Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
IKATAN BATIN?


__ADS_3

Felichia sedang mengemasi barang-barang di dalam kamar perawatan Richard, karena hari ini putra sulung Felichia tersebut sudah diizinkan pulang.


"Mom! Susu," si kecil Gika menyodorkan sebuah susu UHT kemasan kecil pada Felichia dan minta untuk di bukakan. Tak berselang lama, Naka ikut-ikutan minta dibukakan susu juga.


"Mom, Rich mau juga," ucap Richard yang sudah mendekat ke arah Felichia.


"Mom tidak bawa yang coklat. Ini adanya yang putih punya Gika dan Naka. Abang mau?" Tawar Felichia yang langsung membuat Richard menggeleng dan merengut.


"Sabar dulu, ya! Nanti sebentar lagi kita pulang dan Abang bisa minum yang coklat di rumah," bujuk Felichia seraya mengusap kepala Richard yang masih merengut. Namun bocah laki-laki berusia empat tahun tersebut tetap memaksa untuk mengangguk.


Tepat saat Felichia selesai mengemasi barang-barangnya, terdengar pintu kamar perawatan yang di ketuk dari luar. Felichia buru-buru membuka pintu karena mengira yang datang adalah dokter atau suster. Namun ternyata yang datang adalah Dean yang membawa sebuah bingkisan yang lumayan besar.


"Siang," sapa Dean ramah dan hangat pada Felichia yang terlihat kaget.


"Siang. Tuan Dean!" Jawab Felichia sedikit gugup.


"Aku mau menjenguk Richard, dan membawakannya sedikit oleh-oleh," Dean menunjukkan bingkisan berisi susu dan makanan anak-anak aneka rupa di tangannya.


"Silahkan masuk," ucap Felichia akhirnya yang langsung mempersilahkan Dean untuk masuk.


Ketiga putra Felichia yang tadi sempat riuh di dalam ruangan, seketika diam bersamaan saat melihat Dean datang.


Richard mendekat ke arah Felichia dan membisikkan sesuatu pada sang Mom.


"Mom, apa itu Dad? Apa doa Richard semalam sudah dikabulkan?"


Kebingungan langsung menyergap hati Felichia atas pertanyaan yang diajukan oleh Richard. Haruskah Felichia berkata jujur?


"Itu Tuan Dean, dia yang sudah menolong Richard kemarin saat kecelakaan," jawab Felichia akhirnya tanpa mengatakan iya atau tidak atas pertanyaan Richard tadi.


Richard langsung menghampiri Dean yang sudah berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Richard.


"Hai, Jagoan! Kau sudah sembuh?" Tanya Dean seraya mengajak Richard untuk tos.


Richard mengangguk menjawab pertanyaan Dean.


Berbeda dengan Richard yang langsung menghampiri Dean dan mengobrol akrab, Gika dan Naka memilih untuk bergelayut pada sang Bunda dan langsung mencebik saat Dean mengajak mereka berkenalan.


Ya, kedua anak kembar Felichia ini memang tidak bisa langsung akrab pada orang yang baru mereka temui. Biasanya mereka akan menangis kencang jika didekati oleh orang asing atau orang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Mereka semua putramu?" Tanya Dean menatap kagum pada Felichia yang masih menggendong Gika dan memeluk Naka.


"Ya." Jawab Felichia singkat.


"Pasti menyenangkan punya tiga anak yang lucu-lucu seperti mereka," ucap Dean lagi menatap bergantian ke arah Richard, Naka, dan Gika.

__ADS_1


Tatapan Dean terhenti sejenak di Gika dan pria itu menatap lekat pada putra Felichia yang wajahnya memang mirip Dean tersebut. Dean tertegun sejenak, sebelum kemudian pria itu ganti menatap ke arah wajah Felichia yang terlihat gugup.


"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan kemarin dan aku lupa bertanya tentang namamu," Dean mengulurkan tangannya ke arah Felichia sebagai tanda perkenalan.


"Aku Dean," ucap Dean menyebutkan namanya yang sudah diketahui oleh Felichia.


"Fe." Balas Felichia singkat.


"Fe?" Dean mengernyit bingung.


"Iya, itu namaku. Orang-orang biasa memanggilku Fe atau Mom-nya Richard," jelas Felichia yang masih terlihat gugup.


"Oh, begitu! Baiklah, aku akan memanggilmu Fe juga kalau begitu," ujar Dean seraya tertawa kecil. Pandangan mata Dean beralih ke jejeran tas yang sudah tersusun rapi.


"Richard sudah boleh pulang hari ini?" Tanya Dean selanjutnya pada Felichia.


"Iya, kondisinya sudah membaik. Jadi aku akan membawanya pulang hari ini," jelas Felichia seraya menurunkan Gika dari pangkuannya. Bocah dua tahun itu sepertinya penasaran dengan Richard yang sudah mulai membuka oleh-oleh dari Dean.


"Mom, ada susu cokelat!" Seru Richard seraya memamerkan susu UHT cokelat yang dibawakan oleh Dean.


"Iya. Abang minum, ya!" Jawab Felichia seraya tersenyum ke arah sang putra.


