
"Bersihkan itu!" Perintah Dean galak pada kepala maid yang tadi membuatnya kaget.
Dasar brengsek!
Dean berjalan cepat menuju ke arah kamarnya dan lagi-lagi pria itu terkejut saat mendapati Melanie yang ternyata belum tidur.
Baguslah!
Setidaknya Dean bisa menerjang Melanie malam ini dan tak perlu menahan hasratnya yang mungkin saja akan membuatnya sakit kepala hingga besok.
"Dean, kau baru pulang?" Sapa Melanie yang tak dijawab oleh Dean.
Dean langsung melepaskan kemejanya yang memang kotor beserta celana panjangnya sekalian.
Tanpa membersihkan diri dulu, Dean sudah langsung naik ke atas tempat tidur dan menerjang Melanie. Dean membuka dengan kasar baju tidur Melanie yang kini telentang pasrah di bawahnya.
"Dean!" Melanie menahan dada Dean yang matanya sudah memerah.
"Kau kenapa?" Lanjut Melanie bertanya bingung.
Dean tidak menjawab dan malah langsung mencecap bibir Melanie. Dean terus menciumi bibir Melanie hingga istrinya itu gelagapan.
"Aku menginginkannya. Kenapa kau tidak membalasku, Mel?" Tanya Dean frustasi.
"Kau bau alkohol, Dean! Apa kau mabuk-mabukan lagi?" Tanya Melanie dengan raut wajah tak senang.
"Aku hanya minum sedikit menemani Aaron," jawab Dean seraya berdecak malas. Hasrat Dean sudah menguap pergi karena Melanie malah mengajaknya berdebat.
"Kau darimana sebenarnya?" Tanya Melanie sekali lagi. Dean sudah beranjak dari atas ranjang dan tak jadi mengajak Melanie bercinta. Dean sudah tak berminat pada istrinya tersebut.
"Mengantar Aaron pulang ke apartemennya, lalj kamj mengobrol sevehtar dan minum sedikit," jawab Dean berdusta. Dean sengaja berdusta pada Melanie, karena jika Dean jujur, Melanie akan langsung mengomelinyamdari Sabang sampai Merauke. Dan istrinya itu bisa-bisa terus mengocehbsampai pagi.
Membuat Dean sakit kepala saja!
Menahan hasratnya pada Felichia yang tak pernah sampai saja sudah membuat Dean sakit kepala, jika masih harus mendengarkan ocehan Melanie, bisa-bisa Dean kena stroke!
"Dean, kau mau kemana?" Tanya Melanie selanjutnya saat Dean sudah mengayunkan langkahnya ke arah kamar mandi.
"Mandi dan membersihkan diri sekalian gosok gigi agar kau tak lagi mengeluh atau menceramahiku karena bau alkohol," jawab Dean dengan nada sinis.
"Mau aku temani?" Tawar Melanie denagn rayuan khasnya yang biasanya membuat Dean tergila-gila. Tapi malam ini kepala Dean hanya berisi Felichia, jadi rayuan Melanie tak memberikan efek apapun untuk Dean.
"Dean!" Melanie sudah membuka seluruh bajunya yang tadi baru dibuka bagian depan daja oleh Dean.
"Ck!" Dean berdecak dan menghela nafas sebelum akhirnya membopong Melanie masuk ke dalam kamar mandi, lalu mencumbu istrinya itu sebentar meskipun hanya setengah hati.
Dean menginginkan Felichia!
****
Erlan membuka amplop putih berisi surat yang baru saja diberikan oleh maid di rumahnya. Erlan membaca dengan runut surat di tangannya tersebut, hingga matanya berhenti pada sebuah nama yang menyatakan telah mengajukan gugatan cerai pada Erlan.
__ADS_1
Felichia!
Felichia menggugat cerai Erlan, tanpa mau menemui Erlan satu kalipun. Dan wanita itu hanya mengirimkan surat yang sudah ia tanda tangani.
Apa-apaan ini?
"Erlan, kau sudah siap?" Tanya Mama Astri yang sepertinya hendak pergi bersama Erlan dan Papa Panji.
"Surat apa itu, Erlan?" Tanya Mama Astri menyelidik seraya menyambar surat dari tangan Erlan yang masih terlihat shock.
"Felichia menggugat cerai Erlan, Ma," jawab Erlan dengan nada lirih dan sendu.
"Dasar wanita j*lang!" Umpat Mama Astri yang terlihat kesal.
"Mama dulu sudah bilang kepadaku, kalau Felichia itu bukan wanita baik-baik! Lihatpah sekarang! Saat kau terpuruk dan sedang berjuang untuk bertahan hidup, dia malah menggugat cerai dan ingin meninggalkanmu!"
"Dasar wanita j*lang tak tahu diuntung!" Mama Astri tak berhenti memaki dan mengatai Felichia.
"Mama dan Papa pergi saja sendiri ke kediaman Orlando! Erlan mau menenangkan diri!" Tukas Erlan seraya berlalu daan masuk ke dalam kamarnya. Masih sempat Mama Astri dengar Erlan yang membanting pintu kamar bersamaan dengan senyum licik yang tersungging di bibir Mama Astri.
****
"Tidak bisa!" Jawab Matthew tegas saat Papa Panji kembali membujuk pria itu untuk membantu perusahaannya yang sudah diujung tanduk.
"Untuk apa aku membantu perusahaan yang hampir bangkrut? Buang-buang tenaga dan uang saja!" Lanjut Matthew dengan nada pongah.
