Rahim Untuk Sahabat Suamiku

Rahim Untuk Sahabat Suamiku
SURAT CERAI


__ADS_3

Erlan mengusap wajahnya berulang kali setelah membaca surat gugatan cerai yang baru saja di antarkan oleh Navya. Rasanya jadi serba salah, karena Erlan harus menyakiti hati satu wanita demi menjaga hati dan perasaan wanita lain.


Erlan sesegera mungkin menepis keraguan di dalam hatinya, karena bagaimanapun, Erlan tetap harus menandatangani surat cerai ini.


Erlan segera meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya ke atas kertas tepat di atas namanya sendiri.


Ya,


Kini Erlan dan Navya sudah resmi berpisah.


Telepon di atas meja berdering. Segera Erlan mengangkatnya.


"Halo!"


"Pak Erlan, Nona Navya pingsan di ruang meeting."


"Apa!" Erlan menutup telepon dengan tergesa dan segera melesat keluar dari ruangannya, mengabaikan surat cerai yang masih tergeletak di atas meja kerjanya.


****


Felichia menarik nafas panjang sekali lagi karena kontraksi palsu yang sejak pagi hilang timbul kini kembali Felichia rasakan. Wanita itu menatap pada layar kecil di atas pintu lift yang menampilkan nomor lantai yang dilalui oleh lift.


Sebenarnya Felichia masih takut untuk keluar dari apartemen Navya, meskipun ini sudah satu bulan sejak Felichia kabur dari kediaman Alexander. Tapi mendadak Felichia rindu pada Erlan dan ingin makan siang bersama suaminya tersebut. Jadi setelah sedikit memodifikasi penampilannya, Felichia akhirnya naik taksi ke kantor Erlan dan mengantarkan makan siang Erlan.


Dan disinilah Felichia sekarang. Di dalam lift yang akan mengantarnya ke lantai tempat ruangan Erlan berada.


Ting!


Suara yang menandakan lift telah sampai di tujuan, langsung membuat lamunan Felichia selesai.


Felichia melangkahkan kakinya keluar dari lift dan langsung menuju ke ruangan yang berada di ujung lorong. Tadi kata resepsionist di bawah, ruangan Erlan memanglah itu.


Erlan Prakasa


Felichia membaca tulisan di pintu, dan semakin yakin kalau itu adalah ruangan sang suami. Jadi Felichia hanya mengetuk sebentar sebelum mendorong pintu tersebut hingga menjeblak terbuka.


Ruangan kosong.


Kemana Erlan?


"Erlan!" Panggil Felichia seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Namun tidak ada jawaban dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Erlan.


Atau mungkin suami Felichia itu sedang keluar?


Sebaiknya Felichia-


"Aduuuh!" Felichia meringis karena kontraksi yang kembali datang.


Aneh sekali, hari perkiraan lahir masih dua minggu lagi, lalu kenapa kontraksi hari ini terasa kuat sekali?


Felichia berpegangan pada meja kerja Erlan yang kebetulan ada di dekatnya seraya menarik nafas panjang berulang kali.


"Aduh, aduuh!" Felichia kembali meringis dan mengeratkan genggamannya pada meja kerja Erlan, saat kedua netranya secara tak sengaja membaca sekilas kertas yang tergeletak di atas meja. Ada logo kantor pengadilan agama di bagian kop atas surat dan itu terlihat seperti sebuah...


Surat perceraian!


Tapi surat perceraian siapa itu?


Kenapa ada di atas meja Erlan?


Felichia meraih surat perceraian tersebut, lalu membacanya dengan runut, saat kedua nama yang tersemat di dalam surat membuat Felichia melupakan kontraksi dan rasa sakit di perutnya.


Navya Orlando dan Erlan Prakasa!


Navya dan Erlan bercerai?


Apa itu artinya mereka pernah menikah sebelumnya?


Navya dan Erlan sudah pernah menikah!

__ADS_1


Lalu kenapa Erlan tak memberitahu Felichia.


Pyok!


"Ah!" Felichia kembali meringis dan melihat ke bagian bawah tubuhnya, saat wanita itu mendapati cairan bening yang mengalir dari kedua pangkal pahanya.


Surat cerai Erlan yang tadi dipegang Felichia lolos begitu saja, dan Felichia langsung jatuh terduduk di atas lantai ruangan Erlan.


Tidak!


Ketuban Felichia sepertinya baru saja pecah!


****


"Nav," Erlan menepuk lembut pipi Navya setelah mengoleskan minyak kayu putih ke beberapa bagian tubuh wanita tersebut.


Navya membuka mata perlahan dan mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali sebelum akhirnya kesadaran wanita itu kembali.


"Erlan?" Pangiil Navya lirih yang langsung berusaha untuk bangun. Erlan membantu Navya untuk bangun dan duduk.


"Aku kenapa? Bukankah aku tadi sedang meeting bersama klien?" Tanya Navya bingung.


"Kau pingsan di ruang meeting. Apa kau tidak sarapan?" Tanya Erlan menyelidik.


"Sudah! Mungkin aku hanya lelah," jawab Navya seraya menarik nafas panjang.


"Kau sudah tanda tangan di surat perceraian kita, Erlan?" Tanya Navya mengingatkan.


"Iya, sudah! Tapi tadi masih di ruanganku karena aku buru-buru kesini setelah salah satu karyawan memberitahuku kalau kau pingsan." Jawab Erlan seraya mengambil segelas air putih dan mengangsurkannya pada Navya.


"Kau mau aku antar ke dokter?" Tawar Erlan pada Navya.


"Tidak usah! Aku sudah baik-baik saja!" Tolak Navya cepat.


