
Elsa menyusuri sekeliling halaman yang dipenuhi bunga-bunga yang sangat indah berwarna-warni diantaranya ada bunga anggrek yang tengah bermekaran dengan anggun. Elsa yang merasa kagum akhirnya mendekat untuk mengagumi keindahannya.
Sorot mata kekaguman ditampakkan Elsa membuat seseorang yang sejak tadi berada disana mendekat.
"Nona kau juga menyukai bunga anggrek ternyata," ucapnya. Pria paruh baya itu semakin mendekat hingga berdiri di sebelah Elsa ikut mengagumi kecantikan bunga itu.
Elsa yang sedikit terkejut menatap pria paruh baya itu sesaat lalu kembali fokus ke bunga di depannya.
"Bunga ini adalah bunga yang paling disukai mommy Pak eh Paman."
"Panggil Paman saja," sahut pria paruh baya itu.
Pria menatap Alsa yang terlihat berkaca-kaca saat menatap bunga itu seakan menyimpan sesuatu yang pahit. Ia langsung mengangkat pot bunga yang terletak di rak bunga dan menyodorkan ke Elsa.
"Kalau begitu berikan ini padanya." Pria itu berkata sambil tersenyum.
Elsa merasa terharu dan. segera mengambil alih bunga itu dari pria paruh baya itu namun ia malah mengembangkan pot itu kembali ke tempatnya. "Dia akan lebih bahagia jika berada di tempatnya karena kita tidak tahu di tempatnya yang baru apakah akan ada cinta tulus seperti yang paman berikan," ucap Elsa.
Dari kejauhan Elardo menatap keduanya dan jelas mendengar apa yang diperbincangkan.
"Nona nikmatilah keindahan bunga-bunga ini, aku akan menyelesaikan pekerjaanku di bagian sana." Pria itu menunjukkan ke arah taman lainnya. Sebelumnya ia melihat kedatangan Elardo dan bergegas pergi karena Ia tahu tuannya itu mencari keberadaan nona muda itu.
"Baiklah Paman terima kasih." Elsa berucap sambil tersenyum.
Beberapa menit berlalu Elsa sudah merasa puas memandangi bunga-bunga itu dan berniat kembali masuk namun tanpa disadari pria yang tak lain Elardo berjalan ke arahnya dengan mendorong kursi roda.
Deg.
__ADS_1
Jantung Elsa berdetak kencang saat senyum khas yang begitu Ia rindukan menghias saat itu juga.
"Bagaimana mungkin? Ini ... ini aku bermimpi," gumam Elsa dalam hati.
Tanpa Elsa sadari tubuhnya langsung bergerak mendatangi dan langsung memeluk tubuh wanita yang duduk di kursi roda itu. Air mata tumpah tidak tertahan lagi di pelukan wanita tua itu.
"Tuhan apa kau memberiku hidup kedua untuk ini? Aku tidak akan pernah tahu bagaimana hidup mommy jika semua orang meninggalkannya dan saat ini aku bahkan bisa melihatnya tersenyum lagi," gumam Elsa.
Tes ... tes.
Air mata Agatha ikut menetes dengan perlakuan Elsa entah perasaan seperti apa yang dirasakan wanita tua itu tapi yang jelas Ia merasakan kehangatan seorang gadis yang terasa seperti putrinya sendiri.
Elardo ikut terharu melihat momen sedih di depannya hampir saja Ia menitikkan air mata namun fokusnya teralihkan saat ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.
"Ada apa?" jawab Elardo.
"Kami sudah menemukan keberadaan Nona Elma di negara Z."
"Baik Tuan."
Tut ... tut.
Sambungan telepon di putus.
.....
Beberapa hari berlalu Elsa kembali ke aktivitas sehari-harinya kuliah sambil bekerja di rumah sakit besar milik keluarga Elardo. Setelah bertemu dengan Agatha Ia cukup senang karena saat ini mommy nya berada di tempat yang aman. Elardo mengupayakan banyak hal untuk hidupnya entah apakah pria itu malaikat penyelamatnya di kehidupan sebelumnya hingga semua hal dilakukan untuknya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku siapkan makan malam spesial untuk tuan Elardo sebagai ucapan terima kasih," pikir Elsa. Ia segera mengambil ponsel di sakunya untuk memberi tahu Elardo.
Setelah berbicara singkat dan Elardo menerima undangan makan malam nya, Elsa bergegas pergi untuk berbelanja bahan masakan.
"Keluarga Hoover sudah tamat mungkin ini karma karena ...." Seorang wanita berucap dengan temannya yang tak sengaja terdengar oleh Elsa yang kebetulan lewat.
"Karena apa?" desak teman wanita itu yang tidak lain adalah Dokter Anna.
"Sebenarnya aku tidak pernah menyukainya," jelas Dokter Anna. Ia mengingat jelas bagaimana Elsa merebut semua yang Ia miliki mulai dari perhatian orang tuanya, sahabat-sahabatnya yang lebih menyukai Elsa juga pria yang ia sukai sejak kecil lebih memilih Elsa.
"Tapi aku puas aku telah mengambil semua itu darinya dan yang lebih menggembirakan wanita sudah lenyap dari muka bumi ini seperti yang aku inginkan!" ucapnya dengan sorot mata penuh kepuasan dengan yang terjadi pada Elsa.
Mendengar hal itu Elsa mengepal erat Ia tidak menyangka selain telah merebut Reinaldo ternyata Anna juga sangat membencinya bahkan kematiannya pun menjadi keinginannya.
Plak!
Suara tamparan cukup keras tiba-tiba terdengar membuat Elsa yang sudah berjalan beberapa langkah membalikkan badan.
"Dokter Anna aku harus ke ruang rawat pasien untuk memeriksa." Melihat Dokter Reinaldo begitu marah membuat sahabat Anna bergegas pergi.
"Kau menamparku!" Kesal Anna yang tidak terima tiba-tiba ditampar begitu saja oleh pria yang dicintainya.
"Kau! Pantaskah membicarakan orang yang sudah meninggal apalagi menyumpahinya." Reinaldo meluapkan kekesalannya dengan menunjuk kesal Anna.
"Kau terus saja membela ****** yang sudah mati itu atau jika perlu kau kejar dia ke neraka!" geram Anna karena terus saja selama ini Reinaldo menyalahkan dirinya atas kematian Elsa.
Tidak mau terlibat begitu jauh Elsa memilih pergi. Tidak ada yang perlu Ia selesaikan karena saat ini Ia bukan esa lagi melainkan Elisa.
__ADS_1
"Aku pikir mereka hidup bahagia tapi ternyata?" gumam Elsa. Ya itulah yang selama ini dipikirkan Elsa karena seharusnya pasangan dokter hebat itu bahagia tapi Ia salah.
Elsa segera bergegas pergi ke swalayan karena waktu menunjukkan pukul 6 sore. Ia tidak punya banyak waktu untuk memasak sampai makan malam tiba jika tidak bergegas.