
"Feli mau bertemu Erlan, Ma! Sebentar juga tidak apa-apa," suara Felichia terdengar memohon dan memelas.
"Erlan sedang berada di luar kota sekarang dan masih menjalani pengobatan serta pemulihan."
"Bukankah sudah Mama bilang untuk fokus saja pada tugasmu di keluarga Alexander? Nanti kalau semianya sudah beres, Mama tidak akan melarangmu bertemu denagn Erlan, Fe!" Suara Mama Astri terdengar ketus dan kasar.
"Tapi ini sudah lebih dari dua bulan, sejak Mama melarang Feli bertemu Erlan. Feli ingin tahu keadaan Erlan, Ma!"
"Apa Erlan tidak mencari Feli?" Cecar Felichia yang sepertinya masih sangat berharap.
"Erlan tidak mencarimu, Felichia! Jadi tidak usah berharap banyak!" Nada bicara Mama Astri tetap ketus.
"Apa Erlan hilang ingatan, Ma?" Tanya Felichia menerka-nerka.
"Mama tidak tahu! Erlan ingat pada Mama dan semua orang di sekitarnya, tapi dia tidak ingat padamu. Mungkin kau memang bukan orang penting di hati Erlan," jawab Mama Astri sinis
"Kalau begitu biarkan Feli bertemu Erlan, Ma! Mungkin Erlan tak ingat karena Feli tidak berada disamping Erlan saat ia membuka mata. Tapi Feli yakin kalau Erlan akan langsung ingat pada Feli setelah kami bertemu." Pinta Felichia penuh keyakinan.
"Percaya diri sekali, kamu! Sudah! Mama pusing mendengar rengekanmu itu, Feli! Selesaikan saja tugasmu sebagai rahim pengganti, baru nanti kamu bisa bertemu dengan Erlan." Pungkas Mama Astri sebelum panggilan terputus.
Felichia hanya bisa mendes*h frustasi karena lagi-lagi permintaannya untuk bertemu Erlan tidak dikabulkan oleh Mama Astri.
Felichia meletakkan gagang telepon ke tempatnya, sebelum mengusap airmata yang menggenang di sudut matanya.
Sementara di lantai dua rumah, Dean masih belum meletakkan gagang telepon dan pria itu malah melamun masih sambil menempelkan gagang telepon di telinganya.
Sejak tadi Dean memang menguping obrolan Felichia dan Mama Astri lewat telepon rumah lain yang berada di lantai atas.
Tidak sopan memang.
Tapi Dean sering melakukannya sejak telepon pertama Felichia pada Mama Astri kala itu, tanpa Dean tahu apa yang sebenarnya tengah ia cari dan selidiki.
"Dean!" Panggil Melanie dari lantai bawah yang langsung membuat lamunan Dean menjadi buyar.
"Dean, bisa turun sebentar?" Panggil Melanie sekali lagi dan Dean bergegas menemui istrinya tersebut.
Dean baru sampai di lantai bawah, saat Dean sekilas melihat Felichia yang keluar dari dapur membawa sepiring cheesecake di tangannya. Sepertinya wanita itu memang langsung makan setelah tadi terisak saat menelepon Mama Astri.
Aneh!
Masih bisa makan ternyata walau suaranya terdengar memelas.
"Dean,"
__ADS_1
"Ada ap-" Dean berdecak dan langsung mengumpat saat rasa mual kembali menyergapnya.
"Brengsek!" Dean mencoba menahan rasa mual di perutnya, namun sekarang Dean malah merasakan ada ribuan kupu-kupu yang memenuhi perutnya.
"Sial!" Umpat Dean sekali lagi seraya berlari ke arah kamar mandi di dekat dapur untuk menumpahkan isi perutnya.
Melanie hanya bisa menghela nafas dan memijit pelipisnya sendiri melihat Dean yang masih rajin mual-mual, padahal kandungan Felichia juga sudah masuk bulan kedua. Obat antimual yang rutin diminum oleh Dean sepertinya juga tak berpengaruh apa-apa. Benar-benar Dean yang malang!
"Dasar wanita sialan!" Dean bergumam dan mengumpati Felichia saat perutnya semakin terasa diaduk-aduk dan Dean kembali muntah-muntah.
"Ck! Apa wanita itu memakai sihir?" Dean mulai berpikiran tak waras, sebelum pria itu kembali muntah-muntah.
