
"Hanya luka kecil tidak perlu cemas," ujar dokter yang membantu merawat luka Reinaldo. Brian, dokter sekaligus sahabat Reinaldo itu merasa aneh bagaimana bisa sahabatnya itu terluka padahal hari masih begitu pagi.
"Ehem." Brian berdehem sembari menatap penuh tanya Reinaldo.
Namun bukannya menjawab Reinaldo nampak menatap wanita yang baru saja diselamatkannya bangkit dari duduknya melangkah ke arahnya.
"Sepertinya tidak ada masalah lagi sebaiknya aku pergi dan Tuan lain kali berpikir dulu jangan sampai anda terluka demi menolong orang lain," ucap Elsa dengan nada ketus dan langsung melangkah meninggalkan tempat itu.
Sepeninggalan Elisa, Brian tertawa terbahak-bahak sungguh malang nasib sahabatnya itu sudah berkorban namun tidak direspon.
"Sebenarnya kau apakan wanita itu, kenapa dia sepertinya sangat membencimu?" Brian melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di hatinya.
Reinaldo menghela nafas mendengar pertanyaan Brian. Aneh memang jika seorang wanita tidak menyukainya dan bahkan sebelumnya Ia tidak mengenal wanita itu namun setiap kali melihatnya seperti ada kebencian yang mendalam padanya.
"Entahlah sejak pertama kali melihatnya mengingatkan aku pada seseorang. Seseorang yang sudah aku lukai dan entah mengapa setiap kali melihatnya aku merasa bersalah, rasanya aku ingin selalu melindunginya," jelas Reinaldo sembari membayarkan wanita yang dimaksudnya.
Phak.
Brian menepuk bahu Reinaldo pelan. "Tapi dia bukan wanita itu Rei jadi tidak masuk akal jika dia membencimu atau jangan-jangan wanita itu sahabat orang yang kau ceritakan," ucap Brian.
Reinaldo membenarkan ucapan Brian namun entah bagaimana Ia sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya. Perasaan bersalahnya pada wanita itu.
"Atau jangan-jangan kau menyukainya? Kau harus berpikir berlipat jika memang seperti itu bagaimana dengan dokter Anna kalian belum resmi bercerai dan satu hal yang harus kau tahu wanita tadi dia berhubungan dengan tuan Cashel," peringat Brian.
Beberapa kali Brian bertemu dengan wanita tadi yang entah siapa namanya bersama Elardo Cashel. Selama ini pebisnis hebat itu tidak pernah dekat dengan wanita dan kali ini ia tidak sungkan-sungkan menunjukkannya di depan umum menandakan adanya hubungan di antara keduanya.
Reinaldo merapikan lengan kemejanya yang tadi terlipat saat dipasang perban lalu mengambil jasnya yang tersampir di kursi.
"Kau mau pergi?"
Elardo mengangguk. Ya seperti yang Brian katakan masalahnya dengan Anna sudah berlarut-larut.
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Anna," jelas Reinaldo sebelum akhirnya melangkah meninggalkan tempat itu.
Reinaldo terlihat meninggalkan ruangan itu. Elsa yang berdiri tidak jauh dari ruangan itu menatap pria itu hingga tidak terlihat lagi. Elsa tidak menyangka jika pria yang pernah melukai perasaannya itu ternyata menyesali semuanya dan merasa bersalah.
Hal itu Ia ketahui setelah mendengar ucapan penyesalan dari Reinaldo setelah mendengar pembicaraan keduanya. Sebelum meninggalkan ruangan tadi, Elsa menaruh alat sadap hingga mendengar jelas apa yang kedua dokter itu bicarakan di dalam ruangan.
"Alah kenapa aku harus peduli dengan mulut buaya, nyatanya bajingan itu mengkhianati ku!" geram Elsa sembari melempar alat sadap yang dia gunakan untuk menguping.
"Ough," rintih seseorang yang berdiri tidak jauh dari Elsa. Ya saat itu Elardo yang melihat keberadaan Elsa hendak mendekat namun nahasnya tiba-tiba sesuatu terlempar mengenai kepalanya.
