
Terlihat Profesor Edward sedang memasukkan barang-barang ke dalam kotak besar membuat Elsa yang saat itu berdiri di pintu masuk begitu saja.
"Apa yang Prof lakukan?" Elsa menatap seksama Profesor Edward sembari melangkah mendekat. Fokusnya teralihkan pada kotak besar yang berada diatas meja kerja. Ruangan itu juga terlihat minim perabotan karena sepertinya barang-barang pribadi milik sang penghuni sudah berpindah ke kotak itu.
"Apa apa dengan wajahmu?" Bukannya sebuah jawaban yang terlontar dari mulut Profesor Edward melainkan pertanyaan. Ia menatap Elsa seksama sambil berpikir keras gerangan apa yang terjadi padanya.
"Duduklah akan aku obati." Profesor Edward menarik tangan Elsa ke kursi selanjutnya Ia mengambil alat-alat medis untuk mengobati luka Elsa.
Pria itu mengobati Elsa dengan lembut sesekali suara Elsa yang mengaduh membuatnya sigap meniup.
"Walaupun luka kecil namun tidak boleh membiarkannya begitu saja karena akan merusak kecantikanmu," tutur Prof Edward sembari menempelkan plester ke wajah Elsa yang sebelumnya sudah dioles salep khusus.
Elsa hanya mengangguk. Di detik selanjutnya fokusnya kembali ke kotak besar yang sudah berpindah ke lantai.
"Kenapa barang-barang ini dimasukkan kesini Prof mungkinkah....?" Elsa tidak meneruskan kata-katanya. Pikirannya sudah tertuju pada satu hal jika pria tua itu resign seperti yang Reinaldo lakukan.
"Kenapa Prof, kenapa? Apakah semua orang akan pergi dari sini." Elsa yang tidak terima meluapkan kekecewaannya. Jika dokter-dokter hebat seperti Anna, Reinaldo dan Profesor Edward pergi apa yang terjadi pada rumah sakit ini.
"Dengarkan aku Elsa, usiaku tidak lagi muda. Menjadi dokter adalah impianku sejak kecil namun aku tetaplah manusia biasa bukan Tuhan. Disisa usiaku aku ingin hidup menjadi orang biasa. Kau dokter jenius yang pasti bisa menjadi penerusku." Profesor Edward menepuk bahu Elsa. Ia meletakkan tanggung jawabnya di bahu Elsa.
__ADS_1
"Tapi Prof aku tidak akan sanggup." Elsa menahan langkah Profesor Edward yang sudah beberapa langkah berjalan. Ia membalikkan badannya kembali mendekati Elsa.
Pria paruh baya itu tersenyum seakan sedang memikirkan sesuatu yang membahagiakan.
"Ada apa Prof menatapku seperti itu?" Elsa merasa aneh dengan tatapan juga senyum Profesor Edward.
"Aku bahagia El walaupun sebelumnya aku sangat cemas kenyataannya Tuhan memberikan restunya. Di akhir-akhir hidupmu entah mengapa Tuhan mengirimkan seseorang malaikat. Pemilik tubuh ini cedera kepala yang parah membuatnya mati otak. Tuan Elardo atau suamimu meminta hal yang tidak terduga dan jelas mustahil. Ia memintaku mendonorkan otakmu pada pemilik tubuh ini," ungkap Profesor Edward. Kembali Ia mengingat tangannya sampai berkeringat dingin melakukan prosedur pembedahan yang sebelumnya belum pernah terjadi. Peluang berhasil hanya 5% namun Ia yang bersikeras dan percaya adanya keajaiban Tuhan akhirnya berhasil melakukan operasi besar itu.
"Apa?" Elsa terbelalak dengan cerita Profesor Edward. Donor otak itu menandakan jika selama ini otaknya lah yang membuatnya tetap hidup di jasad yang berbeda.
"Katakan jika semua ini bohong Prof jadi selama ini hanya otakku yang hidup sementara Elsa sudah mati. Katakan apa aku gila?" Elsa mencengkram kerah profesor Edward meminta penjelasan lebih.
"Sayang lepaskan Profesor Edward," bujuk Elardo.
Ya, Elsa yang kehilangan kendali sampai berbuat kasar pada pria paruh baya itu.
"Katakan padaku, apa aku gila, katakan!" pekik Elsa. Tangannya beralih mencengkram kerah kemeja Elardo dengan tatapan penuh menuntut.
"Tidak sayang kau tidak gila, aku dan Profesor Edward hanya berusaha menolong dengan terus berusaha selebihnya Tuhan yang mengatur. Sebenarnya aku ingin terus merahasiakannya namun sepertinya profesor Edward tidak bisa menyembunyikannya lagi," jelas Elardo menatap Profesor Edward sekilas lalu kembali berpindah ke Elsa.
__ADS_1
"Jadi saat aku menyelamatkanmu di rumah kosong itu dan juga luka tembak di lenganmu itu hanya rekayasa mu sebenarnya kau sudah mengetahui siapa aku," cerca Elsa menggebu-gebu.
"Aku benar-benar terluka saat itu namun tidak aku sangka kau wanita itu. Aku tidak ingin merusak hidupmu dengan cerita konyol ini Elsa hingga aku berpura-pura tidak mengenalimu," jelas Elardo.
"Kau memang hebat dalam hal itu menghilang lalu kembali lalu melakukan segala hal di belakangku. Kau bahkan pernah mengatakan pertama kalinya datang ke rumahku setelah kembali saat aku sudah menjadi mayat. Jadi apa sebenarnya tujuanmu?" Elsa menatap pria.do depannya itu dengan tatapan tajam berharap Ia akan menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya.
Kenyataan yang terungkap ini benar-benar membuatnya kecewa karena hal itu diketahuinya dari orang lain entah apa jadinya jika selamanya rahasia itu terkubur bersama jasadnya. Namun nyatanya tidak ada rahasia yang selamanya benar-benar tersimpan karena pada saatnya semuanya akan terungkap.
Profesor Edward yang mendengar perdebatan pasangan suami istri itu mengayunkan langkah hendak meninggalkan keduanya karena tidak ingin mencampuri urusan mereka. Namun suara Elsa tiba-tiba menghentikannya. "Tunggu Prof!"
Profesor Edward membalikkan badannya menatap seksama ke arah orang yang menghentikannya.
"Apa Prof benar-benar akan meninggalkan aku?" Elsa berkata dengan nada yang rendah seakan tidak bersemangat. Selama ini Ia sudah menganggap pria itu seperti orang tuannya sendiri hingga tidak ingin adanya kata-kata perpisahan.
Melihat bulir-bulir air mata mulai membasah di pipi Elsa membuat Profesor Edward mendekat. Ia menyeka lembut air mata Elsa sambil berkata bijak seperti seorang ayah berkata pada putrinya.
"Aku pergi bukan tanpa pikir Elsa. Tugasku sebagai seseorang yang membantumu sudah selesai. Saat ini ada seorang pria hebat yang akan mendukungmu melakukan hal-hal hebat, kau tidak perlu meragukannya," ucap Profesor Edward. Ia kemudian melangkah pergi, pergi meninggalkan semuanya dan memilih untuk menjalani masa tuanya dengan bebas.
****
__ADS_1