
Tok. Tok.
Suara pintu diketuk dibarengi suara yang terdengar begitu sopan.
"Nyonya muda, anda ditunggu dibawah."
"Tinggalkan aku sendiri," sahut Elsa dengan nada tidak bersahabat.
"Tapi Tuan dan nona Kiara membawa nyonya Agatha."
Mendengar nama Agatha disebut seketika membuat Elsa langsung bangkit dari lantai. Ya sejak Ia kembali Ia duduk di sudut kamarnya dengan tirai tertutup hingga hanya gelap yang menemaninya. Sejak kecelakaan itu, ini pertama kalinya Ia ke tempat naas itu.
Elsa berlari keluar dari kamar melongok dari balkon meyakinkan yang dikatakan pelayan yang memberitahunya tadi jika bukan hanya bujukan semata agar Ia keluar kamar.
__ADS_1
Senyumnya langsung merekah ketika ia benar-benar melihat sosok mom Agatha.
"Kau baik-baik saja?" Suara seseorang langsung mengalihkan pandangannya. Sosok yang sudah berusaha keras membawa mom Agatha kembali dan tentu saja dengan selamat.
"Terima kasih." Elsa langsung melemparkan tubuhnya ke tubuh pria itu. Entah harus berapa banyak hutang budinya pada pria itu hingga mungkin seumur hidup Ia tidak bisa membalasnya.
Elardo hanya tersenyum, ia mengusap lembut punggung istrinya itu lalu mengurai pelukan Elsa agar wanitanya itu bisa segera menemui mom Agatha.
Sejak mengetahui jika ternyata Elisa adalah Elma, ia benar-benar tidak sabar untuk mengatakan hal itu pada wanita itu. Namun tidak hanya itu Ia juga ingin meminta penjelasan kenapa selama ini Ia menyembunyikan tentang Elma dan bahkan berbohong padanya dan dad Erick.
Elsa menitikkan air mata menatap wanita yang sudah melahirkan dari dekat. Setelah sekian lama akhirnya Ia bisa memanggil sebutan mom setelah sebelumnya hanya bisa menahan.
"Kau siapa?" Agatha menatap bingung. Ya sebelumnya Ia sudah bertemu dengan wanita di depannya ini namun baru kali ini Ia menyebutnya mom.
__ADS_1
Elsa langsung berlari mendekap tubuh mom Agatha dengan erat. "Aku Elma, putri Mom." Dengan penuh keyakinan Elsa menyebutkan siapa dirinya.
"Elma." Agatha mengurai pelukannya menatap wajah di depannya itu seksama lalu menyibak rambut ke sela-sela telinganya. Terlihat jelas tanda lahir yang dicarinya membuatnya yakin jika Ia benar Elma. Wanita paruh baya itu kembali menarik tubuh Elsa masuk ke dalam pelukannya. Pertemuan haru itu benar-benar membuat semua orang di ruangan itu terharu namun juga bahagia.
Setelah makan malam Elsa mengantar mom Agatha untuk beristirahat. Sejak tadi Agatha bahkan tidak ingin melepas tangan putrinya itu. Senyumnya yang terus merekah seakan menjadi obat yang mujarab membuat segala rasa kesedihannya selama ini sirna. Sejak kepergian Elsa juga suaminya membuat batinnya terguncang terlebih putri yang dibesarnya dengan penuh cinta ternyata malah membuangnya ke panti jompo semakin membuat batinnya terguncang. Kehadiran Elma adalah secercah harapan hidupnya yang membuatnya kembali bersemangat.
"Ceritakan padaku bagaimana kamu menjalani hidupmu Nak dan bagaimana kau tahu jika kau adalah Elma?" tanya Agatha antusias.
Selama ini Ia berpikir jika Elma telah tiada karena terakhir kali Galang memberitahunya jika tidak ada jejak putrinya itu membuatnya mau tidak mau mengikhlaskan namun ternyata sungguh keajaiban Elmanya kembali dengan selamat.
"Itu tidak penting Mom namun bagaimana bisa Mommy membuat seorang anak kehilangan hak?"
Agatha ternganga dengan pertanyaan putrinya yang menohok. Pertanyaan yang tidak akan pernah bisa Ia jawab dengan alasan apapun. Bibirnya bergetar diiringi air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Maaf Mom tidak seharusnya aku mempertanyakan ini, maaf." Elsa merasa bersalah kemudian memeluk wanita di depannya itu. Ia benar-benar hilang kendali, baru saja mom Agatha kembali dan malah membuatnya mendengar pertanyaan seperti itu. Di dunia ini tidak ada seorang ibu yang kehilangan hati nurani hanya kata terpaksa yang mungkin menjadi pembenaran akan semua kekhilafan.