Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
MENCARI KEBENARAN


__ADS_3

"Kau menolak segala tindakan autopsi yang akan dilakukan pada jenazah Richard kala itu."


"Kau menjerit-jerit di ruang jenazah. Berteriak-teriak dan terus minta agar diizinkan memeluk putramu untuk yang terakhir kalinya. Kau juga yang minta agar Richard bisa segera kau bawa pulang dan kau makamkan. Lalu kau menarahi semua dokter dan polisi." jelas Aaron panjang lebar pada Dean yang sejak tadi hanya membisu.


Ini bahkan hampir tengah malam, dan mungkin Aaron akan begadang lagi malam ini, bukan karena sang putri namun karena Aaron harus menceritakan semua hal yang sudah dilupakan oleh Dean, namun Dean malah mengingatnya lagi sebagian.


"Kita tak mungkin membongkar makam Richard dan Chia hanya untuk mencari tahu apa itu benar-benar jenazah merrka atau bukan, Dean!"


"Ini bahkan sudah lebih dari tiga tahun," Pendapat Aaron yang ikut-ikutan pusing dengan fakta mengejutkan yang disampaikan oleh Dean.


"Aaron, Richard masih hidup!"


"Aaaron, anak kecil yang aku tolong di kota S kemarin adalah Richard anakku, dan mom-nya yang bernama Fe itu adalah Felichia!"


Dean benar-benar seperti orang gila beberapa saat yang lalu karena terus-terusan mengucapkan kalimat itu sejak baru datang.


"Kau tahu, siapa kira-kira yang membantu Felichia melakukan semua drama ini? Felichia tak mungkin bekerja sendiri. Aaron!" Tanya Dean pada Aaron yang sedang menyesap kopinya di cangkir.


"Aku bukan cenayang! Jadi, mana aku tahu," jawab Aaron seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Mungkin kau bisa bertanya pada sahabat lamamu, Dean!" Usul Aaron yang tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.


"Sahabat lamaku siapa?" Tanya Dean bingung.


"Erlan Prakasa. Dia mantan suami Felichia dan kau pernah menemuinya beberapa bulan pasca kepergian Melanie untuk menanyakan keberadaan Felichia," jelas Aaron panjang lebar.


"Dia memberiku info tentang keberadaan Felichia?" Tanya Dean tak sabar.


"Tidak! Dia menolak memberimu info apapun tentang Felichia," jawab Aaron yang hanya membuat Dean berdecak kecewa.


"Tapi tak ada salahnya kau bertanya lagi kepadanya sekarang, Dean! Kau adalah pria baik sekarang dan bukan lagi Dean yang jahat," ujar Aaron lagi berpendapat.


Dean hanya diam dan kembali melihat foto dirinya bersama ketiga anaknya yang kini sudah berubah menjadi wallpaler di ponsel Dean.


Apa ketiga anak Felichia adalah darah daging Dean semuanya?


"Kau tahu dimana Erlan Prakasa tinggal sekarang, Aaron?" Tanya Dean selanjutnya pada Aaron.


"Aku tidak tahu."


"Tapi kau mungkin bisa mencarinya ke salah satu anak cabang perusahaan Orlando. Erlan bagian dari keluarga Orlando sekarang setelah pria itu menikahi Navya Orlando," lanjut Aaron memberikan informasi pada Dean.


Dean tak menjawab dan langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu utama rumah Aaron.


"Aku pulang dulu, Aaron! Maaf mengganggumu malam-malam," pamit Dean yang hanya dijawab Aaron dengan decakan kesal.


"Nasib bawahan memang!"

__ADS_1


****


Dean baru saja akan mengetuk pintu di depan nya, saat tiba-tiba pintu itu malah sidah terbuka sendiri dari dalam.


Dibuka oleh seseorang lebih tepatnya.


"Dean?" Gumam Erlan yang ternyata baru saja membuka pintu di hadapan Dean. Wajah Erlan terlihat sangat kaget.


"Erlan, apa kau sibuk? Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Dean berbasa-basi pada mantan sahabatnya tersebut.


"Kabarku baik," jawab Erlan tergagap.


"Kau sendiri bagaimana?" Erlan balik berbasa-basi pada Dean.


"Aku juga baik dan sehat," jawab Dean seraya mengulas senyuman hangat pada Erlan.


"Oh, iya! Silahkan masuk, Dean!" Erlan mempersilahkan Dean untuk masuk ke ruangannya meskipun sedikit canggung.


"Terima kasih," ucap Dean yangbsudah mengekori Erlan untuk masuk ke dalam ruangannya. Kini Dean dan Erlan sudah sama-sama duduk di sofa yang berada di dalam ruangan Erlan.


