Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
NGIDAM


__ADS_3

"Dean."


"Apa?"


"Aku ingin makan sesuatu," ucap Felichia sambil masih bergerak di atas Dean.


"Makan apa?" Tanya Dean yang juga tetap sibuk memainkan kedua gundukan Felichia yang terlihat menggantung dan menggiurkan. Sesekali Dean akan menjilatinya dan menghisap-hisapnya.


"Jajanan masa kecil yang dijual di pinggir jalan, di depan sekolah-sekolah itu. Ada cilok-" Felichia belum menyelesaikan kalimatnya saat Dean sudah memotong dengan cepat.


"Itu enak!"


"Es puter, sempol, telur gulung, es doger," Felichia menyebutkan semua makanan yang terlintas di kepalanya.


"Itu semua enak. Tapi kau yakin akan membeli semuanya?" Tanya Dean ragu.


"Ya!" Jawab Felichia yakin.


"Bisa kita membelinya sekarang?" Tanya Felichia merayu Dean.


"Tidak bisa, Sayang!" Dean menangkup wajah Felichia dengan gemas.


"Kita harus menyelesaikan yang ini dulu," lanjut Dean seraya memberikan kode pada Felichia agar kembali bergerak.


"Aku capek, Dean." Keluh Felichia yang sudah tak mau bergerak lagi dan kini wanita itu malah merebahkan kepalanya ke atas dada Dean.


"Pindah posisi kalau begitu," usul Dean seraya mengusap lembut kepala Felichia.


"Baiklah, aku setuju!" Jawab Felichia yang sudah langsung mengangkat kepalanya dan mengajak Dean berguling.


"Pelan-pelan, Sayangku!" Kekeh Dean yang kini sudah berganti posisi menjadi di atas Felichia.


Dean kembali melesakkan juniornya dalam milik Felichia, setelah tadi sempat terlepas. Pria itu memulai gerakannya dengan lembut dan matanya tak lepas menatap ke arah wajah Felichia yang bersemu merah.


"Ada apa?" Tanya Felichia yang merasa malu karena Dean yang tak lepas menatapnya.


"Tidak ada! Kau hanya semakin cantik saja," puji Dean masih menatap penuh cinta pada Felichia.


"Gombal!" Kikik Felichia yang sekarang malah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa ditutup?" Tanya Dean yang langsung menyingkirkan kedua telapak tangan istrinya tersebut.


"Kau membuatku malu." Felichia kembali tersipu.


"Aku suka melihat wajahmu yang memerah," ucap Dean seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Felichia. Lalu bibir Dean mulai bergerilya menyusuri setiap lekuk wajah istrinya tersebut, hingga kemudian berakhir di bibir merah Felichia yang selalu menjadi candu untuk Dean.


Felichia tanpa sungkan membalas kecupan panas Dean dan tentu saja hal itu membuat hasrat Dean semakin membuncah. Dean semakin semangat bergerak di atas Felichia hingga akhirnya pria itu mencapai pelepasannya.

__ADS_1


Dean masih belum melepaskan ciumannya di bibir Felichia, sekalipun ia sudah mencapai *******.


"Ayo mandi dan membeli rujak!" Ajak Felichia di sela-sela ciumannya bersama Dean.


"Bukankah tadi kau bilang mau membeli jajanan anak SD?" Tanya Dean bingung.


"Benarkah? Tapi sekarang aku mau rujak. Belinya berdua sama kamu, naik mobil kamu yang warna...." Felichia berpikir beberapa saat karena mobil Dean yang memang ada banyak dan beraneka warna.


"Warna kuning. Iya!"


"Kau juga harus pakai kaus warna kuning, lalu kita membeli rujak, dan nanti makan di sana, kau harus menyuapiku," tutur Felichia panjang lebar yang langsung membuat Dean garuk-garuk kepala.


"Semua itu harus dilakukan? Aku boleh memakai kaus warna lain?" Tanya Dean melakukan negosiasi.


"No!" Jawab Felichia tegas seraya menangkup wajah sang suami.


"Aku akan menyuruhmu tidur di teras kalau kau tidak memakai kaus warna kuning. Aku juga akan memakai gaun warna kuning, Dean" sambung Felichia lagi melayangkan ancaman.


"Ayolah, Fe! Itu konyol! Kenapa harus warna kuning? Bagaimana kalau warna putih atau hitam saja? Lagipula, yang warna kuning itu mobilnya Aaron dan bukan mobilku," ujar Dean mencari alasan.


