Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
DIKUNCI


__ADS_3

Felichia menyalakan lilin berbebtuk angka 28 yang tertancap di atas cake mini yang berada di tangannya. Felichia akan memberikan kejutan ulang tahun untuk Erlan yang malam ini genap berusia 28 tahun.


Felichia membuka pintu kamar perlahan, karena wanita itu memang hendak mengagetkan Erlan. Kamar gelap gulita karena Erlan yang sepertinya sengaja mematikan lampu kamar sebelum tidur.


Baiklah, tidak masalah.


Felichia menekan tombol saklar lampu di samping pintu masuk saat wanita itu terkejut setengah mati mendapati Erlan yang kini terbaring di atas ranjang bersama seorang wanita.


Tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka!


Tidak!


Tidak mungkin!


Kue di tangan Felichia sudah lolos dari gengggaman dan jatuh mengenaskan di atas lantai, porak poranda seperti halnya hati Felichia.


Erlan tidak mungkin mendua!


Erlan tidak mungkin mengkhianati Felichia.


Erlan hanya mencintai Felichia.


"Kau yang terlebih dulu berkhianat Felichia!"


"Kau yang mengkhianati pernikahan kita!"


"Kau yang membiarkan tubuhmu disentih oleh pria lain saat aku koma!"


"Kau pengkhianat, Felichia!"


"Kau pengkhianat!"


"Tidaaak!"


Felichia membuka kedua bola matanya dengan nafas yang memburu dan terengah-engah. Wanita itu menyapukan tatapannya pada kamar mewah di kediaman Alexander yang kini ia tempati.


Felichia masih berada di kedkaman Alexander.


Apa itu artinya, Felichia tadi hanya bermimpi?


Tapi kenapa semuanay terasa begitu nyata?


Kenapa Felichia bermimpi kalau Erlan berselingkuh?

__ADS_1


Felichia meraih gagang telepon di atas nakas dan segera menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala karena ia yang sering menghubunginya beberapa bulan terakhir, meskipun ujung-ujungnya Felichia hanya mendapat caci maki. Namun Felichia tetap pantang menyerah untuk mengorek informasi apapun tentang Erlan.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif."


Hanya ada suara operator yang menjawab telepon Felichia. Wanita itu menghela nafas kecewa dan mengusap wajahnya beberapa kali. Felichia melirik pada jam di atas nakas yang sudah menunjukkan hampir tengan malam.


Papa Panji pasti sudah istirahat jam segini. Mungkin besok saja Felichia menelepon mertuanya tersebut.


Felichia bangkit dari atas tempat tidur dan masuk ke kamar mandi sejenak, untuk mencuci muka sekaligus memenuhi panggilan alam. Tanpa Felichia sadari, knop pintu kamarnya yang memang Felichia kunci malam ini, sedang bergerak-gerak seolah ada seseorang yang sedang mencoba untuk membukanya dari luar.


****


Janji Dean pada Melanie untuk pulang cepat, terpaksa Dean ingkari karena kini Dean baru tiba di rumah saat jam menunjukkan hampir tengah malam. Semua ini karena Dean harus mendengarkan curhatan serta keluh kesah Aaron yang merasa patah hati karena Claudia yang ternyata selama ini Aaron sukai malah bertunangan ddngan Matthew Orlando.


Hhhh!


Aaron yang malang!


Dean juga terpaksa harus mengantar Aaron yang tadi mabuk berat, pulang ke apartemennya. Beruntung Dean hanya minum sedikit saat di kelab malam, jadi dirinya tidak ikut-ikutan mabuk dan masih bisa mengemudi ke apartemen Aaron dan ke rumahnya sendiri.


Dasar Aaron merepotkan!


Dean membuka pintu depan dan langsung mendapati suasana rumah yang sudah gelap gulita. Pria itu melemparkan jas serta dasinya secara serampangan di ruang tamu. Dean langsung pergi ke dapur untuk mrngambil air minum karena tenggorokannya terasa begitu kering, sekering gurun sahara sepertinya.


Pasti Felichia!


Yang doyan aneka jenis kue di rumah ini kan hanya Felichia!


Melanie camilannya hanyalah buah-buahan segar dan sayuran rebusxsetahu Dean.


Dean menyambar potongan kue coklat tersebut dan segera menyumpalkannya ke dalam mulut, tanpa memakai sendok apalagi garpu. Hanya dua suapan, dan kue sudah ludes tak bersisa. Dean kembali meneguk air putih dingin, lalu melempar botolnya serampangan dan tidak pas masuk ke dalam tempat sampah.


Biarkan saja!


Dean sedang merasa kegerahan sekarang.


Dean menutup pintu kulkas dan segera keluar dari dapur, saat netranya tak sengaja tertumbuk pada pintu kamar Felichia yang tepat berada di bawah tangga. Mengajak Felichia mandi sebentar sepertinya menyenangkan.


Dean sudah membayangkan tubuh sintal Felichia yang naked berdiri di bawah guyuran air shower, lalu Dean mendekapnya dari belakangdan meremas kedua gundukan kenyal Felichia yang semakin hari terlihat semakin menggiurkan itu. Lalu Dean juga akan mencecap ujungnya yang kemerahan.


Sial!


Dean benar-benar bergairah sekarang hanya karena membayangkan tubuh Felichia yang tak tertutupi sehelai benangpun. Milik Dean bahkan sudah terasa mengeras dan mendesak di bawah sana. Pengaruh alkohol yang tadi sempat Dean minum sebanyak dua gelas, semakin membuat otak mesum Dean berkobar hebat.

__ADS_1


Dean butuh pelepasan sekarang!


Dean membuka kancing kemejanya dan berjalan sedikit sempoyongan menuju ke arah pintu kamar Felichia. Dean sangat yakin kalau wanita hamil itu pasti tak mengunci pintu kamarnya seperti biasa.


Dasar wanita murahan yang sok jual mahal?


Mungkin dia menikmati juga saat dulu Dean menyentuhnya, makanya dia tak pernah mengunci pintu kamar hingga sekarang dan berharap Ddan akan masuk ke kamar lalu mencumbunya setiap malam dan membuatnya mendes*h nikmat.


Brengsek!


Dean sudah tak sabar untuk segera menelanjangi Felichia dan mencecap gundukan kenyalnya. Dean sudah meraih knop pintu kamar Felichia, saat pria itu mendapati pintu kamar yang dikunci dari dalam.


Apa?


Dean memutar-mutar knop pintu warna gold itu berulang kali untuk memastikan. Jangan-jangan Dean terlalu mabuk hingga tak kuat membuka pintu kayu sialan itu. Felichia tidak mungkin mengunci pintu kamarnya! Bukankah wanita itu begitu ceroboh?


"Brengsek!"


Dean mengumpat kesal masih sambil memutar-mutar knop pintu kamar Felichia. Dean hendak menggedor pintu kayu sialan itu saat ribuan atau bahkan jutaan kupu-kupu terasa memenuhi perut Dean.


Oh, Dean lupa!


Dean baru saja memaki dan mengatai Felichia


Sekarang Dean sedang menuai akibatnya.


Rasa mual di perut Dean benar-benar tak tertahankan bersamaan denagn sebuah teguran yang membuat jantung Dean nyaris melompat keluar.


"Tuan Muda, anda sedang apa?" Tanya kepala maid yang malah disambut dengan semburan muntah dari Dean tepat di depan kamar Felichia.


Hoekk!


Dasar brengsek!


.


.


.


Dasar Omes!


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2