Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
ERLAN DIMANA?


__ADS_3

Felichia turun dari mobil yang mengantarnya ke rumah sakit pagi ini. Seperti sebelum-sebelumnya, dua orang bodyguard tetap setia mengekori Felichia dan memastikan kalau wanita itu tidak akan kabur dari kediaman Alexander.


Ini sudah dua hari berselang sejak Felichia pingsan di rumah kala itu. Melanie akhirnya memberikan izin pada Felichia untuk menjenguk Erlan ke rumah sakit. Felichia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Erlan. Semoga saja suami Felichia itu sudah benar-benar bangun.


Felichia langsung menuju ke kamar perawatan Erlan yang memang sudah Felichia hafal letaknya. Setelah mengetuk pintu, Felichia langsung mendorong pintu berwarna putih tersebut. Namun alangkah terkejutnya Felichia, saat ia mendapati kamar perawatan Erlan yang sudah kosong tanpa ada tanda-tanda keberadaan Erlan di dalamnya.


Erlan dimana?


Felichia berbalik dengan cepat dan langsung menuju ke meja informasi untuk mencari keberadaan Erlan. Mungkin Erlan hanya dipindahkan ke ruangan lain.


Kenapa Mama Astri tidak memberikan info pada Felichia kalau memang Erlan sudah bangun dan sadar?


Kenapa Erlan juga tidak mencari Felichia kalau memang ia sudah bangun?


"Tuan Erlan Prakasa sudah dibawa pulang oleh keluarganya kemarin, Nona!" Ucap seorang perawat memberikan informasi pada Felichia yang kebingungan.


"Erlan sudah bangun?" Tanya Felichia memastikan.


Sudah, Nona! Dan karena kondisinya sudah stabil, jadi pasien juga sudah diperbolehkan pulang. Jadi kemarin sore, keluarganya membawa pulang Tuan Erlan," jelas perawat tersebut sekali lagi.


Felichia hanya mampu menepan kekecewaan, karena tak ada satupun orang yang memberitahunya kalau Erlan sudah bangun. Felichia hanya ingin berpikir positif tentang Mama Astri dan Papa Panji dan tidak mau menuduh sembarangan pada kedua orang tua Erlan tersebut. Namun tetap saja, sikap Mama Astri da Papa Panji ini justru membuat Felichia semakin berpikir buruk tentang mereka.


Felichia mulai meragukan tentang janji kedua orangtua Erlan itu kepadanya.


Bagaimana jika ternyata janji mereka jenarin itu bohong dan mereka meminta Felichia mengandung anak Dean itu hanyalah akal-akalan agar mereka bisa memisahkan Felichia dari Erlan?


Tapi kenapa Erlan juga tidak mencari Felichia, jika memang suami Felichia itu sudah bangun?


Apa yang dikatakan Mama Astri hingga Erlan tak mencari Felichia?


Kenapa semuanya begitu aneh dan membingungkan?


"Pak, bisa kita pergi ke kediaman Prakasa?" Tanya Felichia pada sopir yang mengantarnya.


"Baik, Nona!" Jawab sang sopir bersamaan dengan mobil yang mulai melaju menuju ke kediaman Prakasa.


****


"Tuan Panji, Nyohya Astri, dan Tuan Muda pergi ke luar kota pagi ini dan tidak tahu merrka akan oergu sampai kapan, Nona!" Jelas security saat Felichia minta izin untuk masuk ke kediaman Prakasa.


"Pergi ke kota mana?" Tanya Felichia menyelidik.


"Saya kurang tahu, Nona. Tuan Panji hanya mengatakan kalau mereka akan pergi keluar kota," jawab security yang langsung membuat raut kekecewaan di wajah Felichia semakin kentara.


Kemana Mama Astri dan Papa Panji membawa pergi Erlan?

__ADS_1


Apa mereka sengaja ingin mencuci otak Erlan agar lupa pada Felichia?


Tapi bukankah mereka sudah berajnji untuk tak lagj mencampuri hubungan Erlan dan Felichia, asal Felichia mau melaksanakan syarat dari Dean dan melahirkan penerus keluarga Alexander?


Kenapa semuanya jadi serumit ini?


"Baiklah! Terima kasih banyak informasinya, Pak!" Pungkas Felichia akhirnya sebelum meninggalkan kediaman Prakasa yang memang terlihat sepi.


Sekarang, kemana Felichia harus mencari Erlan?


****


Felichia tiba kembali di kediaman Alexander menjelang makan siang. Felichia baru akan menyapa Melanie, saat wanita itu mendapati Dean yang sedang berbaring di pangkuan Melanie di sofa ruang tengah.


Felichia mengurungkan niatnya untuk menyapa Melanie, dan memilih untuk langsung naik ke kamarnya saja.


Bukankah kemarin kata Melanie, Dean akan pergi ke luar kota selama tiga hari? Ini bahkan baru dua hari dan kenapa pria menyebalkan itu sudah kembali?