"Jadi, ada keperluan apa kau menemuiku setelah sekian tahun kau tidak ada kabar, Dean?" Tanya Erlan yang terlebih dahulu buka suara.


"Ini soal Felichia dan anakku Richard," jawab Dean to the point.


"Maaf. Tapi bukankah aku sudah mengatakannya beberapa tahun yang laj kalaj aku tidak tahu Felichia dimana."


"Itu bukan jenazah putraku!" Ujar Dean membalas tatapan tegas Erlan.


Erlan mendengus dan membuang wajahnya dari tatapan Dean.


"Kau tahu sesuatu tentang kecelakaan itu, Erlan!" Tebak Dean mendesak penjelasan dari Erlan.


"Kau pantas mendapatkannya, Dean!" Jawab Erlan yang sudah ganti menatap sengit pada Dean.


"Berarti benar putraku masih hidup hingga detik ini. Dan Chia..."


"Chia itu adalah Felichia!" Ucap Erlan menyambung kalimat Dean.


"Felichia sengaja menyamar menjadi seorang baby sitter, agar dia bisa mengambil kembali Richard yang pernah kau rampas secara paksa dari pelukannya."


"Kau yang pernah secara kejam memisahkan seorang anak dari ibunya selama berbulan-bulan hingga anak itu kehilangan haknya untuk mendapatkan ASI dari ibu kandungnya!"


"Iblis macam apa kau itu, Dean?" Cecar Erlan panjang lebar yang begitu tajam seperti sebilah pedang yang kini mengiris hati Dean.


Ya, dulu Dean memang pria berhati iblis!


"Seharusnya kau membawa serta Felichia kalau memang kau menginginkan Richard! Bukan malah memisahkan mereka dengan cara kejam seperti itu!"

__ADS_1


"Felichia dan Richard adalah satu kesatuan yang tak seharusnya kau pisahkan secara paksa! Mereka adalah ibu dan anak yang punya hak untuk selalu bersama-sama!"


"Jadi kau tak perlu merasa marah, jika akhirnya Felichia melakukan perbuatan licik demi bisa mengambil kembali Richard dari tanganmu dan membuat kau hancur."


"Felichia bukan orang jahat. Felichia hanyalah seorang ibu yang perasaannya begitu terluka karena kau pisahkan secara paksa dari bayi yang baru ia lahirkan!"


"Kau yang jahat, Dean!"


"Kau yang jahat!" Cecar Erlan sekali lagi yang akhirnya membuka semua fakta tentang kecelakaan tiga tahun silam yang benar-benar mejbuat Dean hancur dan mencapai titik terendah dalam hidupnya.


Ya,


Felichia benar-benar sudah berhasil membuat Dean menjadi hancur sehancur-hancurnya.


Dan itu semua akibat perbuatan jahat Dean pada wanita itu.


Tapi kenapa Felichia tidak mengusir Dean saat mereka bertemu di kota S kemarin?


Felichia bahkan bersikap begitu welcome pada Dean dan tak sedikitpun melarang Dean memeluk atau bermain bersama ketiga anaknya.


Apa karena Dean yang tidak ingat pada Felichia dan Richard?


Jika hal itu memang benar adanya, Dean akan selamanya menjadi pria yang hilang ingatan agar ia bisa kembali memeluk Richard dan dua putranya yang lain.


Gika dan Naka.


Mereka pasti juga adalah anak-anak Dean.


Firasat Dean tiga tahun yang lalu saat ia mengalami syndrome kehamilan simpatik ternyata benar adanya. Chia yang sebenarnya adalah Felichia waktu itu memang sedang mengandung anak Dean, si kembar Magika dan Mainaka.


Dean tersenyum sendiri meskipun kini matanya juga berkaca-kaca karena mengingat ketiga buah hatinya yang sudah tumbuh besar. Dean ingin bertemu mereka sekarang dan memeluk mereka sekali lagi. Memeluk sebagai seorang ayah dan bukan sebagai orang asing lagi.


"Dean?" Erlan sedikit bingung melihat Ean yang hanyabdiam seja tadi dan bibir pria itu yang kadang tersenyum tapi sambil menitikkan airmata. Dean seolah sedang meratapi sesuatu.


"Terima kasih atas semua ceritamu, Erlan." Ucap Dean seraya menghapus airmata dari wajahnya. Pria itu juga sudah beranjak dari sofa dan kini berjalan ke arah pintu keluar.


"Aku permisi dulu, Erlan! Selamat siang!" Pamit Dean tanpa sedikitpun menatap pada Erlan. Pria itu sudah dengan cepat menghilang keluar dari ruangan Erlan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2