Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
LEMBUT?


__ADS_3

"Jadi, dimana Felichia yang kau ceritakan itu, Mel?" Tanya Mama Angel setelah para tamunya pamit pergi. Cukup lama tadi mama kandung Dean tersebut mengobrol bersama para wanita sosialita serta memamerkan kehamilan Melanie yang sama sekali tidak benar.


"Dia sedang di kamarnya, Ma! Dia lebih suka mengurung diri di dalam kamar," jelas Melanie pada sang mama mertua.


"Kenapa Mama tadi harus bohong dan mengarang cerita soal kehamilan Melanie, Ma?" Sergah Dean yang sepertinya sudah kesal sejak awal dengan obrolan ibu-ibu tadi. Tapi Dean memang memilih untuk menahannya demi norma kesopanan.


"Apa nanti Mama juga akan menyuruh Melanie pura-pura hamil, lalu memakai bantal agar perutnya kelihatan besar seperti sedang hamil?" Cecar Dean sekali lagi meluapkan kekesalannya.


"Ya, jika memang itu diperlukan, Mama akan melakukannya," jawab Mama Angel santai.


Ck!


Dean berdecak kesal, sementara Melanie masih diam.


"Ini semua perlu dilakukan demi menjaga rahasia tebtang rahim pengganti, Dean! Kalaj nanti tiba-tiba kau dan Melanie menggendong bayi, tanpa ada drama Melanie hamil, pasti semua rahasia keluarga kita akan terbongkar!" Ujar Mama Angel lagi memaparkan alasannya.


"Seharusnya kau itu berterima kasih pada Mama karena sudah membantumu menyelesaikan masalah momongan yang menjadi tuntutan dari papamu!" Sambung mama Angel lagi merasa paling benar.


"Baiklah terserah Mama!" Pungkas Dean akhirnya seraha meraih peganagn kursi roda Melanie, lalu mendorong istrinya tersebut ke arah kamar.


"Dean, aku masih mau ngobrol bersama Mama!" Melanie mengusap tangan Dean dan mencegah suaminya tersebut.


"Ck! Kau sama keras kepalanya dengan mama!" Ucap Dean sebal yang akhirnya meninggalkan Melanie dan sang Mama di ruang tengah Dean berlari menaiki tangga dan seperti biasa, suami Melanie itu pasti akan mengurung diri di ruang kerjanya.


****


"Sudah cukup!" Melanie menghentikan Dean yang hendak menyentuhnya lebih jauh.


"Mel, jangan mulai!" Dean memasang raut wajah frustasi seolah sudah hafal ini akhirnya akan mengarah kemana.


"Masih ada hari ini dan besok, Dean! Felichia masih dalam masa subur," Melanie menangkup wajah Dean.


"Aku tidak mau menyentuh wanita itu lagi! Dia-" Dean tak mampu melanjutkan kalimatnya.


Felichia masih berstatus sebagai istri Erlan, sahabat Dean.


Dan hubungan Felichia sama sekali tidak bermasalah seperti yang diceritakan oleh Mama Astri.


"Ini yang terakhir, Dean!" Ucap Melanie yang masih menangkup wajah Dean.


"Kau akan menangis jika aku pergi sekarang," Dean menatap melas pada Melanie.

__ADS_1


"Aku tidak akan menangis! Aku baik-baik saja!" Ucap Melanie bersungguh-sungguh sebelum wanita itu mengecup bibir Dean.


"Baiklah, berikan aku satu kecupan," Dean sudah meraup bibir Melanie, lalu mencecapnya cukup lama.


Dean mengumpat kasar saat Melanie memaksa untuk mengakhiri pagutan mereka.


"Pergilah, Dean!" Usir Melanie pada sang suami.


"Kau benar-benar menyebalkan!" Dengkus Dean seraya memakai kembali kaus dan celananya.


Melanie hanya terkekeh kecil.


"Ini yang terakhir, dan aku melakukannya karena paksaanmu!" Dean menuding ke arah Melanie yang hanya mengangguk.


Melanie hanya sedang menyembunyikan kesedihannya. Dean tentu tahu hal itu.


"Dean!" Panggil Melanie saat Dean sudah memutar knop pintu kamar. Suami Melanie itu menoleh dengan cepat.


"Lakukan dengan lembut seperti saat kau menyentuhku dan jangan menyakiti Felichia! Dia yang akan mengandung calon anak kita," pesan Melanie menatap penuh harap pada Dean.