Felichia masuk ke kamarnya masih sambil berpikir bagaimana ia akan menghubungi Mama Astri dan mencari info dimana Erlan berada serta bagaimana kondisi suami Felichia tersebut. Hingga tiba-tiba terbersit satu ide di kepala Felichia.


Bukankah Mama Astri dan Papa Panji yang menjerumuskan Felichia ke istana neraka Dean ini? Jadi pasti Dean memiliki kontak pada kedua orang tua Erlan tersebut. Mungkin tidak ada salahnya Felichia meminta tolong pada Dean untuk menghubungi Mama Astri. Felichia hanya ingin tahu kabar Erlan.


Baiklah!


Felichia akan minta tolong pada Dean nanti. Meskipun sebenarnya Felichia bencj pada pria itu dan sangat menghindari untuk bicara dengannya.


"Nona Felichia!" Panggilan dari maid serta ketukan di pintu kamar, segera membuyarkan lamunan Felichia. Bergegas wanita itu membuka pintu kamarnya.


Ini bahkan belum jam makan siang. Kenapa maid sudah mengantarkan makanan?


"Ada apa?" Tanya Felichia setelah membuka pintu kamar.


Maid tidak membawa nampan makanan ternyata.


"Nona Melanie ingin bicara denagn anda, Nona," ujar maid menyampaikan informasi.


"Baiklah, aku akan turun sebentar lagi," jawab Felichia seraya mengangguk.


Maid ikut mengangguk dan segera undur diri.


Felichia turun ke lantai bawah beberapa saat kemudian. Namun baru saja Felichia akan menuruni tangga, Dean terlihat naik ke lantai dua dan berpapasan dengan Felichia. Namun seperti biasa, pria kejam dan menyebalkan itu hanya memasang ekspresi wajah dingin dan tak menyapa Felichia sedikitpun.


Ck!


Felichia memperhatikan Dean yang sudah dengan cepat menghilang ke ruang kerjanya. Sedikit konyol, tapi Felichia harus bicara pada Dean agar ia bisa secepatnya tahu Erlan dibawa kemana oleh Mama Astri. Tapi nanti saja setelah Felichia bicara pada Melanie, Felichia baru akan menemui Dean.

__ADS_1


****


"Cobalah!" Melanie meletakkan sepotong kue di atas piring Felichia.


Panjang lebar Melanie bercerita kalau kue kni adalah oleh-oleh dari Dean yang baru pulang dari luar kota.


Felichia hanya menanggapi sesekali dan memilih untuk memakan kue yang ada di hadapannya. Semua varian rasa tersedia di atas meja. Mungkin Dean memang memborong kue satu toko untuk istri kesayangannya ini.


Ah, Felichia jadi ingat pada Erlan yang dulu selalu menawarkan oleh-oleh setiap kali suami Felichia itu pergi ke luar kota. Meskipun selama Erlan dan Felichia menikah, Erlan baru tiga kali pergi ke luar kota, tapi Felichia selalu saja merasa senang saat Erlan pulang karena suaminya itu pasti membelikan banyak oleh-oleh untuk Felichia.


"Nona Melanie, di depan ada Nyonya Angel yang sedang mencari anda," lapor seorang maid yang menghampiri Melanie dan Felichia di halaman belakang, membuyarkan lamunan Felichia.


"Sendiri?" Tanya Melanie menyelidik.


"Tidak. Ada beberapa Nyonya besar juga," jelas maid lagi.


"Baiklah, aku akan ke depan. Bawakan teh dan kue dulu!" ucap Melanie sebelum maid pamit pergi.


"Fe, kau masih mau makan kuenya?" Melanie ganti bertanya pada Felichia.


"Tidak aku sudah kenyang. Aku akan ke kamar saja," ucap Felichia seraya menyeka sisa kue di bibirnya dengan tisu.


"Eh, bisa sekalian kau panggilkan Dean? Dia tadi pamit ke ruang kerja dan sepertinya belum turun," pinta Melanie pada Felichia.


Felichia tertegun sesaat, sebelum akhirnya wanita itu menjawab,


"Baiklah, nanti ku panggilkan," ucap Felichia seraya bangkit berdiri. Felichia langsung menaiki tangga sembari berpikir dan merangkai kalimat agar Dean mau membantunya menghubungi Mama Astri.


"Dean, aku minta tolong."


"Dean, bisakah kau membantuku?"


"Dean,"


Felichia yang sudah tiba di depan ruang kerja Dean, mendadak merasa ragu untuk mengetuk pintu. Wanita itu masih terus berpikir bagaimana merangkai kalimat yang pas.


"Dean, tolong a-" Felichia belum berhenti bergumam dan berlatih, saat tiba-tiba pintu di depannya sudah dibuka dari dalam, dan sosok tinggi besar itu kini berdiri di hadapan Felichia.


Sial!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2