"Anda minta saya memverikan pekerjaan dan jabatan untuk Erlan, saya sudah betikan, Pam Panji! Tapi kalau harus menolong perusahaan anda yang sekarat itu, saya menolaknya!" Tegas Matthew sekali lagi.
"Jangan memberikan janji palsu! Jelas-jelas anak anda sudah menikah dan punya istri! Anda mau menjadikan adik kesayangan saya istri kedua Erlan begitu?"
"Sekalipun Navya sangat mencintai Erlan, saya tidak akan membiarkan adik saya menjadi istri kedua!" Tegas Matthew denagn nada berapi-api.
"Erlan sudah bercerai dari istrinya yang pertama!" Mama Astri menyodorkan surat cerai Erlan dan Felichia pada Matthew.
"Navya tak akan menjadi istri kedua, Matt! Istri Erlan yang sudah menggugat cerai Erlan," ucap Papa Panji ikut-ikutan meyakinkan Matthew.
Direktur muda itu diam sejenak dan tampak berpikir. Sementara Navya yang sejak tadi menguping dari luar pembicaraan Matthew dan kedua orang tua Erlan seolah menemukan secercah harapan.
Meskipun Navya ikut sedih dengan perpisahan Erlan dan Felichia, namun Navya bertekad untuk menyembuhkan luka hati Erlan. Navya akan mulai mendekati sahabat lamanya itu perlahan, hingga akhirnya Erlan akan mau membuka hatinya untuk Navya.
"Silahkan dipertimbangkan lagi, Matt! Bukankah ini demi kebahagiaan adik kesayanganmu?" Pungkas Papa Panji sebelum meninggalkan ruang kerja Matthew serta kediaman Orlando.
****
Empat bulan kemudian.
"Melanie kemana?" Tanya Dean pada kepala maid karena tak mendapati Melanie yang biasanya akan menyambut Dean saat pulang.
"Tadi siang dijemput Nyona Angel, Tuan. Belum kembali sampai sekarang," jawab kepala maid.
Mungkin arisan atau ke acara kumpulan sosialita.
__ADS_1
Biarkan saja!
Dean menuju ke dapur untuk mengambil air minum, saat pria itu mendapati sisa rujak yang ada di atas meja makan dan hendak dibereskan oleh maid.
"Ini rujak siapa?" Tanya Dean seraya mengambil atu potongan mangga muda, lalu mencolekkannya ke sambal yang masih bearda di cobek.
"Tadi Nona Felichia yang minta, Tuan,"
"Jangan di bereskan! Biar aku habiskan!" Titah Dean seraya menuang sisa buah di ats piring ke dalam cobek. Dean mengangkat cobek dari batu tersebut, lalu membawanya ke halaman belakang. Saat itulah, netra Dean tak sengaja melihat Felichia yang mengenakan baju renang two piece dengan perut membulatnya yang begitu seksi.
Wanita hamil itu sepertinya baru selesai berenang, karena kini Felichia sudah naik ke atas kolam dan menyambar banthrobe lalu membalutkan benda itu ke tubuhnya, menutupi baju renang two piece berwarna orens terang tadi serta perutnya yang sudah membulat sempurna.
"Sialan!" Umpat Dean seraya menggigit potongan bengkuang berbalut bumbu rujak dari cobek di tangannya.
Felichia berjalan santai meninggalkan kolam renang, seraya mengeringkan rambut sebahunya dengan handuk. Wanita itu tampak terkejut saat melihat Dean yang berdiri di dekat pintu belakang masih sambil memegang cobek di tangannya.
Mungkin Felichia kaget karena Dean sudah pulang padahal ini belum ada jam tiga sore.
Felichia hanya menatap Deannsekilas, sebelum kemudian wanita itu memalingkan wajahnya seperti biasa. Felichia mempercepat langkahnya menuju ke kamar, dan Dean tentu saja tidak tinggal diam.
Dean meletakkan cobek di tangannya tadi secara serampangan, sebelum mengejar Felichia menuju ke kamarnya.
Dean harus bisa menaklukkan wanita yang sok jual mahal itu sore ini.
Felichia terus mempercepat lanagkahnya, dan segera menbuka pintu kamar, lalu mentelinap masuk dan menutup kembali pintu kokoh itu, saat sebuah tangan menahannya dengan cepat.
"Felichia berusaha menutup pintu sekuat tenaga, namun tenaga Dean lebih kuat dan pria berhasil membuka pintu kamar Felichia, lalu merangsek masuk, sebelum kemudian Dean membanting pintu dengan kasar.
"Kau mau apa?" Gertak Felichia galak.
"Kau tidak bisu dan bisa menggertak begitu! Lalu kenapa kau tak pernah bersuara saat di depanku?" Tanya Dean seraya menatap tajam ke dalam kedua netra Felichia.
Dean sudah mengunci tubuh Felichia merapat ke dinding.
"Aku membencimu!" Jawab Felichia membalas tatapan tajam Dean dengan tatapan sengit.
"Aku ingin menjenguk calon anakku! Jadi berhentilah membenciku!" Satu tangan Dean sudah menarik lepas tali bathrobe Felichia, saat Dean merasakan sebuah tendangan dari lutut tepat di pangkal pahanya dan benar-benar pas di senjatanya.
Bugh!
Dean jatuh ke lantai seraya meringis memegangi pangkal pahanya yang kini terasa nyeri.
.
.
.
Maaf, timing aku cepetin biar kalian nggak bosan liat Dean muntah-muntah melulu.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.