
Dean pulang ke rumah tanpa membawa petunjuk apapun tentang keberadaan Felichia. Entah bagaimana caranya wanita sialan itu bisa menghilang begitu saja.
Dean langsung masuk ke toilet yang ada di dapur karena pria itu yang kembali mual-mual, setelah berulang kali mengatai Felichia sialan.
"Tuan, Nona Melanie sudah bangun dan terus menanyakan keberadaan Nona Felichia," lapor kepala maid pada Dean yang baru selesai muntah-muntah.
"Biar aku yang bicara nanti. Bawakan makan malam Melanie ke kamar," titah Dean pada kepala maid sebelum pria itu berlau dan masuk ke dalam kamar Melanie.
Melanie masih terbaring di atas tempat tidur dan kini istri Dean itu sedang tersenyum pada Dean yang baru datang.
"Kau sudah pulang? Apa kau bertemu Felichia?" Tanya Melanie pada Dean yang kini sudah duduk di sisi tempat tidur dan mencium kening wanita tersebut.
"Felichia sedang istirahat, jadi sebaik nya kita tak mengganggunya," ucap Dean berdusta pada Melanie.
Dean yakin kalau Felichia akan segera Dean temukan tak lama lagi. Jadi sampai Felichia ditemukan, Dean akan berbohong dulu pada Melanie. Dean tidak mau Melanie banyak pikiran dan bersedih karena calon anak mereka yang masih berada di dalam kandungan Felichia dibawa kabur oleh wanita sialan tak tahu terimakasih itu.
"Felichia pasti lelah setelah berjalan-jalan di mall," ucap Melanie sedikit terkekeh.
"Dan kau tak lagi ketus saat menyebut nama Felichia," lanjut Melanie lagi menatap bangga pada Dean yang terang saja hal itu malah membuat Dean bingung.
Ada apa dengan Melanie?
"Aku masih tidak suka dengan wanita itu, Mel," ucap Dean penuh keyakinan.
Ya,
Dean benci pada Felichia.
"Jangan begitu!" Melanie meraih lengan Dean dan mengusapnya dengan lembut.
"Kau harus terus bersikap baik pada Felichia, Dean. Kau harus memperlakukan Felichia dengan lembut seperti halnya kau bersikap padaku," ucap Melanie menatap penuh harap pada Dean.
"Kenapa aku harus bersikap lembut pada wanita menyebalkan itu? Dia bukan istriku," tanya Dean yang sudah kembali mengatai Felichia dengan ketus.
"Brengsek!"
Umpat Dean selanjutnya sebelum pria itu melesat ke kamar mandi untuk muntah-muntah. Namun tak lama, Dean sudah keluar lagi dan kembali menghampiri Melanie.
"Lihat, kau selalu mual dan muntah setiap kali bersikap ketus pada Felichia," pendapat Melanie yag langsung membuat Dean berdecak.
"Itu sama sekali tak ada hubungannya!" Kilah Dean menyangkal pendapat Melanie.
"Lagipula, Felichia itu hanya seorang rahim pengganti, Mel! Jika aku bersikap lembut padanya seperti halnya sikapku padamu, bukan tak mungkin wanita itu malah akan semakin tak tahu diri dan mengira aku ada hati kepadanya," tutur Dean panjang lebar mengungkapkan pendapatnya.
"Aku tak keberatan jika kau ada hati padanya, Dean!" Ucap Melanie tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Dean terkejut.
"Apa maksudmu, Mel?"
"Apa? Felichia gadis yang baik dan dia masih single katamu, jadi jika umurku tidak panjang-"
"Ssssttt!" Dean memotong kalimat Melanie dengan cepat.
"Kau tidak sedang sakit keras, Mel! Kau hanya sakit sebentar, dan nanti saat anak kita lahir, kau akan selalu sehat karena kita akan menjadi orang tua untuk anak kita. Membesarkannya berdua dan memberinya limpahan kasih sayang." Dean sudah menggenggam tangan Melanie dan mengecupnya berulang kali.
__ADS_1
"Kita akan menua bersama," Dean menatap ke dalam kedua netra Melanie.
"Aku hanya mencintaimu, Mel!" Ucap Dean lagi yang sudah dengan cepat memeluk Melanie.
Sekuat tenaga Melanie menahan tangisnya agar tidak pecah. Tapi rsanya sia-sia, karena kini Melanie malah menangis tersedu-sedu di pelukan Dean.
Melanie juga ingin menua bersama Dean. Tapi rasanyabitu mustahil, mengingat kanker ganas yang kini sedang menggerogoti tubuh Melanie.
Jikapun Melanie boleh membuat satu permintaan sekarang, Melanie hanya ingin hidup sampai bayi Felichia lahir, agar Melanie bisa merasakan menjadi seorang ibu dan menggendong bayi yang merupakan darah daging Dean tersebut.
Melanie ingin menggendong dan memeluk bayi Felichia sebelum ia menutup mata untuk selamanya, lalu menyatukan Dean dan Felichia dalam ikatan pernikahan.
Jadi Melanie bisa pergi dengan tenang dan bahagia.