"Jangan membantahku!" Felichia mendelik ke arah Dean yang langsung menciut.


"Aku ratu di rumah ini, jadi jangan pernah membantahku! Ingat!" Tegas Felichia sekali lagi yang hanya bisa membuat Dean berdecak.


Dean sendiri yang dulu mengatakannya, kalau Felichia adalah ratu di rumah ini.


"Baiklah, Ratuku yang manja! Berikan aku satu kecupan, lalu aku akan memandikanmu, dan setelahnya kita bisa lanjut pawai memakai baju serba kuning, naik mobil kuning, lalu membeli rujak!"


"Apa kita perlu membawa toilet sekalian?" Tanya Dean selanjutnya sedikit berkelakar.


Felichia sontak tergelak, sebelum kemudian wanita itu menarik kepala Dean dan menghadiahi sang suami ciuman panas di bibir.


****


"Anak-anak kemana, Mbak?" Tanya Felichia pada pengasuh Richard yang sedang membereskan ruang bermain.


"Baru saja tidur siang, Nona!"


"Semua?" Tanya Felichia sekali lagi.


"Iya, Nona!" Jawab pengasuh itu lagi.


Felichia segera masuk ke kamar ketiga anaknya untuk memeriksa. Benar saja, mereka bertiga tidur di karpet bawah dengan posisi Richard di tengah lalu Gika dan Naka di samping abangnya tersebut. Richard juga masih memeluk buku cerita bergambar di dadanya. Sepertinya tadi Richard membacakan cerita untuk kedua adiknya sebelum terlelap.


Felichia meraih selimut untuk menyelimuti ketiga putranya, lalu mencium kening mereka satu persatu. Wanita itu tersenyum dan hatinya terasa menghangat.


"Anak-anak tidak ikut?" Tanya Dean yang sudah menyusul masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Mereka masih tidur," jawab Felichia.


"Kita pergi berdua saja berarti sekalian pacaran," usul Dean seraya mengecup puncak kepala Felichia.


"Baiklah! Ayo, Mr. Yellow!" Felichia menarik tangan Dean yang sudah mengenakan kaus warna kuning dan sebuah celana jeans panjang.


Kalau bukan demi Felichia, Dean tak akan melakukan hal konyol ini!


Pasangan suami istri itu keluar dari pintu utama kediaman Alexander, dan langsung masuk ke dalam mobil sport Dean yang berwarna kuning terang.


Konyol sekali ngidamnya Felichia kali ini!


Hanya membeli rujak dan mereka harus memakai outfit serba kuning begini!


****


"Buka mulut!" Felichia menyuapi Dean yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus, dengan rujak yang tadi Felichia pesan.


"Pedas, Fe!" Dean mengipas-ngipaskan tangannya di depan mulut karena rasa pedas yang begitu menyiksa mulut dan perutnya.


"Cabenya cuma tujuh, Dean! Jangan lebay!" Decak Felichia yang masih tak berhenti menyuapi Dean sambil sesekali menyuapi dirinya sendiri.


"Kau saja yang menghabiskan! Aku tak kuat lagi!" Ucap Dean seraya mengangkat tangannya pertanda menyerah. Sejak dulu Dean memang tidak suka pedas, dan sekarang Felichia memaksanya makan rujak yang pedas sekali. Bisa-bisa Dean akan BAB api setelah sampai di rumah nanti.


"Ck! Dasar lemah!" Gumam Felichia yang akhirnya menghabiskan sendiri rujak pesanannya. Tak ada raut kepedasan sedikitpun di wajah istri Dean itu.


Apa lidah Felichia sedang mati rasa?


Atau indera perasa istri Dean itu sedang tak berfungsi?


Dean hanya bisa garuk-garuk kepala sambil masih terus berperang dengan rasa pedas yang membakar lodah dan mulutnya.


"Ayo pulang, Dean! Sekalian kita cari permen kapas bentuk bunga!" Ajak Felichia seraya beranjak dari duduknya dan menarik tangan Dean.


"Mau cari dimana, Fe?" Tanya Dean bingung.


"Tadi aku lihat di dekat pasar kota," jawab Felichia santai.


Dean tak bertanya lagi dan segera masuk ke dalam mobil bersama Felichia. Lalu tak berselang lama, mobil warna kuning milik Dean tersebut sudah melaju menuju ke arah pasar kota.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2