
"Bagaimana apa kau berhasil, apa katanya?" Antusias Elardo yang sudah tidak sabar. Ya setelah cukup lama menunggu di depan hotel, Ia akhirnya menemukan cara agar Elsa meninggalkan tempat itu. Ia bergegas pulang memerintah Leo agar menghubungi Elsa memberitahukan jika Kiara sakit.
"Tuan kau membuatku dalam masalah besar, Nona Elisa pasti membunuhku." Leo merasa sangat frustasi setelah melakukan kebohongan sesuai perintah tuannya.
"Sudah aku katakan sisanya aku yang urus, bagaimana apa dia akan kembali?" Elardo berusaha menenangkan keresahan Leo dan menyerahkan semuanya padanya.
Leo yang masih ketar-ketir dengan nasibnya mengangguk dengan pertanyaan tuannya.
"Bagus, sekarang kita lanjutkan rencana kedua." Dengan penuh semangat Elardo bergegas melanjutkan rencana selanjutnya begitu juga dengan Leo melakukan apa yang sudah disepakati keduanya.
.
.
Elardo mengangkat tubuh Kiara yang tengah duduk di depan komputer. Ya, saat itu Kiara yang tengah belajar dengan guru pembimbingnya diganggu Elardo yang tiba-tiba menyuruh menghentikan proses belajar mengajar itu.
"Ayah turunkan aku, aku bisa jalan sendiri dan apa yang mau ayah lakukan?" Kiara merasa aneh karena tiba-tiba ayah menggendongnya menuju kamar.
Setelah masuk ke kamar Elardo membaringkan tubuh Kiara juga menyelimutinya. Kiara semakin merasa aneh namun Ia bisa menangkap ada sesuatu yang ayahnya rencanakan.
"Apa rencana Ayah?" Pertanyaan Kiara langsung ke pokok permasalahan.
"Anak pintar Ayah, Ayah sudah menduga kau bisa mengerti. Begini sayang Ayah sangat rindu ibumu jadi ayah meminta Ibu datang tapi ayah malu untuk mengatakan secara langsung jadi Ayah menjadikan kamu alasan. Kau pura-pura sakit, ok?" jelas Elardo sembari meminta kesepakatan Kiara.
Mendengar penjelasan ayahnya, Kiara hanya bisa tepuk jidat. Bagaimana mungkin ayah yang begitu keren dan berkelas harus berbohong hanya untuk bertemu dengan ibunya.
"Ayah mau sampai kapan, Ayah harus katakan jika Ayah sangat rindu sangat cinta Ibu pasti Ibu akan tersentuh," tutur Kiara.
"Ya iya nanti Ayah katakan pada Ibumu."
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar disertai suara panggilan yang cukup keras. "Kiara!"
Dubrak!
__ADS_1
Pintu di dorong cukup keras hingga menimbulkan benturan. Seketika fokus dia orang di dalamnya langsung tertuju padanya.
"Maaf aku terlalu khawatir jadi .... Ah tidak penting, Kiara bagaimana keadaanmu Nak?" Elsa bergegas mendekat ke arah Kiara yang berbaring di ranjang. Ia langsung memeriksa suhu tubuh Kiara. Kiara yang tidak ingin diketahui kebohongannya langsung beraksi, Ia menggigil seperti orang kedinginan.
"Ibu aku kedinginan," rengek Kiara sembari terus berakting.
"Tapi suhu badanmu normal tapi kau mengeluh kedinginan, sebaiknya kita ke rumah sakit." Elsa menyibak selimut yang menutupi tubuh Kiara dan bersiap menggendong.
Mendengar rumah sakit saja membuat Kiara berkeringat dingin apalagi membayangkan jarum suntik yang akan menancap di bagian tubuhnya.
"Ahh, Kiara baik-baik saja." Kiara menjerit dengan bayangannya sendiri dan langsung memperlihatkan tubuh sehat dengan berdiri tegak lalu melompat-lompat.
Melihat tingkah Kiara ekspresi wajah Elsa yang tadinya begitu cemas berubah merah padam. Bagaimana mungkin Kiara mempermainkannya dengan alasan sakit.
"Kiara kau!" geram Elsa hendak mencubit telinga Kiara.
Kiara spontan mengamankan diri dibelakang ayahnya. "Ayah tolong."
"Tapi Kiara sudah melampaui batas. Bagaimana jika kelak Ia membohongi orang lain, dia harus diberi pelajaran." Lagi Elsa hendak menjewer Kiara.