"Baiklah, terserah! Aku tak akan mengumpatinya lagi!" Dean berucap dengan kesal sambil menyalakan kran air untuk membasuh wajahnya.
Rasa mual yang tadi menghinggapi Dean tak lagi terasa.
Baiklah, ini lebih baik!
Dean akhirnya bisa keluar dari kamar mandi dan menghampiri Melanie yang tadi memanggilnya. Istri Dean itu sudah duduk bersama Felichia yang sedang mengunyah cheesecake dan seakan tak mau berhenti.
Dasar tukang makan!
Ups!
Dean kembali mengumpat dan masuk ke kamar mandi untuk muntah-muntah lagi. Mungkin lain kali Dean tidak hanya harus menjaga bibirnya agar tidak mengumpati atau mengatai Felichia, namun Dean juga harus menjaga hati dan pikirannya agar tak ikut-ikutan mengatai wanita hamil menyebalkan itu.
Hoek!
Mual Dean semakin tak terkendali sekarang.
****
Melanie memijit pelipisnya saat melihat Dean yang tak berhenti keluar masuk ke kamar mandi karena terus mual dan muntah-muntah. Sudah mengalahkan ibu hamil yang mengalami morning sickness sepertinya.
Melanie ganti menatap pada Felichia yang sedang menikmati cheesecake di hadapannya dengan sangat lahap. Badan Felichia juga terlihat semakin sintal dan berisi, mungkin karena wanita itu yang makan lebih banyak belakangan ini.
"Kau mau cheesecake-nya, Mel?" Tawar Felichia pada Melanie yang masih menatapnya sejak tadi. Felichia mendadak menjadi canggung.
"Tidak, terima kasih! Kau habiskan saja, Fe!" Jawab Melanie yang memaksa untuk mengulas senyum di bibirnya.
"Kau belum mengalami gejala morning sickness, Fe!" Tanya Melanie selanjutnya pada Felichia.
"Belum. Aku juga tidak tahu kenapa," jawab Felichia seraya meringis.
__ADS_1
"Karena yang mengalami semuanya adalah Dean."
Melanie hanya bergumam dalam hati dan memasang senyuman kecut. Hati Melanie terasa nyeri membayangkan kuatnya ikatan batin antara bayi yang berada di dalam kandungan Felichia dengan Dean, hingga Dean bisa mengalami morning sickness padahal yang sedang mengandung adalah Felichia.
Ah, tapi Dean memang ayah kandung bayi itu.
Jadi hal ini memang sangat wajar.
"Mel," Dean sudah kembali dari muntah-muntahnya dan menghampiri Melanie yang masih duduk bersama Felichia.
"Kau masih mual-mual, Dean? Aku ambilkan obat, ya!" Tawar Melanie yang langsung membuat Dean menggeleng.
"Obat itu tidak berefek apapun. Mualku masih parah dan malah semakin menjadi," keluh Dean seraya merengut.
"Kau ingin makan sesuatu?" Tawar Melanie selanjutnya pada Dean.
Selain mual dan muntah, Dean memang sering ngidam hal-hal aneh dua bulan terakhir.
Seperti kemarin malam, saat Dean yang mendadak minta rujak nanas tengah malam yang bumbunya diuleg di atas cobek dan ngulegnya harus di depan Dean.
Lucu sekali, sampai koki harus bangun tengah malam dan menguleg bumbu rujak di depan Dean.
"Aku mau cheesecake itu!" Dean menunjuk ke arah cheesecake yang tinggal setengah loyang di atas meja karena yang setengah lagi sudah berpindah ke dalam perut Felichia.
"Itu bekasku. Sebaiknya kau minta yang baru ke koki, Mel!" Ucap Felichia seraya bangkit dari dudukmya dan menatap sinis pada Dean. Cara bicara Felichia juga terdengar sedang menyindir Dean yang sangat menghindari apapun yang baru saja Felichia sentuh.
"Akan aku pesankan yang baru ke koki," cetus Melanie seraya menjalankan kursi rodanya ke arah dapur.
"Terlalu lama jika harus menunggu koki membuat yang baru, Mel! Aku makan yang itu saja!" Ucap Dean seraya menunjuk sekali lagi pada cheesecake di atas meja. Melanie menghentikan kursi rodanya dan menoleh ke arah Dean.
"Suapi aku!" Pinta Dean dengan nada manja.
Melanie hanya menghela nafas dan kembali menghampiri Dean, lalu menyuapi suaminya tersebut dengan cheesecake yang tadi dimakan oleh Felichia.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1