
Melanie menatap kosong pada jendela kamar periksa, saat pintu ruangan di buka dari luar. Seorang dokter dan seorang perawat masuk ke dalam ruangan, dan Melanie segera menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah meja dokter untuk mendengarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Melanie satu pekan lalu.
"Dean tidak ikut, Mel?" Tanya Dokter yang sepertinya sudah akrab dengan Melanie.
"Dia tidak tahu menahu tentang hal ini. Tolong tidak usah memberitahunya," pinta Melanie pada dokter yang seusia dengan Paman Dokter tersebut.
"Baiklah! Aku buka dulu amplopnya," Dokter tertawa kecil dan berusaha mencairkan suasana yang mendadak berubah tegang.
Amplop sudah dibuka, dan Dokter membaca dengan seksama isi dari surat di tangannya. Wajah setengah tua itu mengerut dan air mukanya sesaat berubah khawatir.
"Ada apa, Dok?" Tanya Melanie tak sabar.
Melanie sebenarnya sudah merasa kalau ada yang tak beres dengan tubuhnya, karena sejak terakhir kali Melanie berhubungan badan dengan Dean, Melanie merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah perutnya. Tak hanya itu, Melanie juga mengeluarkan flek darah beberapa hari terakhir. Hal itulah yang akhirnya mendasari Melanie untuk bertemu dokter dan melakukan pemeriksaan.
"Positif," Dokter melepas kaca matanya dan menatap prihatin ke arah Melanie.
"Ada sel kanker baru yang tumbuh di ovariummu, Mel," ucap Dokter yang langsung membuat Melanie menitikkan airmata.
Dokter langsung bangkit berdiri dan memeluk Melanie yang sudah berurai airmata.
"Kau masih bisa melakukan pengobatan, Mel!" Ucap Dokter memberikan semangat positif terhadap Melanie.
"Tapi tetap saja, kanker itu akan menyebar, lalu-" Melanie berucap dengan terbata-bata.
"Lalu aku akan berakhir seperti mendiang Mama," lanjut Melanie mengenang bagaimana dulu mamanya yang juga berjuang melawan kanker ovarium yang akhirnya merenggut nyawanya.
"Kita harus positif thingking, Mel! Aku akan telepon Dean dan memberitahunya," Dokter sudah memegang gagang telepon dan hendak menghubungi Dean.
Namun Melanie mencegah dengan cepat.
"Aku sendiri yang akan memberitahuhya, Dok!" Ucap Melanie memohon.
Dokter mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali gagang telepon.
"Kita akan melakukan semua pengobatan terbaik untukmu!" Hibur Dokter seraya kembali memeluk Melanie dan memberikan semangat untuk wanita malang tersebut.
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Melanie.
"Mel!" Panggil Felichia dari luar kamar.
Tadi Melanie memang menyuruh maid untuk memanggil Felichia dan meminta wanita itu menemui Melanie di kamar.
Kata kepala maid, sejak kemarin sore Felichia tak keluar dari kamar dan hingga sarapan tadi, maid yang mengantarkan makanan ke kamar Felichia. Melanie hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Felichia. Mengingat Felichia yang kini sedang mengandung calon pewaris tunggal Alexander, jadi wanita itu harus benar-benar dijaga.
"Masuk, Fe!" Ucap Melanie sedikit berseru, karena Melanie yang benar-benar harus bedrest dan tudak bisa kemana-mana.
Pintu kamar di buka dan langsung terlihat Felichia dengan perut bulatnya masuk ke dalam kamar Felichia.
"Kemarilah!" Titah Melanie seraya memberi kode pada Felichia agar mendekat ke ranjangnya.
"Kau sedang bedrest?" Tanya Felichia yang sudah menghampiri Melanie.
"Ya. Dan Dean menyembunyikan kursi rodaku. Jadi aku tidak bisa kemana-mana," cerita Melanie seraya terkekeh.
"Duduklah, agar aku bisa mengusap perutmu," titah Melanie menepuk ruang kosong di sisinya de tepian ranjang.
Felichia mengangguk patuh dan segera duduk di dekat Melanie. Segera tangan Melanie terulur untuk mengusap perut Felichia.
"Bagaimana kondisi abangmu, Fe? Dia sudah sehat, kan?" Tanya Melanie mengajak Felichia mengobrol.
"Abang?" Felichia tergagap.
__ADS_1
"Ya, dia sudah sehat," lanjut Felichia masih tergagap.
"Kau tidak mengajaknya kesini?" Tanya Melanie yang terang saja membuat Felichia semakin bingung harus menjawab bagaimana.
"Dia..."
"Dia sudah pergi keluar kota dan bekerja lagi karena sudah sehat," jawab Felichia akhirnya mengarang indah.
"Sayang sekali."
"Kau tidak akan ikut ke luar kota setelah melahirkan nanti, kan?" Lanjut Melanie yang tiba-tiba melempar tatapan penuh harap pada Felichia.