"Aku akan mengambil surat cerainya ke ruangannu saja," lanjut Navya yang hendak bangkit berdiri.


Masih sedikit sempoyongan, jadi Erlan dengan sigap menopang tubuh Navya.


Ting!


Setelah lift berbunyi Navya dan Erlan keluar bersamaan dari dalam lift dan langsung menuju ke ruangan Erlan di ujung lorong.


Erlan membuka pintu ruangan dan segera mempersilahkan Navya masuk, saat Erlan mendapati Felichia yang masih terduduk di lantai seraya meringis dengan cairan bening yang masih mengalir dari pangkal pahanya.


"Ya, Tuhan! Felichia!" Pekik Erlan yang buru-buru menghampiri Felichia dan memberikan pertolongan.


Sementara Navya langsung sigap meraih telepon untuk memanggil bantuan.


"Ketubanku pecah," ucap Felichia terbata-bata pada Erlan.


"Kita akan ke rumah sakit!" Jawab Erlan yang langsung berusaha menggendong Felichia. Navya sigap membantu, bersamaan dengan bala bantuan yang sudah datang.


Tak butuh waktu lama, dan Felichia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


****


Dean masih menunggu Melanie yang sedang menjalani terapi pengobatan, saat sebuah pesan masuk ke ponsel Dean.


[Maaf, Tuan. Saya melihatnya di depan kantor Orlando siang ini. Apa ini Nona Felichia?]


Sebuah foto ikut masuk ke ponsel Dean memperlihatkan seorang wanita dengan perut semangkanya dan mengenakan kerudung serta kaca mata hitam hendak masuk ke dalam kantor cabang milik perusahaan Orlando.


Brengsek!


Itu memang Felichia!


Sedang apa dia di kantor Orlando?


Menjual diri?


Ah, sial!

__ADS_1


Dean kembali harus mengumpat saat rasa mual itu kembali datang menyergap. Sial sekali nasib Dean yang masih terus muntah-muntah setiap kali Dean merutuki Felichia.


Setelah menghentikan umpatannya pada Felichia, mual dan muntah Dean akhirnya ikut berhenti. Pria itu keluar dari toilet dan kembali ke ruang terapi.


Rupanya terapi Melanie sudah selesai dan istrinya itu sudah berada di luar ruangan bersama seorang perawat.


"Kau darimana, Dean?" Tanya Melanie pada Dean yang baru datang.


"Dari toilet. Ada panggilan alam," jawab Dean seraya mengecup kening Melanie.


"Kita pulang sekarang, aku punya kabar baik untukmu sebentar lagi," ucap Dean yang langsung membuat Melanie penasaran.


"Kabar apa? Kau sudah tahu keberadaan Felichia?" Tebak Melanie yang sepertinya pandai sekali membaca pikiran Dean.


"Kau akan tahu nanti!" Jawab Dean seraya mendorong kursi roda Melanie ke arah lift. Dean akan membawa istrinya itu pulang dulu, sebelum menjemput dan menyeret Felichia pulang.


[Ya, itu Felichia. Awasi terus dan buntuti dia!] -Dean-


****


Dean baru selesai memindahkan Melanie masuk ke dalam mobil, saat sebuah ambulance berhenti dibdepan ruang UGD rumah sakit. Dean tadinya hanya abai, namun melihat Erlan yang keluar dari dalam ambulance, Dean mendadak kaget.


"Dean," panggil Melanie dari dalam mobil.


"Sayang, sebentar! Ada yang tertinggal di dalam. Aku akan segera kembali," pamit Dean cepat sebelum Melanie sempat mengangguk.


Dean menutup pintu mobil dan minta sopir menunggunya dulu karena Dean ingin memastikan apa yang terjadi pada Erlan.


Kenapa pria itu keluar dari ambulance?


Dean berlari ke arah UGD, dan langsung bisa melihat Erlan yang panik di depan UGD.


"Erlan! Apa yang terjadi?" Tanya Dean yang sudah dengan cepat menghampiri teman baiknya tersebut.


"Felichia mengalami pecah ketuban dan dia akan segera melahirkan, Dean," jawab Erlan yang begitu panik.


Deg!


Tunggu!


Jadi selama ini?


"Istrimu sudah ketemu?" Tanya Dean berpura-pura.


"Ya, baru sebulan yang lalu dia tiba-tiba pulang. Dan ternyata dia tengah hamil anakku," jawab Erlan dengan mata berbinar.


"Aku akan menjadi seorang ayah sebentar lagi," cerita Erlan lagi pada Dean masih dengan mata penuh binar kebahagiaan.


Jackpot!


Kesana kemari Dean mencari Felichia, ternyata wanita itu bersembunyi di rumah Erlan dan menipu suaminya dengan mengatakan kalau bayi di kandungannya adalah anak Erlan.


Dean akan membongkar semuanya hari ini dan membawa pulang anaknya.


"Jadi, dimana Felichia seka-" pertanyaan Dean belum selesai, saat sebuah brangkar di dorong keluar dari ruang UGD dengan Felichia yang sedang menggeliat kesakitan di atasnya.


"Itu Felichia!" Erlan buru-buru menyusul brangkar Felichia yang terus di dorong menuju ke ruang persalinan. Sementara Dean hanya tersenyum licik dan segera berbalik untuk keluar dari rumah sakit.


"Aku akan kembali untuk menjemput anakku, setelah kau melahirkannya nanti, Felichia!" Gumam Dean seraya mengetikkan pesan di ponselnya.


[Rumah sakit. Jaga semua sudutnya dan jangan biarkan Felichia membawa pulang bayinya sebelum aku datang]


Terkirim!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2