****
Kediaman Orlando
"Navya ingin berpisah dari Erlan, Bang," ucap Navya setelah berulang kali menarik nafas panjang. Navya sedang menikmati sarapan bersama Matthew yag malam ini wajahnya terlihat lesu, sepertinya sedang banyak pikiran.
Seharusnya Navya tak menyampaikannnya sekarang!
Matthew meletakkan sendok di tangannya ke atas meja, lalu menatap tak mengerti ke arah adik kesayangannya tersebut.
"Kau bilang apa barusan? Mau bercerai dari Erlan? Apa kau sedang mengajakku bercanda, Nav?" Cecar Matthew menatap tegas pada Navya seolah sedang minta penjelasan.
"Navya serius dan tidak sedang bercanda, Bang!"
"Felichia tidak pernah melayangkan gugatan cerai pada Erlan, karena kini Felichia sedang mengandung anak Erlan," sambung Navya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jadi maksudmu Erlan dan tua bangka Prakasa itu sudah menipu kita semua?" Matthew sudah menggebrak meja dengan emosi.
"Erlan tidak tahu apa-apa disini, Bang! Mama Astri dan Papa Panji yang sudah menipu kita semua dan mengirimkan surat gugatan cerai palsu!" Jelas Navya yang masih berusaha membela Erlan di depan Matthew.
Tapi Erlan memang tak bersalah disini.
"Brengsek! Keparat!" Umpat Matthew yang langsung merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang.
"Bang-"
"Diam!" Gertak Matthew menuding pada Navya dan minta adiknya itu untuk tak membela kedua orangtua sialan itu lagi.
"Halo, Tuan Orlando."
"Singkirkan pasangan tua bangka Prakasa itu malam ini!" Perintah Matthew pada seseorang di seberang telepon.
"Abang-" Navya menggeleng-gelengkan kepalanya dan buru-buru meminta Matthew menghentikan rencananya.
"Buat seperti sebuah kecelakaan dan jangan meninggalkan jejak apapun. Mereka sedang berlibur di Villa. Bakar saja semuanya!" Perintah Matthew tegas yang sepertinya benar-benar emosi.
"Baik, Tuan!"
"Abang!" Navya merebut ponsel Matthew dan berharap masih bisa menghentikan rencana sang abang yag hendak menghabisi Papa Panji dan Mama Astri.
__ADS_1
Namun terlambat!
Telepon sudah terputus.
"Abang, jangan seperti ini!" Navya memohon pada Matthew untuk membatalkan perintahnya tadi. Erlan pasti akan sedih jika krfua orang tuanya meninggal dengan tragis.
"Diamlah, Navya! Mereka memang pantas mendapatkannya! Mereka sudah menipu kita habis-habisan!"
"Mereka juga sudah menipu Erlan!" Teriak Matthew yang benar-benar emosi sekarang.
"Tapi mereka orang tua Erlan, Bang!"
"Erlan pasti akan sedih jika-"
"Mereka bukan orang tua kandung Erlan!" Sela Matthew menatap tegas pada Navya.
"Erlan hanya anak angkat di keluarga Prakasa," ucap Matthew lagi masih menatap tegas pada Navya.
"Bagaimana Abang bisa tahu?" Tanya Navya bingung.
"Abang menyelidikinya," jawab Matthew yang sudah kembali duduk. Navya ikut duduk di samping sang abang.
"Kau yakin ingin berpisah dari Erlan? Kau sangat mencintai pria itu, Nav!" Tanya Matthew yang kembali mengingat betapa tergila-gilanya adiknya ini pada Erlan. Namun sayangnya, Erlan malah mencintai gadis lain dan tak membalas cinta Navya.
"Navya tak mau jadi perusak hubungan Erlan dan Felichia, Bang! Mereka berdua masih saling mencintai dan akan punya bayi sebentar lagi," jawab Navya seraya menyeka butir bening di pelupuk matanya.
"Seharusnya Navya tak buru-buru mengatakan iya saat Erlan mengajak Navya menikah waktu itu," lanjut Navya penuh sesal.
Matthew bangkit berdiri dan memeluk sang adik kesayangan.
"Navya akan melupakan perasaan ini dan membuang jauh semua hal tentang Erlan, Bang!" Ucap Navya penuh tekad.
"Setidaknya, Navya sudah pernah merasakan cinta dari Erlan meskipun itu hanya sekejap dan sekedar pelarian saja," Navya ganti tertawa miris.
Ya, akhirnya Navya sadar kalau saat Erlan mengajaknya menikah beberapa bulan lalu itu, Erlan hanya sedang mencari pelarian atas sakit hatinya karena surat gugatan cerai dari Felichia yang ia terima.
"Kau gadis baik yang berhati mulia, Nav!"
"Kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti," hibur Matthew yang hanya membuat Navya mengangguk-angguk.
Navya semakin membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan sang abang yang menjadi tempatnya berkeluh kesah selama ini.
.
.
.
Aku selesaikan satu persatu dulu ya konfliknya biar nggak mbulet dan mbleber kemana-mana.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1