
"Sebaiknya kau membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap, Dean!" Ucap Paman Dokter setelah memeriksa kondisi Melanie yang tadi sempat pingsan di kamar mandi.
"Melanie baik-baik saja, Paman! Tadi itu Melanie hanya kelelahan karena acara di hotel," sela Melanie menolak saran Paman Dokter agar ia ke rumah sakit.
"Nanti Dean akan membujuk keponakan Paman yang keras kepala ini dulu agar mau ke rumah sakit," ucap Dean akhirnya melerai perdebatan Melanie dan Pamam Dokter.
"Sebaiknya memang begitu! Hanya kau yang selalu bisa merayu dan membujuknya, Dean!" Kekeh Paman Dokter yang sudah selesai membereskan peralatannya.
"Bedrest! Dan jangan bepergian dulu!" Pesan Paman Dokter selanjutnya pada Melanie yang hanya mengangguk, meskipun bibir wanita itu terlihat merengut.
"Oh, iya. Kau masih mual dan muntah-muntah, Dean?" Paman Dokter ganti bertanya pada Dean.
"Hanya kadang-kadang, Paman!"
"Tapi semakin parah, Paman!" Timpal Melanie memberikan laporan.
"Oh, ya? Aneh sekali, mengingat kandungan Felichia yang sudah masuk trimester ketiga." Paman Dokter berucap seraya bergumam.
Dean tak berani buka suara tentang penyebab mual muntahnya yang sebenarnya hanya saat Dean memaki, mencerca, atau mengatai Felichia. Kalau Dean berbuat baik pada wanita hamil itu dan memuji-mujinya setinggi langit, Dean tak akan mual apalagi muntah seharian.
Dasar wanita hamil haus pujian!
Sial!
"Maaf permisi," Dean bangkit berdiri dengan cepat dan berlari masuk ke toilet jntuk muntah-muntah. Padahal hanya membatin satu kalimat, dan Dean langsung mual muntah tak karuan. Sepertinya sihir wanita bernama Felichia itu semakin kuat.
"Paman lihat sendiri, kan?" Ucap Melanie seraya tersenyum kecut.
Sepertinya Melanie mulai kesal dengan ikatan batin antara Felichia yang hamil tapi Dean yang merasakan mual dan muntah.
"Bersabarlah, Mel! Hanya tinggal dua bulan lagi," Hibur Paman Dokter menenangkan hati Melanie.
"Ya!" Hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Melanie.
****
"Kau sakit, Fe? Kenapa wajahmu sembab?" Tanya Paman Dokter saat akan pulang dan tak sengaja berpapasan dengan Felichia di ruang tengah. Tadinya Felichia mau ke dapur mengambil makanan.
"Tidak, Paman Dokter. Felichia hanya sedikit flu."
Lagi-lagi alasan itu yang Felichia pakai. Padahal jelas-jelas Felichia tadi menangis lama di kamar karena perbuatan Dean dan karena Felichia yang tidak rela anaknya kelak diambil oleh Melanie dan Dean.
"Paman periksa sebentar. Ayo!" Ajak Paman dokter seraya membimbing Felichia agar duduk di sofa. Dokter langganan keluarga Alexander yang juga adalah paman Melanie itu mulai memeriksa Felichia.
"Tekanan darahmu rendah. Kau kurang tidur? Atau sedang banyak pikiran?" Tanya Paman Dokter setelah memeriksa tensi Felichia.
"Felichia tidak bisa tidur malam beberapa minggu terakhir, Paman! Tapi kata dokter kandungan itu hal normal karena sudah masuk trimester tiga," jawab Felichia sedikit menjelaskan.
__ADS_1
"Dan kau pasti tak pernah jalan-jalan pagi," tebak Paman Dokter seraya menunjuk ke arah kaki Felichia yang bengkak.
"Yang itu-" Felichia garuk-garuk kepala.
"Jalan-jalan di mall mungkin bisa membantu jika kau merasa bosan, Felichia!" Saran Paman Dokter.
Jalan-jalan di mall dan dikawal selusin bodyguard?
Bukannya membuat otak fresh, malah seperti tahanan kota.
"Nanti Felichia minta izin ke Melanie dulu, Paman," jawab Felichia akhirnya.
Ya, ya, ya!
Melanie sudah seperti ibu kost-nya Felichia saja karena apapun yang dilakukan Felichia harus minta izin pada Nyonya Muda Alexander itu.