Apa maksudnya?
"Tolong jangan pergi setelah melahirkan nanti, Fe! Tetaplah tinggal di rumah ini dan jadilah adikku," pinta Melanie yang tiba-tiba sudah memeluk Felichia.
Apa maksudnya jadi adik Melanie?
Apa ini sebuah lelucon?
"Kau harus tetap disini dan merawat bayi kita ini," Melanie kembali mengusap perut Felichia.
Bayi kita?
Bayi Felichia dan Melanie maksudnya?
Tidak!
Ini adalah anak dan bayi Felichia!
Dan Felichia masih berstatus sebagai istri Erlan. Jadi Felichia akan pergi dari rumah ini dan mencari Erlan setelah ia melahirkan nanti.
"Fe!" Teguran Melanie menyentak lamunan Felichia.
"Aku tidak bisa tinggal disini setelah melahirkan nanti, Mel!" Jawab Felichia tergagap-gagap.
"Aku harus mencari seseorang," sambung Felichia lagi.
"Seseorang siapa? Aku akan membantumu mencarinya, Fe!" Melanie menawarkan bantuan tapi Felichia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Felichia sudah bangkit berdiri dan beringsut mundur menjauh ranjang Melanie.
"Felichia," panggil Melanie lembut.
"Aku tidak bisa tetap tinggal disini setelah melahirkan, Mel!" Felichia mengulangi pernyataannya dengan nada tegas.
"Baiklah! Aku tidak akan memaksamu! Tapi duduklah di sini inj agar aku bisa menyapa anakku!" Pinta Melanie ikut-ikutan dengan nada tegas.
Anakku?
Ini bukan anakmu, Melanie!
Kenapa kau keras kepala sekali!
Felichia hanya mampu berteriak dalam hati.
"Duduklah disini, Fe!" Ucap Melanie sekali lagi dengan nada lembut.
Felichia akhirnya menurut dan duduk di tempatnya semula. Melanie kembali mengusap perut Felichia dan mengajak calon bayi Felichia mengobrol banyak hal. Melanie bahkan menyanyikan sebuah lagu untuk calon bayi Felichia.
Semakin kentara kalau Melanie sangat menginginkan bayi ini. Kalaupun tadi Melanie meminta Felichia tetap tinggal disini setelah melahirkan, pasti Melanie hanya akan menjadikan Felichia sebagai pengasuh dari bayinya.
Tidak!
__ADS_1
Felichia tidak rela bayinya dimiliki oleh Melanie.
Felichia harus keluar dari istana neraka ini sebelum melahirkan.
Felichia tidak mau melahirkan di dekat Melanie ataupun Dean sialan!
****
Sudah satu pekan Melanie bedrest dan tak bisa kemana-mana. Hari ini adalah jadwal Felichia untuk bertemu dokter kandungan langganan Melanie. Sepertinya Melani tak akan menemani Felichia hari ini.
"Mel," sapa Felichia seraya membuka pintu kamar Melanie.
"Kau sudah siap pergi ke rumah sakit, Fe? Aku sudah menghubungi Dean dan minta dia menemanimu, tapi dia masih meeting," ucap Melanie menampilkan raut wajah bersalah.
"Aku pergi bersama bodyguard saja," tukas Felichia meyakinkan Melanie.
"Yakin tidak apa-apa?" Melanie masih terlihat khawatir.
"Iya!" Jawab Felichia bersungguh-sungguh.
Kapan lagi Felichia punya kesempatan kabur sebagus ini.
"Dan, satu hal lagi," Felichia menggigit bibirnya sebelum menyampaikan keinginannya pada Melanie.
"Ada apa?"
"Aku boleh jalan-jalan ke mall?" Tanya Felichia memohon pada Melanie.
Melanie tak langsung menjawab dan tampak menimbang-nimbang.
"Bawalah tiga bodyguard kalau begitu!" Putus Melanie akhirnya yang langsung mengumpat dalam hati.
"Dan aku akan minta Dean menyusulmu setelah selesai meeting," lanjut Melanie yang kembali membuat Felichia mengumpat.
Hanya dalam hati tentu saja!
"Mel, tidak u-"
"Iya, atau kau tidak usah ke mall!" Ucap Melanie tegas.
"Aku hanya tidak mau terjadi hal buruk kepadamu!" Lanjut Melanie membeberkan alasan. Padahal yang sebenarnya Melanie tidak mau Felichia kabur dan membawa kabur calon bayinya.
Sialan!
"Baiklah!" Ucap Felichia akhirnya pasrah. Semoga nanti Felichia punya kesempatan.
"Aku pergi sekarang," pamit Felichia akhirnya.
"Kemarilah dulu! Aku mau menyapa calon anakku!" Titah Melanie yang harus membuat Felichia kembali mengumpat dalam hati.
Ini anakku, Nona Melanie yang terhormat!
.
.
.
Yang dicetak miring berarti flashback atau mimpi atau bayangan masa lampau.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1