Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 16. Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Elsa berdecak senang melihat kue yang baru saja selesai dibuatnya. Tidak lupa Ia mengabadikan kue itu dengan membidiknya dengan kamera ponselnya.


Drt ... drt.


Ponsel Elsa tiba-tiba bergetar, tertera nomer saja di ponselnya menandakan si penelepon orang asing. Tidak ada yang mengetahui nomer Elsa selain dari sekolah Kiara saja.


"Siapa ini harus kah aku menjawabnya, ah mungkin hanya orang iseng." Elsa menaruh ponselnya di meja, mengabaikan panggilan telepon itu lalu kembali fokus ke kuenya.


Tes ... tes.


Air mata Elsa menitik setelah cukup lama memandangi kue itu karena secara tidak langsung kue itu mengingatkannya pada mommy nya. Terlintas kebahagiaan di benak Elsa saat-saat bahagia menikmati kue itu bersama mommy nya.


"Mom, El merindukan mommy, apa mom baik-baik saja?" Elsa menyeka air matanya yang terus bercucuran. Ia sebenarnya ingin melihat mommy nya namun Elsa takut tidak bisa mengendalikan diri sehingga terus menahan keinginan itu.


Drt ... drt.


Kembali ponsel Elsa bergetar ke sekian kalinya . Elsa yang sudah geram menerima panggilan itu.


"Kau ini terlalu banyak waktu untuk bermain-main, jika mau uang yang kerja kenapa harus menipu orang dengan mengaku saudara jauh, teman lama dan apalagi. Aku peringatkan jangan menelepon ke nomer ini lagi jika tidak ingin aku lapor kan polisi, mengerti!" jawab Elsa panjang lebar meluapkan kemarahannya. Ia benar-benar geram sejak tadi nomer itu terus meneleponnya padahal sudah diabaikan nya.


"Oh maafkan aku Nona Elisa, maaf menganggu mu."


"Eh kau mengenalku dan suaramu seperti tidak asing, siapa kau?"

__ADS_1


"Kau ingin tahu buka pintu rumahmu!"


"Pintu rumah?" Elsa sedikit tercengang, pria yang meneleponnya sudah berada di depan pintunya. Ia langsung beranjak dari duduknya untuk memeriksa siapa si penelepon.


Kreeekkk.


Elsa membuka pintu. Pria tampan kini berdiri di depannya dengan senyum mengembang terarah padanya.


"Kau sudah tahu siapa aku?" Pria itu masih berbicara dengan ponsel yang masih menempel di pipinya padahal yang ditelepon sudah berada di depannya.


"Tuan Elardo." Elsa terkejut dengan identitas si penelepon yang ternyata Elardo Cashel dan bahkan tadi berkata dengan kasar di telepon.


"Tuan aku minta ....Tuan kau mau apa?" Elsa yang merasa bersalah ingin meminta maaf namun tiba-tiba saja pria itu melewatinya dan masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi.


"Hei hentikan!" teriak Elsa saat pria itu terus saja memasukkan kue-kue itu tanpa henti ke mulutnya. Ia benar-benar geram pria di depannya itu betul-betul tidak tahu malu masuk ke rumahnya tanpa permisi dan bahkan menghabiskan kuenya hanya bersisa sepotong.


"Jangan marah, aku akan mengganti kerugian mu 10 kali lipat." Elardo berucap dengan enteng.


"Apa 10 kali lipat!" Elsa menatap geram ucapan enteng pria di depannya.


"Kurang, 100 atau 1000 kali lipat?" Elardo masih menganggap enteng kemarahan wanita di depannya.


"Kau! Pergi dari sini!" Elsa menggertakkan giginya dengan sikap sok kaya pria itu. Ia mendorong pria itu untuk segera meninggalkan rumahnya. Karena terlalu kuat mendorong pria itu membuat tubuh Elsa tidak seimbang.

__ADS_1


Brukkkk.


Tubuh Elsa terjatuh menindih pria itu, keduanya saling menatap.


"Hei alihkan pandangan kalian!" perintah Arga pada beberapa anak buahnya yang berjaga di pintu.


"Nona kau begitu menikmati ketampananku?" seru Elardo saat Elsa terus saja menindih tubuhnya dengan tatapan terus tertuju padanya.


"Dasar cabul!" Elsa yang menyadari berada di atas tubuh pria itu langsung bangkit.


"Bagaimana aku tidak menyadari berada diatas tubuh pria itu, dasar menjijikkan," gumam Elsa. Ia mengalihkan pandangannya dari pria yang terus tersenyum menatapnya.


"Tidak usah sungkan, aku mengizinkanmu menatapku sepuas mu." Elardo berucap bangga, membanggakan ketampanannya.


Selama ini Ia memang selalu menjadi pujaan setiap wanita yang melihatnya dan hampir semuanya mengagumi ketampanannya namun tidak semua orang diperbolehkannya menatapnya namun wanita di depannya ini pengecualian.


"Tuan El bagaimana bisa, selama ini dia bahkan cuek dengan semua gadis yang ingin dekat tapi kenapa pada Nyonya Elisa dia berbeda dan bahkan bertingkah aneh," gumam Arga dengan sikap atasannya itu.


Pria yang berwajah sangar dengan sikap tegas dan dingin itu terlihat begitu lembut di depan Elisa. Elardo seperti pria yang berbeda saat bersama Elisa.


"Ah kau banyak bicara pergi dari sini, aku mau menje-"


"Arga cepat jemput Kiara, lakukan tugasmu!" potong Elardo.

__ADS_1


"Siap Tuan." Arga bergegas pergi sebelum tuannya itu marah besar.


__ADS_2