"Tuan kau tidak apa-apa, maaf aku tidak sengaja." Bukannya membantu Elardo justru Elsa malah memungut alat dengar sadap di lantai lalu memasukkan ke tasnya.
"Kau mengkhawatirkan aku apa benda itu!" Elardo mendesis kesal dengan sikap Elsa yang justru lebih mementingkan benda yang baru saja dilemparnya namun malah mengabaikannya.
Cup.
Elsa mengecup kening Elardo sembari berjinjit.
Deg!
Deg!
"Hentikan!" Elsa mendorong tubuh Elardo membuatnya mundur beberapa langkah.
"Ada apa?" Elardo merasa kesal karena Elsa nampak tidak senang dengan perlakuannya.
"Tuan kau bukannya sibuk sebaiknya cepat pergi ke kantor." Tidak menggubris kekesalan Elardo, Elsa lebih memilih cepat meninggalkan tempat itu. Ia mendorong tubuh Elardo sampai ke mobilnya.
"Tuan Arga cepat bawa Tuan El pergi!" perintahnya selesai membuat pria bernama Elardo duduk manis di kursi belakang mobilnya sementara sejak tadi Arga hanya menunggu di mobil. Sementara itu Elardo memalingkan wajahnya menatap ke arah lain karena lagi-lagi wanitanya itu seperti tidak menyukai kehadirannya.
"Cepat jalan!" perintah Elardo datar.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan-"
"Jalan!" sela Elardo tidak ingin mendengar alasan apapun. Mobil itu akhirnya melaju meninggalkan Elsa dengan pemikirannya. Ya, Elsa tahu betul prianya itu merajuk tapi Ia tidak ingin memikirkan masalah itu berlebihan.
"Haist!" Elsa menggertakkan gigi setelah melihat jam di tangannya. Ya karena harus mengantar Reinaldo ke rumah sakit dan menghadapi sikap kekanak-kanakan Elardo membuatnya terlambat ke kampus.
.
.
Setelah mata kuliahnya selesai Elsa meninggalkan kelasnya tentu saja bersama dengan Anya sahabat baiknya.
"El ngemall yuk," tawar Anya.
Elsa tidak menggubris tawaran Anya, wanita berambut panjang sebahu itu malah terlihat termenung.
"Woi!" gertak Anya seketika membuat Elsa terperanjat.
"Anya!" pekik Elsa melotot kearah sahabatnya itu.
"Maaf, elu bengong aja dari tadi. Elu ada masalah?" telisik Anya.
Sebenarnya bukan masalah besar hanya saja entah siapa lagi yang berusaha menyingkirkannya. Kejadian tadi pagi membuat Elsa bertanya-tanya namun Ia tidak akan menceritakan pada Anya karena tidak ingin membuat sahabatnya itu cemas. Untuk sementara sebaiknya Ia tidak pergi bersama Anya karena sewaktu-waktu bisa saja orang yang ingin melenyapkannya itu muncul tentu saja akan membuat Anya dalam bahaya.
"Anya aku sibuk sekali, lain kali saja ya kita ke mall." Pamit Elsa langsung meninggalkan Anya.
"Elisa." Panggil Anya namun tetap tidak digubris sahabatnya.
Elsa terus melangkah keluar meninggalkan area kampus. Ia berdiri di pinggir jalan sembari menunggu taxi. Sudah lebih dari sepuluh menit namun tidak ada taxi yang kosong.
"Kenapa sih hari ini semua taxi pada sibuk!" geram Elsa.
__ADS_1
Belum juga semenit menggerutu, tiba-tiba taxi berhenti menghampirinya.
"Oh akhirnya." Elsa yang merasa senang karena mendapatkan taxi langsung saja masuk. Tanpa disadarinya seseorang yang entah dari mana membekap mulutnya hingga tidak sadarkan diri. Setelah itu membawanya masuk ke dalam taxi.