"Baiklah!" Jawab Dean lirih sebelum pria itu keluar dari kamar.


Suasana rumah sudah senyap, karena ini memang hampir tengah malam. Dean menaiki tangga tanpa suara dan langsung menuju ke arah kamar Felichia.


Apa Felichia memang sengaja?


Dean membuka pintu kamar dan yang terlihat di dalam hanyalah kegelapan. Satu-satunya sumber cahaya yang ada hanya berasal dari pantulan cahaya lampu taman yang masuk melalui jendela di sisi kamar. Dean bisa melihat dalam keremangan, Felichia yang sudah tidur seraya membelakangi pintu masuk.


Dean menyibak selimut yang menutupi tubuh Felichia tanpa basa-basi, dan hal itu langsung membuat Felichia terlonjak kaget hingga wanita itu terbangun dan sudah berganti posisi menjadi duduk.


"Dean, kau sedang apa?" Tanya Felichia tergagap, seraya beringsut mundur hingga menabrak kepala ranjang.


Dean tak menjawab sepatah katapun dan langsung menanggalkan kausnya begitu saja.


"Melanie menyuruhku untuk bersikap lembut dan tidak kasar. Tapi jika kau berontak dan sok jual mahal, jangan salahkan aku yang juga akan berbuat kasar!" Dean menatap tajam ke arah Felichia.


"Kesabaranku ada batasnya, Fe!"


"Aku sebenarnya juga tidak mau melakukan hal konyol ini, karena aku sangat mencintai Melanie, dan aku tidak suka membuat hati istriku terluka!"


"Jadi bekerja samalah, dan biarkan ini cepat selesai!" Cecar Dean yang masih melempar tatapan tajam pada Felichia yang hanya membisu.

__ADS_1


"Baiklah! Kau yang memaksaku berbuat kasar-" Dean yang sudah mulai hilang kesabaran, langsung naik ke atas tempat tidur dan hendak menyerang Felichia saat tiba-tiba Felichia mengangkat tangannya.


"Tunggu!" Felichia akhirnya membalas tatapan tajam Dean dengan tatapan penuh kebencian.


Tangan Felichia sudah bergerak untuk membuka kancing piyamanya serta menurunkan celana panjang yang ia kenakan. Felichia memejamkan mata dan segera mengambil posisi sebagai wanita murahan di hadapan Dean.


Dean tak langsung menyentak masuk seperti sebelum-sebelumnya, dan malah memainkan jemarinya di pangkal paha Felichia, hingga membuat Felichia menggeliat dengan gelisah. Sepertinya Dean sengaja melakukan itu semua.


"Kau sedang apa?" Racau Felichia yang masih menggeliat. Wanita itu berulang kali menggigit bibirnya bawahnya, dan kedua tangan Felichia juga sudah merem*s kain sprei yang berada di samping kiri dan kanannya.


Felichia masih terus menggeliat saat Dean sudah mengambil posisi dia atas tubuh Felichia dan mengungkung wanita tersebut.


Felichia menatap sejenak ke dalam kedua netra Dean, sebelum wanita itu kembali memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dean akhirnya sudah menyentak masuk, dan Felichia menguatkan remasannya pada kain sprei wanita itu berusaha untuk tetap diam membisu saat Dean memulai pergerakannya.


Tidak ada sikap kasar Dean kali ini, namun tetap saja hak ini tak berpengaruh apa-apa. Felichia tetal benci pada pria yang masih bergerak di atasnya tersebut dan enggan menatap Dean sedikitpun, sekalipun Felichia tahu, kalau saat ini Dean sedang menatap wajahnya dalam kegelapan.


"Kau mencintai Erlan?" Tanya Dean tiba-tiba yang hampir membuat Felichia melenguh. Gerakan Dean semakin terasa intens.


"Erlan suamiku. Jadi aku akan selalu mencintainya sampai kapanpun," jawab Felichia tegas tetap tak menatap pada Dean.


"Kau sudah mengkhianatinya," Dean menghentak semakin kuat hingga nafas Felichia semakin tersengal.


Felichia menggigit bibirnya semakin kuat dan tetap menahan diri untuk tak bersuara.


Sial!


Dean akhirnya mencapai pelepasannya bersamaan dengan Felichia yang sudah bisa menarik nafas lega.


"Apa kau juga selalu diam membisu seperti itu saat Erlan menyentuhmu?" Tanya Dean dengan nada sinis, sebelum pria itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang lama, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dan Felichia hanya mampu menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.


Felichia kembali menangis dalam diam.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2