
Sekembalinya ke kediaman Cashel, Elsa terduduk lesu di sofa kamarnya. Ia masih belum sepenuhnya menerima akan kenyataan yang baru beberapa jam diketahuinya belum lagi sistem yang telah menghilang ditambah keputusan Profesor Edward yang memutuskan untuk pensiun lebih awal.
"Kenapa semuanya meninggalkan aku!" sesal Elsa meluapkan emosinya dengan memukul bantal yang berada di pangkuannya.
Elardo yang baru saja memasuki kamar itu dengan membawa segelas susu meletakkan tepat meja dihadapan Elsa.
"Aku tidak meninggalkanmu, aku masih disini sayang." Elardo mendekat berusaha menenangkan istrinya. Ia tahu betul banyak kerisauan di hati Elsa hingga membuatnya begitu rapuh. Walaupun istrinya itu sangat introvert namun Ia tahu betul istrinya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu, kenapa kau harus membuatku tetap hidup," keluh Elsa.
Sorot mata Elsa yang penuh kerapuhan membuat Elardo tidak tega, ia segera memeluk istrinya itu. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya dekapan yang semakin erat sebagai caranya untuk memberi kekuatan.
Pada awalnya Ia berpikir jika Ia tidak waras. Bagaimana mungkin Ia hidup di tubuh berbeda juga sistem yang berada di kepalanya. Semua itu jelas membuatnya bingung. Namun perlahan Ia menyadari jika Tuhan memberinya kesempatan kedua dan bahkan menghadiahkan sistem canggih yang membuatnya memperoleh kebahagiaan kini.
Dan setelah semuanya Ia mengetahui kebenaran jika Profesor Edward atas permintaan Elardo mendonorkan otaknya pada Elisa hingga membuat Elisa tetap hidup namun dengan ingatan yang 90% miliknya. Semuanya jelas membuat batinnya berkecamuk.
*****
Tok... Tok.
Terdengar suara pintu di ketuk namun tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. Wanita paruh baya itu menatap pria muda disebelahnya yang tak lain Elardo sang menantu. Sejak kemarin malam Elsa tidak berbicara dan hanya mengurung diri di kamar membuat Elardo cemas. Ia pun berinisiatif untuk meminta bantuan sang mertua untuk melihat keadaan Elsa. Mungkin saja jika dengan mom Agatha, Elsa akan mengeluarkan semua isi hatinya.
"Coba katakan sesuatu Mom atau Mom punya cara lain untuk membuatnya tertarik," tutur Elardo pada sang mertua.
Agatha berpikir keras bagaimana caranya membujuk Elma karena selama ini Ia tidak mengetahui betul apa yang paling disukai putrinya itu. Ia menunduk lesu dengan ketidakberdayaannya kini sangat pantas baginya disebut ibu durhaka.
"Aha."
Suara Elardo langsung membuat Agatha mengangkat kepala fokus ke menantunya itu. "Kamu punya ide, Nak," ucap Agatha antusias.
__ADS_1
Elardo tersenyum seakan dari ekspresi dapat dibaca jika Ia telah menemukan solusi.
"Apa cepat katakan!" Agatha yang sudah tidak sabar berkata setengah memaksa.
Setelah diberi tahu Elardo akhirnya menantu dan mertua itu langsung mengeksekusi rencananya. Sebelumnya Elardo mengusir beberapa pelayan yang bekerja di dapur supaya leluasa mengerjakannya.
Semua bahan sudah tersedia di meja hingga Elardo bersiap mengerjakannya.
"Biarkan mommy yang melakukannya Nak," ucap Agatha. Ia hendak mengambil alih semua pekerjaan itu namun dengan cepat Elardo membuatnya kembali terduduk.
"Izinkan menantu Mommy yang paling handsome ini membuat kue untuk istriku yang paling cantik di dunia," ucap Elardo. Seketika Agatha tersenyum dengan ucapan sang menantu. Ia begitu bahagia Elma memiliki suami yang sangat mencintai juga perhatian terlebih menantunya itu tampan juga kaya.
