
Enam bulan kemudian,
"Kita akan pergi ke kediaman Alexander dan mengambil balik bayimu, Fe!" Ucap Erlan berapi-api, sesaat setelah drama talak yang ia layangkan pada Felichia.
"Aku akan kesana sendiri dan mengambil bayiku, Erlan," jawab Felichia dengan wajah tegar. Saat ini yang Felichia inginkan hanyalah hidup bersama bayinya dan menjauh dari semua orang.
"Fe," Navya yang sejak tadi hanya diam akhirnya buka suara. Wanita itu masih sesenggukan karena menangisi Erlan yang begitu mudahnya melayangkan talak cerai pada Felichia. Tapi semua sudah terlanjur. Jadi apa mau dikata.
"Kita tidak bisa mengambil bayimu dari kediaman Dean." Navya berucap sepelan mungkin meskipun ia yakin kalau ini tak akan banyak membantu. Felichia pasti akan tetap menangis saat tahu kenyataan tentang bayinya yang sudah dibawa pergi jauh oleh Dean.
"Kenapa memangnya, Nav? Felichia punya hak penuh atas bayinya!" Sergah Erlan dengan nada meninggi
"Dean sudah membawa pergi bayi Feli ke luar negeri!" Jawab Navya cepat yang langsung membuat Felichia membeku. Tulang-tulang Felichia seakan dilolosi dari sendinya. Wanita itu langsung jatuh terduduk di sofa dan raut wajahnya berubah lesu.
"Mereka berangkat kemarin malam," sambung Navya lagi.
"Aku sudah minta anak buah Abang Matthew untuk mencari informasi ke negara mana mereka pindah. Tapi tidak ada info apapun. Maaf, Felichia," ucap Navya prihatin seraya merangkul dan memeluk Felichia yang langsung menangis tergugu.
Satu-satunya harapan Felichia seolah sudah ikut terbang meninggalkannya. Kenapa takdir harus sekejam ini?
"Fe! Kau sudah selesai mengupas mangganya?" Teguran dari Nona Melody langsung membuat semua lamunan Felichia tentang kejadian enam bulan yang lalu menjadi buyar.
"Eh, sudah selesai, Nona!" Jawab Felichia yang langsung buru-buru membawa sepiring buah mangga ke hadapan Nona Melody.
Sudah enam bulan terakhir Felichia berusaha mengalihkan kesedihannya dan wanita itu bekerja sebagai pelayan pribadi Nona Melody yang merupakan istri dari Matthew Orlando.
Ya, awalnya memang Navya yang menawarkan pekerjaan ini.
Navya terus meyakinkan Felichia kalau suatu hari nanti Dean dan Melanie pasti akan kembali pulang ke negara ini. Lalu Navya menyarankan agar Felichia tinggal dan bekerja di kediaman sang abang sambil menunggu Dean kembali dan mencari kesempatan untuk kembali mengambil bayinya. Anak buah Matthew juga terus mengawasi kediaman Alexander dan akan segera memberikan laporan jika ada pergerakan di rumah besar yang sudah kosong enam bulan terakhir tersebut.
"Terima kasih, Fe!" Ucap Nona Melody setelah Felichia menyajikan sepiring mangga di hadapannya. Felichia menatap sejenak pada perut Nona Melody yang sudah membulat.
Ya, istri Tuan Matthew itu memang sedang hamil tujuh bulan sama seperti halnya Navya. Entah bagaimana ceritanya mereka berdua bisa hamil secara bersamaan.
"Kau mau mangganya, Fe?" Tawar nona Melody yang memang selalu bersikap ramah dan hangat. Tak ada sedikitpun sifat sombong dalam diri nona muda baik hati tersebut. Ia juga memperlakukan Felichia lebih seperti sahabatnya dan bukan sebagai pelayan. Tak heran jika Tuan Matthew begitu tergila-gila pada istrinya ini.
"Tidak usah, Nona! Saya akan mengupas sendiri nanti jika menginginkannya." Jawab Felichia seraya tersenyum.
__ADS_1
"Ya. Kau selalu menjawab seperti itu!" Sahut Nona Melody seraya tertawa kecil.
Tak berselang lama, Tuan Matthew sudah pulang dari kantor. Seperti biasa, tuan muda itu akan langsung menyapa sang istri dan sang calon anak. Benar-benar keluarga kecil yang bahagia. Menyaksikan mereka tersenyum saja sudah membuat hati Felichia bahagia.