"Asal jangan mengajak Melanie jalan-jalan dulu," kekeh Paman Dokter yang kembali membereskan peralatannya.
"Melanie kenapa, Paman? Tadi Felichia dengar dia pingsan di kamar mandi," Felichia akhirnya bertanya karena kepo.
Tadi Felichia hanya mendengar dari bisik-bisik maid setelah Melanie pingsan dan Dean berteriak-teriak seperti orang gila.
Ya, pria itu memang gila menurut Felichia.
"Hanya kelelahan karena terlalu banyak menghadiri acara orang-orang kaya," jawab Paman Dean sedikit berkelakar. Felichia hanya membulatkan bibirnya.
Selesai mengantar Paman Dokter, Felichia berbalik dan hendak kembali ke dapur, saat Dean tiba-tiba sudah menghadang langkah Felichia dan melempar tatapan tajam ke arah Felichia.
Baiklah, apalagi sekarang?
"Sedang menggoda dan merayu Paman Dokter?" Tanya Dean dengan nada sinis.
Felichia benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol Dean. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada pria menyebalkan ini, tapi semakin hari sifatnya semakin membuat jengkel dan emosi.
"Aku rasa tuduhanmu salah tempat!" Jawab Felichia dengan nada ketus. Dean kembali melempar tatapan marah pada Felichia.
"Lagipula, bukan urusanmu aku mau menggoda siapa atau dekat dengan siapa. Kau tidak ada hak ikut campur dalam semua urusanku!" Lanjut Felichia menatap sengit dan berani ke arah Dean.
"Kau!" Dean menuding ke arah Felichia namun Felichia hanya acuh dan dengan cepat berlalu meninggalkan Dean.
Langkah besar Dean bisa dengan cepat menyusul Felichia.
"Kau benar-benar seorang wanita murahan, Felichia!" Ucap Dean seraya mencekal tangan Felichia.
Namun Felichia menyentak dengan cepat dan kasar
"Erlan pasti menyesal karena sudah menikahi wanita murahan seper-"
__ADS_1
Plak!
Tangan Felichia langsung melayang begitu saja dan mendarat dengan keras di pipi kiri Dean. Felichia ganti melempar tatapan tajam membunuh ke arah Dean yang kini juga menatapnya dengan tajam.
Felichia tak berucap sepatah katapun dan segera berlalu masuk ke kamar, lau membanting pintu. Sedangkan Dean yang kepala dan dadanya masih dipenuhi oleh rasa emosi, tiba-tiba merasakan mual hebat yang menyerang perutnya.
Tidak!
Wanita murahan dan menyebalkan itu tidak mungkin membuat Dean mual-mual lagi!
Dean mencoba menahan rasa mual dan ingin muntahnya. Namun sepertinya sia-sia karena sekarang Dean sudah berlari dengan cepat masuk ke dalam toilet.
"Brengsek!"
"Sialan!"
Umpat Dean sebelum kembali muntah-muntah.
Hampir satu jam Dean keluar masuk toilet untuk menguras isi perutnya.
Rasanya benar-benar menyebalkan!
Dean kembali masuk ke kamar Melanie setelah mual-mualnya berhenti. Dean benar-benar tak paham dengan dirinya sendiri yang mudah sekali mual hanya karena merasa kesal pada Felichia.
Dan Dean juga masih bingung kenapa tadi dia menunjukkan di depan Felichia kalau seolah dia merasa cemburu pada kedekatan Felichia dan Paman Dokter.
Tapi sebenarnya Dean memang cemburu.
Tapi kenapa Dean harus cemburu?
Dean bahkan tidak punya perasaan apapun pada Felichia dan Dean sangat benci pada wanita itu.
Satu-satunya yang Dean inginkan dari Felichia hanyalah tubuhnya yang sintal yang mungkin bisa menjadi pemuas hasrat Dean karena sekarang Melanie menjadi kurang menarik di mata Dean.
Sial!
Dean menatap pada tubuh kurus Melanie yag kini terbaring di hadapannya. Dean mendekap tubuh itu dan berusaha menyingkirkan bayang-bayang Felichia dari kepalanya. Tidak ada reaksi apaun dari Melanie karena istri Dean itu memang langsung tidur setelah tadi minum obat.
"Maafkan aku, Sayang!" Gumam Dean yang semakin mengeratkan dekapannya pada Melanie.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.