Elardo mulai membuat kue sesuai instruksi sang mertua di sela-sela itu perbincangan keduanya terus berlanjut.
"Nak Elardo bagaimana kau tahu jika Elma menyukai kue itu setahu mommy Elsa yang menyukainya." Tiba-tiba saja raut wajah Agatha berubah sedih. Ya tidak sengaja ucapannya itu mengingatkannya pada mendiang Elsa.
Mendengar hal itu Agatha langsung memekarkan senyumnya. Betul yang dikatakan Elardo, putrinya itu selalu menyisihkan sebagian honornya sebagai aktris untuk panti asuhan. Walaupun bersikap acuh bahkan tidak mau tahu sebenarnya Ia sangat memperdulikannya.
"Nak Elardo, aku sangat menyesal karena akhirnya kau kembali sia-sia seandainya kau kembali lebih cepat mungkin kau masih bisa berjumpa dengan Elsa. Anak itu selalu saja menunggumu namun takdir berkata lain," sesal Agatha dengan mata-mata berkaca-kaca. Ia ingat betul kedatangan Elardo di hari menyedihkan itu membuatnya tidak akan pernah melupakan hari itu.
"Kata siapa sia-sia Mom, Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik. Elsa maksudku Elma saat ini menjadi istriku." Selalu saja mulutnya berkata Elsa. Kenyataannya Elsa tetap menjadi istrinya walaupun di tubuh Elma.
"Kau betul. Mommy penasaran bagaimana kau bisa bertemu Elma," tanya Agatha antusias.
Elardo hanya tersenyum tipis lalu kembali ke tempatnya menatap bahan kue. "Jika terus berbicara kapan cloud cake ini akan jadi Mom," keluh Elardo.
Sontak ucapan Elardo membuat Agatha menggeleng sambil tersenyum. Banyak hal ingin diketahuinya hingga melupakan apa yang seharusnya dikerjakannya. Tanpa berlama-lama Ia menginstruksi menantunya itu.
Elardo memasukkan bahan-bahan sesuai instruksi ke dalam wadah lalu mengocoknya dengan whisk. Di wadah terpisah Ia mengocok bahan lainnya dengan mixer.
__ADS_1
.
.
Setelah berkutat di dapur kurang lebih dua jam akhirnya kue sudah tersaji lengkap dengan hiasannya. Tentu saja hiasan kue itu Agatha yang melakukannya membuat kue itu begitu sempurna memanjakan mata yang memandang.
Elardo membawa kue itu menuju ke kamar diikuti Agatha yang mengekor dibelakangnya.
Tok... Tok.
Elardo mengetuk pintu beberapa kali. Di detik selanjutnya suara Agatha mulai terdengar.
"Elma, Mommy membuat cloud cake untukmu. Boleh Mommy masuk?"
Tidak lama pintu dibuka terlihat Elsa yang nampak berantakan dengan penampilannya. Ia membantu sang mommy masuk sementara Elardo menaruh kue itu ke atas meja lalu melangkah keluar.
Sepeninggal Elardo, Agatha mengusap lembut wajah sang putri kemudian berdiri merapikan rambutnya.
"Jika kau seperti ini tidak kasihan suamimu," tutur Agatha.
Elsa hanya terdiam tidak menyahut. Banyak hal yang ingin dikemukakan dengan sang mommy namun apa daya Ia tidak ingin membuat wanita yang melahirkannya itu bingung dengan semuanya.
Kep.
Elsa yang tidak bisa berkata-kata langsung mendekap sang mommy padahal saat itu Agatha masih merapikan rambutnya. Itulah satu-satunya cara untuk melampiaskan isi hatinya yang tidak mampu diucapkannya.
"Maafkan Mommy, Nak. Karena Mommy kau mengalami hal-hal tidak menyenangkan." Agatha menitikkan air mata saat mengingat semua hal yang dialami putrinya itu dari Galang. Mantan kekasihnya itu menceritakan semua hal yang dialami Elisa setelah mencari tahu.
"Tidak penting mommy tahu atau tidak yang terpenting pelukan mommy adalah segalanya," gumam Elsa. Ia semakin mendekap erat sang mommy.
__ADS_1