opname saja di rumah sakit karena mualku lebih parah ketimbang saat kau hamil Richard," cerita Dean mengenang masa-masa kelabunya tiga tahun silam.

__ADS_1


"Jadi, apa ini bukan sebuah kebetulan?" Tanya Felichia yang akhirnya bisa tersenyum kembali.


"Aku rasa ini sebuah keadilan. Kau yang hamil dan aku yang-" Dean tak melanjutkan kalimatnya karena perutnya terasa mual lagi.


"Kau yang mual dan ngidam!" Ujar Felichia menyambung kalimat Dean.


Dean mengangguk-angguk.


"Ya."


"Bukankah itu artinya kita memang pasangan yang sehati?" Lanjut Dean lagi yang sudah menangkup wajah Felichia yang ganti mengangguk-angguk.


"Tapi kau yakin tidak akan apa-apa dengan mual muntahmu kali ini?" Tanya Felichia merasa khawatir.


"Sama sekali tidak. Aku sangat menikmatinya kali ini,karena ada kau di sampingku," jawab Dean yang sudah kembali meraup Felichia ke dalam pelukannya.


"Berjanjilah kau tidak akan kabur lagi setelah ini," pinta Dean yang sepertinya masih trauma dengan acara kabur Felichia setiap kali wanita ini mengandung anaknya.


"Memangnya kau pikir aku mau kemana? Kabur saat hamil itu melelahkan, Dean!" Jawab Felichia seraya merengut.


"Tidak ada yang mengusap perutku setiap malam, membelikan apapun yang aku inginkan, menemaniku periksa kandungan, membantu memotong kuku kakiku." Felichia mengungkapkan semua uneg-uneg yang ia rasakan.


"Hmmm. Nanti aku akan melakukan semuanya sebagai penebus hutangku di masa lalu," janji Dean seraya mengecup kening Felichia.


"Akan kutagih jika kau lupa," timpal Felichia seraya terkekeh.


"Siap, Nyonya Dean Alexander!" Jawab Dean dengan nada merayu yang sontak membuat wajah Felichia memerah.


"Kau tidak memindahkan kamar kita ke bawah?" Tanya Felichia selanjutnya yang langsung membuat Dean mengangguk.


"Aku akan memasang lift agar kau tidak capek naik tangga," jawab Dean mengungkapkan rencananya.


"Dasar orang kaya!" Felichia memukul dada Dean sebelum wanita itu bangkit berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Dean.


"Aku akan tidur di bawah sampai lift-mu jadi!" Seru Felichia luar kamar.


"Terserah kau saja, Sayang! Kau ratu di rumah ini dan lakukan apa saja yang kau mau!" Dean ikut-ikutan berseru dan akhirnya ikut keluar dari kamar. Menyusul Felichia yang sudah sampai di lantai bawah.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2