Seperti yang dikatakan oleh Erlan, mereka memanglah orang-orang yang baik.
"Fe! Duduklah kesini! Matthew punya berita penting untukmu," titah Nona Melody yang kembali membuyarkan lamunan Felichia.
"Berita penting apa, Tuan?" Tanya Felichia penasaran.
"Duduklah dulu!" Gantian Tuan Matthew yang memberikan perintah seraya mengendikkan dagunya ke arah sofa single di dekat Nona Melody.
Felichia menurut dan langsung duduk. Wanita itu benar-benar tak sabar untuk segera mendengarkan berita penting yang akan disampaikan Tuan Matthew.
"Aku baru saja mendapat kabar kalau Dean Alexander sudah kembali ke negara ini," kalimat pertama yang diucapkan oleh Tuan Matthew langsung bisa membuat raut wajah Felichia berbinar tak sabar.
Akhirnya...
Felichia akan bisa merebut kembali putranya dari Dean iblis yang tak punya hati itu.
"Dan kabar bagus lainnya, Dean sedang mencari seorang pengasuh untuk anaknya-"
"Tuan, apa boleh jika saya-"
"Kau harus mengubah penampilanmu dulu agar Dean tidak curiga, Fe!" Nona Melody memotong kalimat Felichia dengan cepat.
"Melody benar. Aku sarankan kau memotong rambutmu, lalu sedikit mengubah wajahmu dan-" tuan Matthew terlihat berpikir beberapa saat.
"Memakai kacamata dan menambah satu atau dua tahi lalat," Nona Melody menyambung ide sang suami.
Suami istri itu sepertinya kompak sekali.
"Nah! Aku setuju!" Timpal Tuan Matthew menyetujui usulan sang istri.
"Aku juga akan memasukkan datamu ke yayasan penyalur baby sitter agar Dean tak curiga," lanjut Tuan Matthew lagi yang benar-benar membuat Felichia tak berhenti berucap syukur.
"Terimakasih Tuan Matthew. Terima kasih, Nona Melody," ucap Felichia tulus pada dua orang baik di depannya tersebut.
__ADS_1
"Nanti kau bisa ke salon untuk memotong rambut, Fe! Aku akan menyuruh kepala maid menemanimu," tukas Nona Melody yang langsung diiyakan oleh Felichia.
Felichia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan putranya.
****
Dean masuk ke rumah yang sudah enam bulan ia tinggalkan tersebut dengan wajah tertunduk lesu. Pria itu mengeratkan dekapannya pada Richard yang terlelap di dalam gendongannya. Hati Dean rasanya sedang porak poranda karena kepergian Melanie yang begitu mendadak, tiga hari yang lalu.
Dean dan Melanie memang pindah ke luar negeri enam bulan yang lalu agar Melanie bisa menjalani pengobatan yang lebih baik untuk kankernya. Namun setelah perjuangan panjang Melanie dan saat kondisi istri Dean itu dinyatakan membaik, sebuah kecelakaan malah menghampiri Melanie tanpa Dean duga.
Melanie jatuh terpeleset di kamar mandi, dan istri Dean itu langsung kritis selama dua hari sebelum akhirnya Melanie pergi untuk selamanya meninggalkan Dean dan juga Richard yang kini tak lagi bisa merasakan kasih sayang seorang Mom.
"Selamat pagi, Tuan Dean!" Sapa kepala maid menyambut kedatangan Dean.
"Kau sudah mencari pengasuh untuk Richard?" Tanya Dean to the point masih sambil menggendong Richard.
Bagi Dean, Richard adalah hidupnya dan segalanya sekarang.
"Sudah ada beberapa yang sesuai kriteria anda, Tuan! Siang ini mereka akan datang untuk anda wawancarai," jelas kepala maid yang hanya dijawab Dean dengan anggukan kepala.
Dean lanjut masuk ke kamar untuk membaringkan Richard yang baru genap berusia enam bulan. Rasanya akan kewalahan sekali jika Dean tak memakai jasa pengasuh. Mama dan Papa Dean juga langsung kembali lagi ke luar negeri hari ini setelah acara pemakaman Melanie dua hari yang lalu.
Dan Dean harus tetap melanjutkan bisnis keluarganya di negara ini dan di kota ini.
Hanya berdua bersama Richard.
Aku merindukanmu, Melanie!
Kenapa cepat sekali kau pergi meninggalkan aku dan Richard?
.
.
.
Karma Dean masih panjang lagi, ya.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.