Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
DEAN KENAPA?


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Felichia masih berdiri termenung di depan kaca yang berada di dalam kamar mandi seraya menatap berulang kali pada benda putih yang ada di tangannya. Ada dua garis merah di testpack yang kini Felichia pegang, menandakan kalau Felichia sedang mengandung sekarang.


Ya,


Felichia akhirnya mengandung anak dari Dean Alexander.


Seharusnya Felichia merasa senang, karena setelah ini pria menyebalkan bernama Dean itu tak akan lagi menyentuh Felichia.


Felichia hanya perlu menunggu sampai bayi ini lahir, lalu setelahnya Felichia bisa bertemu Erlan lagi. Memulai kembali rumah tangganya bersama Erlan dan melupakan semua hal pilu ini. Melupakan anak yang kini sedang ia kandung karena nanti Felichia akan menyerahkannya pada Dean dan Melanie.


Felichia tiba-tiba sudah menangis terisak karrna membayangkan perpisahannya dengan anak yang bahkan baru mulai tumbuh di dalam rahimnya. Sekalipun orang yang sudah menghamili Felichia adalah orang yang paling Felichia benci di muka bumi ini, tapi anak ini kelak tetaplah anak Felichia, karena Felichia yang akan mengandungnya selama sembilan bulan lalu melahirkannya ke dunia.


Felichia mendadak merasa tak rela jika kelak harus meninggalkan anaknya dan menyerahkannya pada Dean dan Melanie. Tapi Felichia juga tak bisa berbuat apa-apa karena kesepakatan sudah dibuat.


Felichia menghapus airmata di wajahnya dan menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali. Setelah berulang kali menarik nafas panjang, Felichia keluar dari kamar dan langsung menuju ke lantai bawah. Felichia akan langsung menyampaikan kabar kehamilannya pada seseorang yang sudah menantikannya beberapa hari ini.


Siapa lagi kalau bukan Melanie?


Namun Felichia baru tiba di lantai bawah, saat terdengar Dean yang mengumpat di ruang makan lalu berlari ke arah toilet di dekat dapur. Melanie terlihat mengekori suaminya tersebut dan Felichia hanya mengendikkan bahu merasa tak paham dengan drama pasangan suami istri tersebut.


"Aku panggilkan dokter, Dean!" Ucap Melanie pada Dean bersamaan dengan kedua pasutri itu yang sudah kembali lagi ke ruang makan.


"Tidak usah! Aku tidak sakit!" Tolak Dean yang wajahnya terlihat merah padam.


Sepertinya pria menyebalkan itu baru saja muntah-muntah di toilet.


"Fe, kau sudah memeriksanya?" Melanie yang melihat Felichia yang masih mematung di bawah tangga segera menghampiri wanita tersebut.


"Ya, hasilnya dua garis," Felichia menunjukkan testpack di tangannya pada Melanie dan raut wajah Felichia hanya datar.


Sangat berbeda dengan Melanie yang kini wajahnya berbinar bahagia.


"Lihat, Dean! Felichia sudah hamil!" Melanie memamerkan testpack di tangannya ke arah Dean yang wajahnya kembali terlihat merah padam.

__ADS_1


"Brengsek!" Umpat Dean sebelum pria itu berlari lagi ke arah toilet untuk muntah-muntah.


"Sepertinya Dean sedang sakit, aku akan menelepon dokter," ucap Melanie pada Felichia yang hanya ditanggapi Felichia dengan anggukan samar. Melanie sudah mendorong kursi rodanya ke arah telepon rumah, lalu Nona Muda di keluarga Alexander tersebut terlihat berbicara serius di telepon dengan seseorang.


Sementara Felichia memilih untuk menuju ke meja makan, mumpung Dean belum kembali dari toilet. Felichia mengambil tiga lembar roti tawar lalu mengoleskan selai cokelat ke atas roti tawarnya. Sesekali, Felichia juga memakan selai coklat langsung dari botolnya karena tumben rasanya enak sekali.


Aneh!


Felichia kurang suka selai cokelat sebelum ini.


"Kau akan mengembalikan selai yang sudah kau jilati dari botolnya itu ke atas meja?" Tanya Dean yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja makan.


Felichia tak menjawab pertanyaan Dean dan hanya melempar tatapan tajam ke arah pria tersebut.


"Dean, ada apa?" Tanya Melanie yang sudah menyusul ke meja makan.


"Aku mau selai cokelat yang baru dan bukan yang itu!" Dean menunjuk ke arah botol selai cokelat yang masih berada di tangan Felichia.


"Kau tinggal bilang pada maid dan tidak perlu bersikap kekanakan!" Tegur Melanie pada sang suami.


"Sarapan saja disini, Fe!" Jawab Melanie sedikit memaksa.


"Aku tidak mau membuat seseorang merasa tidak nyaman." Ucap Felichia menyindir Dean yang raut wajahnya terlihat sinis sejak tadi.


"Kau sarapan di halaman belakang saja kalau begitu. Aku akan menemanimu," tukas Melanie akhirnya memberikan alternatif pada Felichia.


"Dan jangan naik turun tangga dulu! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kandunganmu. Nanti aku akan menyuruh kepala maid memindahkan kamarmu ke lantai bawah," imbuh Melanie lagi yang hanya membuat Felichia mengangguk samar.


"Terserah kau saja." Ucap Felichia lirih.


"Lalu kita akan bertemu dokter kandungan nanti jam sepuluh. Aku sudah menbuat janji," ucap Melanie lagi yang sekali lagi hanya ditanggapi Felichia dengan anggukan samar.


"Aku akan ke halaman belakang," pamit Felichia seraya membawa piringnya yang berisi roti dan selai cokelat yang masih ia sendoki ke arah halaman belakang.


Kini hanya tinggal Dean dan Melanie di ruang makan.

__ADS_1


"Kau tidak usah ke kantor hari ini, Dean! Aku sudah memanggil paman dokter tadi," ucap Melanie seraya mendekat ke arah Dean yang sedang membuka botol selai coklat yang masih tersegel yang baru saja dibawakan oleh maid.


"Banyak meeting yang harus aku hadiri ini," alasan Dean sedikit ketus.


"Tapi kau terus mual dan muntah. Kau tidak akan konsentrasi saat bekerja," Melanie tak mau kalah.


"Ck! Aku akan berhenti mual jika kau mau dikamar seharian bersamaku," Dean sudah ganti mengerling nakal ke arah Melanie.


"Jangan mulai!" Melanie memukul dada sang suami.


"Aku harus mengantar Felichia bertemu dokter kandungan," sambung Melanie lagi menatap ke arah Dean yang sudah mulai menggigit roti selai coklatnya.


"Kau mau?" Dean menyuapkan roti bekas gigitannya pada Melanie.


Istri Dean tersebut langsung menggigit roti yang di suapkan Dean dan mengunyahnya perlahan.


"Kau akan tetap ke kantor?" Tanya Melanie sekali lagi pada Dean.


"Aku akan pulang cepat, jika kau rindu padaku," jawab Dean penuh percaya diri.


"Ck!" Melanie berdecak sebelum kembali menggigit roti Dean.


"Ya ampun! Kau menghabiskan sarapanku, Nyonya Dean!" Dean sudah merengkuh tubuh Melanie dari atas kursi roda dan memangku istrinya tersebut.


"Dean!" Melanie sedikit meronta dan Dean malah tertawa terbahak.


Namun kemesraan pasangan suami istri itu harus berakhir saat dokter langganan keluarga Alexander sudah tiba di rumah.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2