Felichia membantu membukakan susu untuk Richard serta beberapa biskuit untuk Gika dan Naka.


Sementara Dean yang menyaksikan keakraban Felichia dan ketiga anaknya, seketika langsung mengulas senyum di bibirnya. Membayangkan andai dirinya juga punya anak-anak yang lucu seperti Richard, Gika, dan Naka. Pastilah rasanya akan sangat menyenangkan dan rumah besar Dean tak akan terasa sunyi lagi.


"Ya. Hanya tinggal memanggil taksi," jawab Felichia mengulas senyuman tipis ke arah Dean. Felichia hanya berani menatap sekilas-sekilas ke dalam wajah Dean, karena rasa bersalah yang seolah menghantui Felichia saat melihat Dean yang sekarang.


"Dean hancur, Fe!"


"Dean mengalami depresi berat dan pria itu hanya mengurung diri di rumahnya selama berbulan-bulan."


Tiga tahun yang lalu, seseorang terus mengabarkan pada Felichia tentang kehancuran Dean setelah drama kecelakaan yang Felichia buat. Semuanya sesuai dengan keinginan Felichia. Semuanya sesuai dengan kemauan Felichia. Jadi sudah seharusnya Felichia merasa senang dan puas dengan kabar kehancuran Dean.


Namun saat itu, yang Felichia rasakan justru sebuah rasa sakit. Setiap kali kabar itu sampai ke telinga Felichia, lalu Felichia melihat ke arah Richard, rasa sakit itu semakin terasa nyata. Mungkin juga karena Felichia yang sedang mengandung anak Dean kala itu membuat rasa sensitifnya kian menjadi.


Felichia bimbang!


Felichia bingung!


Felichia merasa tersiksa dengan batinnya sendiri.


Hingga akhirnya tepat sebulan sebelum Felichia melahirkan si kembar, Felichia tak mau lagi mendengar informasi apapun tentang Dean Alexander.


Nyatanya siksaan batin yang dirasakan Felichia tak cukup sampai disitu, karena saat

__ADS_1


Magika dan Mainaka lahir, wajah keduanya ternyata mirip dengan Dean.


Ya,


Kadang hidup memang tidak adil.


Saat kita membenci seseorang dan ingin melupakan serta membuang jauh semua hal tentang orang itu dari kehidupan kita, Tuhan malah menghadiahkan makhluk-makhluk tak berdosa yang wajahnya begitu mirip dengan orang yang kita benci.


Hingga pada akhirnya, Felichia hanya bisa berdamai dengan keadaan dan melanjutkan hidupnya yang selalu dipenuhi oleh bayang-bayang Dean Alexander.


Mungkin Dean memang tak pernah mencari atau mengganggu hidup Felichia lagi, namun rasa bersalah di hati Felichia yang justru mengganggu Felichia selama tiga tahun terakhir. Terlebih saat Felichia melihat ketiga buah hatinya yang sedang terlelap, rasa bersalah itu akan semakin terasa menyesakkan dada.


Dan sekarang, Tuhan malah mempertemukan kembali Felichia dan Dean dengan cara yang tak pernah disangka-sangka. Dean yang kini sudah banyak berubah dan bahkan sudah lupa pada Felichia dan Richard. Mungkin sudah jalan hidup Felichia untuk tak lepas dari Dean Alexander. Haruskah Felichia kembali berdamai dengan keadaan?


"Mom!" Teguran dari Richard seolah menyadarkan Felichia dari lamunan panjangnya tentang Dean Alexander, pria yang kini tengah berusaha merayu si kembar agar mau ia gendong dan ia ajak bermain.


"Apa, Sayang?" Tanya Felichia pada Richard yang tadi membuyarkan lamunannya.


"Kenapa Mom tidak menjawab pertanyaan om Dean?" Tanya Richard yang langsung membuat Felichia mengernyit bingung.


"Pertanyaan apa?"


"Aku tadi bertanya, apa kau keberatan jika aku mengantar kau dan anak-anak pulang ke rumah ketimbang kalian harus naik taksi? Aku sekalian akan pergi ke bandara dan kembali lagi ke kota asalku. Pekerjaanku disini sudah selesai," tutur Dean panjang lebar mengulang pertanyaannya pada Felichia.


"Eeeee, soal itu. Aku tidak mau merepotkan anda, Tuan Dean!" Jawab Felichia yang kembali gugup dan sedikit sungkan.


"Sama sekali tidak repot!" Jawab Dean hangat. Tak berselang lama, sopir Dean sudah tiba di kamar pearwatan dan membantu membawakan barang-barang Felichia ke mobil.


Entah kapan Dean memanggil sopirnya itu tadi, Felichia juga tidak tahu.


Dean yang sudah berhasil merayu Naka agar mau ia gendong, akhirnya menggendong Naka dan menggandeng Richard keluar dari kamar perawatan menuju ke pintu utama rumah sakit.


Sementara Gika yang masih jual mahal, kini berada di gendongan Felichia dan mengekori Dean yang berjalan di depannya.


Keakraban Naka, Dean, dan Richard langsung bisa Felichia lihat.


Mungkinkah itu yang disebut ikatan batin antara ayah dan anak?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2