Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
KEPUTUSAN FELICHIA


__ADS_3

"Halo!" Sambut Navya sesaat setelah ponselnya berdering.


Pagi ini, Felichia sudah diizinkan untuk pulang, jadi Navya akan mengantar Felichia ke apartemennya. Navya juga masih mencari info tentang keberadaan Erlan serta menyuruh anak buah abang Matthew untuk mengawasi kediaman Dean Alexander.


"Nona, saya sudah ke kediaman Alexander. Tapi rumahnya sudah kosong. Dan kata security, Tuan Dean dan istri serta bayi mereka sudah bertolak ke luar negeri tadi malam."


Navya langsung membeku mendengar berita tentang bayi Felichia yang sudah dibawa Dean pergi ke luar negeri.


"Mereka kemana?" Tanya Navya tak sabar.


"Security juga tidak tahu mereka kemana, Nona. Yang jelas mereka berangkat tadi malam naik pesawat sewaan."


Navya menatap pada Felichia yang sedang menikmati sarapannya. Raut sendu di wajah wanita itu belum hilang. Jika Navya menyampaikan informasi ini, Felichia pasti akan semakin sedih dan hancur.


"Bagaimana dengan Erlan? Kau sudah tahu dia ada dimana?" Navya ganti menanyakan keberadaan Erlan pada orang suruhannya, karena Navya ingin secepatnya menyelesaikan persoalan pelik dan kesalahpahaman antara Felichia dan Erlan.


"Tuan Erlan pulang ke apartemen subuh tadi, Nona. Dan sampai sekarang masih di apartemen belum keluar."


"Baiklah, terima kasih informasinya. Tetap awasi apartemen dan langsung hubungi aku jika kau melihat Erlan keluar," Pesan Navya sebelum mengakhiri telepon.


"Baik, Nona!"


Navya sudah menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas saat Felichia akhirnya buka suara.


"Kau tidak sarapan, Nav?" Tanya Felichia.


"Nanti saja, Fe! Aku tadi sudah makan apel, dan aku masih kenyang," jawab Navya seraya mengulas senyum.


Navya sedang menghindari makan nasi belakangan ini terutama saat pagi karena itu akan membuat Navya mual dan muntah-muntah.


"Aku bisa pulang jam berapa, Nav?" Tanya Felichia lagi pada Navya.


"Sekarang bisa, asal sarapanmu sudah habis," jawab Navya seraya memeriksa sarapan Felichia yang rupanya sudah tandas.


"Aku akan mandi dulu," pamit Felichia seraya beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan pelan ke arah kamar mandi.


****


Tepat pukul sepuluh pagi, Felichia dan Navya keluar dari pintu utama rumah sakit. Keduanya langsung menuju ke arah tempat parkir.


Kau akan mengantarku pulang kemana, Nav? Aku tidak punya rumah," tanya Felichia sekaligus mengingatkan Navya


"Tentu saja ke apartemenku, Fe! Kita akan menjelaskan pada Erlan tentang kesalahpahaman ini."


"Erlan ada di apartemen saat ini," sambung Navya seraya merogoh tasnya dan mencari-cari kunci mobil.


Kemana kunci mobil Navya?


Navya membuka lebar tasnya demi mencari keberadaan kunci mobilnya yang terselip entah dimana, saat seseorang tiba-tiba menabrak pundak Navya dan membuat tas Navya jatuh ke halaman parkir. Isi tas langsung berhamburan keluar dan Navya buru-buru memungutnya.


Felichia juga sigap membantu, saat Felichia secara tak sengaja melihat sebuah kartu periksa warna merah muda yang terhambur dari tas Navya.


Felichia membaca sekilas kartu periksa tersebut dan menemukan kalau itu adalah kartu periksa dari poli kandungan. Ada nama Navya juga yang tertulis jelas di atas kartu.


Apa?


Kenapa Navya punya kartu periksa poli kandungan?


Jangan-jangan Navya...


Navya mengambil dengan cepat kartu periksanya dari tangan Felichia.


"Kemarin aku habis bertemu dokter," cerita Navya sedikit salah tingkah.

__ADS_1


"Kau sakit?" Tanya Felichia khawatir.


"Hanya sedikit masalah di pencernaan," jawab Navya berbohong.


Felichia mengangguk,


"Jangan terlambat makan, Nav!"


"Ya."


"Sebaiknya kita bergegas!" Ajak Navya yang sudah menemukan kunci mobilnya. Dua wanita itu segera masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan rumah sakit.


****


"Kau masuk angin, Nav?"


"Entahlah. Perutku mual dan kepalaku sedikit pusing. Mungkin aku salah makan tadi pagi."


"Kau tidak sarapan, Nav?"


"Aku sudah makan apel dan aku masih kenyang."


Navya mual, muntah dan tidak mau makan nasi pagi ini. Lalu wanita itu juga punya kartu periksa poli kandungan. Jelas sudah kalau Navya hamil.


"Aku dan Erlan belum saling menyentuh, Fe!"


"Erlan hanya mencintaimu dan pernikahan kami hanyalah pernikahan kontrak."


"Aku khilaf, Fe!"


"Aku pikir kau meninggalkan aku, lalu Navya datang dan selalu ada untukku. Jadi aku jatuh cinta pada kebaikan Navya."


