Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
MENCARI JAWABAN


__ADS_3

"Kau tahu Richard itu siapa, Aaron?" Tanya Dean pada Aaron di sela mereka membahas tentang pekerjaan via telepon.


"Richard adalah nama dari putramu, Dean."


Jawaban Aaron sesaat membuat Dean terdiam.


Richard putra Dean?


Ya,


Richard Deano Alexander, nama yang tersemat di sebuah batu nisan yang sering Dean kunjungi dan Dean berikan bunga. Dan itu adalah putra Dean yang meninggal tiga tahun silam.


Lalu Richard yang tadi Dean tolong?


Mungkinkah hanya kebetulan saja namanya sama?


Ah,


Mungkin memang hanya sebuah kebetulan saja.


"Dean!" Teguran Aaron dari seberang telepon membuyarkan lamunan Dean.


"Kau baik-baik saja, Dean?" Nada suara Aaron terdengar khawatir.


"Iya, aku baik-baik saja. Tadi aku hanya habis bertemu seorang anak bernama Richard yang sedang terbaring di rumah sakit," Dean bercerita pada Aaron.


"Anak yang kamu berikan darahmu?" Tebak Aaron.


"Iya. Kebetulan sekali namanya bisa sama dengan nama mendiang putraku dan golongan darah kami juga sama," Dean sedikit terkekeh.


"Lalu bagaimana kondisinya? Kau bertemu dengan orang tuanya?"


"Kondisinya sudah membaik tadi dan aku juga mengantarnya ke kamar perawatan. Aku hanya bertemu ibunya, dan kebetulan aku lupa bertanya siapa nama ibunya." Cerita Dean pada Aaron.

__ADS_1


"Ya, kalaupun kau bertanya, belum tentu juga kau ingat dengan nama ibunya Richard," timpal Aaron sedikit berkelakar.


"Aku belum pikun, Aaron!" Gertak Dean pada sekretaris kurang ajarnya.


"Iya, aku percaya! Aku juga tak mengatakan kau pikun. Kau sendiri yang mengatakannya barusan."


"Sudahlah! Aku tak mau lagi bicara denganmu! Cepat tutup telepon bodoh ini!" Omel Dean pada Aaron.


"Tinggal tekan tombol warna merah saja, Pak Dean Alexander!" Ujar Aaron dengan nada meledek.


"Aku tahu dan aku belum pikun!" Pungkas Dean kesal. Dean segera menekan tombol merah di layar ponselnya dan mengakhiri telrponnya bersama sekretaris pikunnya yang kurang ajar, Aaron Hernandez!


Menyebalkan sekali!


Dean men-charge ponselnya sebelum tidur lalu minum satu gelas air putih sesuai saran dari Aaron. Dean juga tidak tahu kenapa dia selalu menuruti kata-kata Aaron yang kerap membuatnya kesal itu.


Dean sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan matanya menatap ke langit-langit hotel tempatnya menginap saat ini. Tak butuh waktu lama, Dean sudah memejamkan kedua matanya dan terlelap masuk ke dalam alam mimpi.


Felichia belum bisa tidur, dan wanita itu hanya duduk diam seraya mengusap bergantian wajah kedua anak kembarnya yang sudah terlelap di atas sofa. Tadi Richard juga sudah sempat bangun dan minta makan, sebelum putra sulunghya itu kembaki terlelap.


Mbok Jum yang sedari siang menemani Felichia di rumah sakit, dan bolak-balik ke kantin untuk membeli makanan juga sudah terlelap tak jauh dari Felichia dan si kembar.


Felichia menatap sekali lagi pada wajah Mainaka dan Magika, putra kembarnya yang kini berusia dua tahun. Meskipun tadi Gika sempat demam, namun bocah lelaki itu sudah kembali ceria setelah minum obat dan istirahat sebentar. Felichia mengusap kepala balita laki-laki yang wajahnya mirip Dean tersebut. Berbeda dengan Naka yang wajahnya cenderung mirip dengan Felichia.,


Ya,


Felichia masih tak menyangka kalau saat dirinya membawa kabur Richard dari kediaman Dean tiga tahun silam, dirinya ternyata juga membawa benih Dean yang lain yang bersemayam di dalam rahimnya. Felichia memberikan pelajaran pada Dean, tapi dirinya juga seolah ikut merasakan karma akibat perbuatan liciknya sendiri.


Tiga bulan setelah pelariannya, Felichia baru sadar kalau ia mengandung anak Dean untuk yang kedua kalinya. Sempat terlintas di benak Felichia kala itu untuk menggugurkan kandungannya saja.


"Kandungan anda sudah lima belas minggu, Nona. Dan calon bayi anda kembar,"


"Selamat, ya!" Ucapan dari dokter kala Felichia memeriksakan kandungannya kala itu, sontak membuat niat Felichia untuk menggugurkan kandungannya menjadi urung. Felichia akhirnya meyakinkan dirinya sendiri kalau ia pasti bisa merawat ketiga anaknya kelak.

__ADS_1


Kini tanpa terasa, tiga tahun sudah Felichia lalui bersama ketiga putranya. Mereka memang tidak hidup bergelimang harta, namun keuntungan dari toko kecil Felichia yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga, sudah lebih dari cukup untuk menghidupi ketiga anaknya. Felichia juga tetap menempati rumah pemberian Nona Melody hingga detik ini.


"Mbak, belum tidur?" Teguran dari Mbok Jum membuyarkan lamunan Felichia.


"Belum ngantuk, Mbok!" Jawab Felichia seraya tersenyum.


"Gika demam lagi, Mbak? Atau Richard rewel?" Tanya Mbok Jum khawatir.


"Tidak, Mbok. Richard tadi hanya bangun karena haus. Setelah minum dia tidur lagi." Jawab Felichia seraya menatap ke arah Richard yang masoh terlelap di atas bed perawatan.


"Dan Gika juga sudah normal suhunya. Tidak demam lagi. Mungkin siang tadi Gika demam karena kelelahan saja," pendapat Felichia menenangkan Mbok Jum.


"Mbok tidur lagi saja akalau masih mengantuk! Aku juga mau tidur," titah Felichia selanjutnya pada ART-nya tersebut.


"Iya, Mbak. Iya! Mau ke kamar mandi dulu, panggilan alam," pamit Mbok Jum sebelum beranjak bangun dan wanita paruh baya tersebut segera menghilangmke dalam kamar mandi yang berada di sudut kamar perawatan.


Felichia membenarkan selimut si kembar dan menciumi wajah mereka bergantian, sebelum ikut merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur.


Ya, Felichia harus tidur agar besok dirinya tidak sakit dan tetap bisa merawat ketiga buah hatinya. Namun sekarang, pikiran Felichia sedang berkelana dan tertuju pada sesosok pria yang tadi siang mendonorkan darahnya untuk Richard.


Dean Alexander!


Ayah dari ketiga putra Felichia.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2