Kiara yang sudah terjebak akhirnya lebih memilih mengungkap alasan yang sebenarnya karena jika Ibunya tahu semuanya pasti akan senang.
"Ibu sebenarnya ini ide Ayah, Ayah sangat merindukan Ibu," jelas Kiara dengan cepat. Ya karena telat sedetik tangan Ibunya sudah menarik telinganya.
"Jadi ini idemu?" Mendengar penjelasan Kiara fokus Elsa langsung berpindah menatap Elardo yang terlihat tidak berkutik.
"Sayang aku sebenarnya takut kau masuk hotel bersama pak Tua itu apalagi dia pebisnis sukses aku aku ...." Elardo sampai tidak bisa meneruskan kata-katanya.
Elsa yang sangat marah melangkah pergi begitu saja ya karena ada hal penting yang harus diselesaikannya urusan Elardo akan Ia urus nanti.
Melihat Elsa begitu marah, Elardo langsung mengejar. Saat itu Ia tengah menunggu taxi lewat namun sepertinya semua taxi yang lewat sudah berpenumpang.
"Ayo naik aku antar," tawar Elardo sembari membuka pintu mobil.
__ADS_1
Elsa yang sebenarnya masih kesal mau tidak mau menerima tawaran Elardo karena yang paling penting adalah pria tua itu masih berada di restoran tadi.
"Kenapa kau kembali kesini?" Elardo merasa kesal karena Elsa kembali ke hotel yang tadi.
"Sudah jangan banyak bicara." Elsa tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Elardo yang terlihat jelas raut kecemburuan.
"Elsa tunggu!" Elardo segera mengejar Elsa yang sudah melangkah jauh.
Elsa bergegas menuju ke ruang VVIP tempatnya dan pria tua duduk namun bukannya Pria tua itu yang ada melainkan seorang wanita. "Sylvia kau."
"Kebetulan sekali kita bertemu disini,"sambut Sylvia.
Elsa merasa ada yang tidak beres kenapa tiba-tiba Sylvia bisa keluar dari ruangan yang sebelumnya Ia dan pak tua tadi berbicara dan kini pak tua itu sudah tidak berada di tempat ini lagi.
"Ardo sayang kau pasti sangat merindukan aku, bagaimana bisa kau tahu aku berada disini?" Fokus Sylvia langsung tertuju ke Elardo saat pria itu baru saja masuk. Elardo yang masih menatap sekeliling masih terlihat bingung bagaimana bisa tempat ini adalah sebuah restoran padahal sudah jelas terlihat dari luar sebuah hotel.
Elsa sendiri tidak terlalu memperdulikan keduanya, Ia lebih memilih mencari pria itu di sekeliling tempat itu namun Ia tampaknya harus menelan pil kecewa karena tidak menemukan jejaknya sekalipun.
"Sistem sebenarnya siapa pria tadi apa dia seorang malaikat?" tanya Elsa sembari duduk lesu di sebuah bangku tepat di taman depan restoran.
{Bukan Nyonya. Pria tadi adalah manusia biasa, saya mendeteksi pria itu berhubungan dengan masa lalu Elisa}
Dari kejauhan nampak Elardo yang terus dibuntuti Sylvia.
"El, mommy mengundangmu makan siang, ayolah ikut bersamaku," bujuk Sylvia. Walaupun Elardo sudah menolaknya namun Ia tetap bersikukuh bahkan terus bergelayut di bahu pria itu.
Menyadari ditatap Elsa dengan tatapan tidak suka Elardo buru-buru menghempas Sylvia. "Sudah aku tekankan aku sibuk!" peringat Elardo dengan lantang. Seketika Sylvia terdiam melihat Elardo yang tampak marah.
"Elsa tunggu!" pekik Elardo mengejar Elsa yang sudah berlalu meninggalkan tempat itu.
"Elsa? Sejak kapan nama Elisa berubah menjadi Elsa?" gumam Sylvia setelah mendengar Elardo memanggil nama Elisa tadi. Ia mengambil kartu nama di tasnya sembari tersenyum puas. Sebelum pergi pria paruh baya tadi memberinya kartu nama untuk diberikan kepada Elisa setelah mengaku sebagai sahabat baik Elisa.
"Sampai mati aku tidak ingin kau bahagia Elisa sudah cukup kau mengambil Elardo dariku jadi sebaiknya kau tidak akan bertemu dengan ayahmu!" geram Sylvia sembari merobek-robek kartu nama di tangannya.
__ADS_1