Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
ANAK-ANAKKU


__ADS_3

Jam di arloji Dean masih menunjukkan pukul sembilan pagi, saat Dean sudah keluar dari bandara kota S. Dean sengaja naik penerbangan paling awal agar ia juga segera bisa bertemu dengan Richard, Gika, dan Naka.


Dan juga Felichia tentu saja!


Mengingat nama itu seketika langsung mengingatkan Dean akan dosa-dosanya pada Felichia. Apakah nanti Dean masih akan punya nyali untuk menatap wajah Felichia?


"Ke toko bunga, Pak!" Ucap Dean pada supir taksi yang akan mengantarnya ke rumah Felichia. Selain membawakan oleh-oleh untuk ketiga anaknya, Dean juga akan membawakan hadiah untuk Felichia.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga pulun menit, Dean akhirnya sampai di depan rumah milik Felichia. Sebuah rumah mungil yang juga merangkap sebagai toko sembako kecil-kecilan di bagian samping depan. Dean masih bertanya-tanya bagaimana Felichia bisa mencukupi kebutuhan ketiga anaknya dari tokonya tersebut. Atau mungkin Felichia punya bisnis lain yang Dean tidak ketahui?


Felichia terlihat sibuk di dalam tokonya yang memang sudah buka dan wanita itu sedang melayani beberapa pembeli yang datang untuk berbelanja.


Sedangkan Richard terlihat sedang bermain sepeda di halaman rumah. Lalu Gika dan Naka yang sedang menyusun lego di teras rumah seraya disuapi makan oleh Mbok Jum yang merupakan asisten rumah tangga Felichia.


Rasa haru seketika menyeruak di relung hati Dean menyaksikan semua pemandangan tersebut. Hanya keadaan yang sederhana tapi mereka berempat teroihat begitu bahagia. Apa kabar Dean yang selama ini berlimpah harta tapi hatinya hanya diselimuti rasa kesepian?


Dean turun dari taksi yang mengantarnya, seraya membawa banyak hadiah dan oleh-oleh untuk ketiga anaknya serta sebuket bunga lily putih untuk Felichia. Semoga wanita itu menyukainya.


"Om Dean!" Seru Richard yang terlebih dahulu melihat kedatangan Dean di depan rumah mereka.


"Mom! Ada Om Dean!" Richard sudah membanting sepedanya secara serampangan dan bocah empat tahun itu berlari ke dalam toko berteriak-teriak dengan rusuh memberitahukan sang Mom kalau Dean datang.


"Felichia yang masih sibuk melayani pembeli hanya menanggapi sekenanya dan melihat sekilas ke arah Dean yang sudah masuk ke teras rumah untuk menyapa Gika dan Naka.


Tak berselang lama, terdengar suara tangisan kedua anak kembar Felichia tersebut dari teras rumah.


Felichia mempercepat pekerjaannya dan tinggal satu pembeli lagi yang harus ia layani. Selesai melayani semua pembeli. Felichia segera mengunci laci berisi uang dan berlari ke teras rumah untuk menenangkan kedua anak kembarnya. Namun sekarang yang Felichia lihat malah Dean yang sedang menggendong Gika di tangan sebelah kanan dan Naka di tangan sebelah kiri. Kedua anak kembar Felichia itu juga terlihat memegang dua mainan baru di tangan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Mom, lihat! Om Dean bawa banyak mainan!" Ucap Richard memamerkan sebuah mainan robot-robotan yang terlihat mahal pada Felichia.


Felichia hanya tersenyum dan menanggapi sekenanya rasa antusias dari Richard.


"Pagi, Fe!" Sapa Dean pada Felichia seraya tersenyum hangat seperti pertemuan terakhir mereka satu pekan yang lalu.


"Pagi, Tuan Dean! Ada pekerjaan lagi di kota ini?" Tebak Felichia seraya hendak mengambil alih Gika dari gendongan Dean. Namun bocah dua tahun tersebut tumben menolak. Felichia beralih ke Naka dan Naka juga menolak.


Aneh?


Tentu saja tidak!


Mereka sedang digendong oleh Dad-nya yang amnesia.


Jadi biarkan saja!


"Richard sudah baik-baik saja dan pulih seratus persen. Terima kasih banyak atas bantuan anda yang sudah ikhlas mendonorkan darah untuk Richard," ucap Felichia seraya menatap Dean dengan tulus.


"Sama-sama." Dean balas menatap pada Felichia.


"Tapi lain kali tidak usah membawakan banyak mainan mahal seperti ini, Tuan Dean! Dan membawa bunga segala," Felichia tersenyum kaku melihat buket bunga lili warna putih yang tergeletak di kursi teras.


"Yang itu aku beli untukmu, sebagai pengharum ruangan," jawab Dean sedikit salah tingkah.


Dasar bodoh!


Felichia bukan ibu-ibu kaum sosialita yang mengharumkan ruangan di rumahnya dengan rangkaian bunga segar!

__ADS_1


Sepertinya Dean sudah salah membelikan hadiah untuk Felichia.


Semoga Felichia tak akan merasa curiga!


Dean merutuki kebodohannya sendiri.


Felichia tertawa kecil.


"Untuk mengarumkan ruangan, ya?" Felichia meraih bunga lili yang dibawakan Dean tersebut dan mengendus aroma harumnya sejenak.


"Terima kasih," ucap Felichia selanjutnya yang langsung membuat hati Dean menghangat dan ribuan kelopak mawar seolah baru saja menghujani hati Dean. Rasanya benar-benar seperti remaja yang baru kasmaran.


"Aku akan menaruhnya di vas berisi air agar tetap segar," ucap Felichia selanjutnya menatap pada Dean yang masih senyum-senyum sendiri.


Pria itu terlihat lebih manusiawi dan sedikit lucu dengan amnesianya.


Sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari Dean sombong dan arogan yang pernah Felichia kenal.


Felichia segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dean dan anak-anak yang masih asyik membongkar mainan di teras rumah. Anak-anak terlihat senang sekali mendapat banyak hadiah mainan dari Dean hari ini.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2