Semua ucapan Erlan dan Navya terus saja menari-nari di benak Felichia, saat suara lift membuyarkan semuanya.


Rasanya ini tidak benar.


Felichia mungkin akan menjelaskan pada Erlan tentang kesalahpahaman di antara mereka. Tapi Felichia tidak akan memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya.


Navya baru akan menekan bel, saat pintu apartemen sudah dibuka dari dalam. Terlihat Erlan yang berdiri di balik pintu dan kaget dengan kedatangan Felichia serta Navya.


"Fe, kau sudah pulang? Aku baru saja akan menjengukmu ke-" Erlan menatap bergantian ke arah Felichia dan Navya saat pria itu menyadari kalau Felichia tidak membawa bayinya pulang.


Dimana bayi laki-laki mungil nan menggemaskan itu?


"Maaf atas semua kebohongan yang telah aku lakukan, Erlan!" Ucap Felichia seraya menundukkan wajahnya.


"Ayo masuk!" Ajak Erlan sebelum Felichia melanjutkan kalimatnya.


Tiga orang dengan hubungan rumit itupun kini duduk bertiga di sofa ruang tamu.


"Aku tak bermaksud untuk mengkhianatimu ataupun berselingkuh dengan Dean. Aku melakukan semuanya karena ancaman dari orang tuamu-"


"Mereka bukan orang tuaku!" Potong Erlan tegas.


"Mereka menjadikan aku jaminan dan mengatakan, kalau aku bersedia melakukan hal konyol itu mereka tak akan lagi merongrong pernikahan kita."


"Tapi aku yang terlalu bodoh karena percaya begitu saja pada semua janji manis mereka. Dan sekarang aku kehilangan bayiku." Felichia mulai menangis terisak.


"Dean mengambil bayiku kemarin dan membawanya pergi," lanjut Felichia yang semakin terisak. Navya segera meraup Felichia ke dalam pelukannya.


"Ini hanya sebuah kesalahpahaman, Erlan! Felichia tak berniat untuk mengkhianatimu," Navya menyambung penjelasan Felichia.


"Aku juga minta maaf, Fe," Erlan tiba-tiba sudah bersimpuh di depan Felichia dan menggenggam kedua tangan wanita itu.

__ADS_1


"Aku juga sudah berbohong padamu dan tidak jujur mengenai pernikahanku dengan Navya," sambung Erlan lagi yang langsung membuat Navya tersentak kaget.


"Erlan, bukankah kita sudah berpisah! Kau tak perlu lagi membahasnya," bisik Navya yang sepertinya tidak mau semakin membuat hati Felichia terluka.


"Tapi seharusnya kita tetap jujur, Nav!" Pendapat Erlan yang masih menggenggam tangan Felichia.


Sementara Felichia sudah mengangkat kepalanya dari pelukan Navya dan menghapus airmata di kedua pipinya.


"Seharusnya kalian tidak berpisah," ucap Felichia seraya memaksa untuk melepaskan genggaman tangan Erlan, lalu membimbing tangan itu untuk ganti menggenggam tangan Navya.


"Kalian berdua akan punya bayi sebentar lagi. Jadi kalian tidak boleh berpisah," ungkap Felichia lagi menahan sesak di dadanya.


Tapi beginilah kenyataannya.


Mau diapakan juga, Navya lebih berhak atas Erlan karena wanita itu sedang mengandung benih Erlan.


"Kau bicara apa, Fe? Aku-"


"Aku tidak sedang hamil," lanjut Navya tergagap.


"Jangan bohong, Nav! Kau mual dan muntah-muntah sejak satu bulan yang lalu. Kau juga punya kartu periksa poli kandungan di tasmu." Cecar Felichia yang seperti sebuah skakmat untuk Navya.


"Itu-itu bukan punyaku!" Kilah Navya yang masih berusaha menyangkal.


"Navya sedang mengandung anakmu, Erlan! Jadi kalian tidak bisa bercerai!" Felichia ganti berucap pada Erlan.


Lalu wanita itu meraih tangan Erlan dan meletakkannya di atas kepalanya sendiri.


"Talak aku," pinta Felichia pada Erlan dengan airmata yang berlinang.


"Jangan biarkan aku menjadi penghalang cintamu dan Navya," lanjut Felichia dengan airmata yang semakin deras mengalir.


"Tidak!" jerit Navya cepat


"Jangan lakukan itu, Erlan!" Navya berusaha untuk mencegah.


"Lakukan saja, Erlan! Navya lebih berhak atas cintamu dan aku tak lagi pantas untukmu."


"Jadi cepat lakukan!" Paksa Felichia keras kepala.


"Erlan, jangan!" Navya memohon pada Erlan.


"Felichia, mulai hari ini kamu aku ceraikan," ucap Erlan akhirnya yang ikut berlinang airmata.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Erlan?" Teriak Navya marah seraya memukul-mukul lengan Erlan.


"Terima kasih," ucap Felichia nyaris tanpa suara.


"Sekarang kalian bisa hidup bersama dan menantikan kelahiran bayi kalian." Lanjut Felichia lagi dengan tatapan kosong.


Navya segera memeluk Felichia dan menangis tergugu.


"Kenapa kau melakukan semua ini, Felichia?" Navya masih terus bertanya tak mengerti.


"Karena kau wanita yang baik, Nav! Dan kau pantas hidup bahagia bersama Erlan."


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2