Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 32. Alasan Elsa Menjadi Dokter


__ADS_3

Elsa terus melangkah semakin masuk ke dalam Universitas itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat terjadi kebisingan di depannya.


Banyak mahasiswa menjerit-jerit saking tidak percaya dengan apa yang ada di depan mereka termasuk Anya sahabat Elsa.


"Ada apa? Elsa bertanya pada Anya.


"Cepat El, kau nggak lihat di depan ada dokter Reinaldo!" seru Anya menarik tangan Elsa mendekat.


Mendengar nama Reinaldo, Elsa langsung menatap ke arah depan. Benar saja di depan ada Reinaldo yang sedang memberikan tanda tangan pada mahasiswi yang terus berteriak dan menatap penuh puja.


Reinaldo mantan tunangan Elsa yang sudah mengkhianati Elsa. Di usianya yang masih 25 tahun Reinaldo sudah menjadi dokter muda paling berbakat di tahun ini, tidak heran parasnya yang tampan juga berbakat menjadi pujaan para gadis.


"Kita masuk saja untuk apa membuang waktu untuk pria penghianat seperti dia." Elsa menarik tangan Anya menjauh hendak pergi ke kelas namun tiba-tiba langkahnya di hadang. Pria yang tadi menjadi kerumunan mahasiswi itu kini berada tepat di depan Elsa.


"Kau bisa membantuku?" tawar pria itu.


Namun bukan ekspresi penuh puja seperti mahasiswa lainnya Elsa nampak mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Kau mendengar ku tidak?" Pria itu terus berbicara padahal Elsa tidak menggubris.


"Maaf Dokter Rei, Elisa maksud saya teman saya ini tidak enak badan, biar saya yang bantu Dokter." Anya berbisik di telinga Elisa untuk menunggunya di kelas sebelum akhirnya pergi mengikuti Dokter Reinaldo.


Elsa duduk termenung di mejanya setelah masuk ke kelasnya. Satu persatu orang di masa lalunya muncul. Ya itu lah resiko yang harus ditanggungnya saat memutuskan untuk kembali ke dunia itu. Dunia yang menjadi cita-citanya dari kecil.


Elsa kecil begitu terpukau dengan seorang wanita yang dulu menyelamatkannya saat terserempet motor di depan sekolahnya. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu membantunya membalut luka di lututnya. Tangan terampil juga senyumnya membuat Elsa merasa begitu nyaman bahkan memberitahunya untuk tidak takut darah. Elsa memang sangat takut darah tapi sejak saat itu Elsa berkemauan kuat untuk menjadi dokter seperti wanita itu. Dokter yang memiliki tangan Tuhan juga wajah yang membuat semua pasiennya merasa nyaman karena dia hal itu lah yang seharusnya dimiliki seorang dokter.


"El kau kenapa?" sentak Anya saat melihat sahabatnya itu termangu.


Belum juga menjawab fokus seluruh mahasiswa dan mahasiswi di ruangan itu tertuju pada sosok yang baru saja memasuki kelas itu.


Setelah kelas berakhir Elsa bergegas keluar. Ia menarik tangan Anya tergesa-gesa.


"El kau ini kenapa sejak tadi sangat aneh?" Anya mempertanyakan sikap aneh sahabatnya itu karena biasanya Ia selalu tenang dan bahkan menjadi mahasiswi yang paling menonjol tapi tadi Elisa hanya diam dan bahkan seperti tidak menyimak pelajaran dari dokter hebat seperti Reinaldo.


"Tidak apa-apa aku hanya tidak enak badan," kilah Elsa.

__ADS_1


Tiba-tiba mobil hitam berhenti tepat di depan mereka saat keduanya ingin menghentikan taxi.


Intuisi Elsa merasa tidak enak seperti ada sesuatu yang akan terjadi namun Ia tetap berusaha tenang.


Beberapa orang berpakaian hitam keluar dari mobil dan langsung menarik Elsa.


"Siapa kalian!" Elsa meronta namun entah mengapa Ia tidak memiliki kekuatan seperti biasa seolah kekuatan dari sistem itu hilang hingga tubuhnya tidak mampu melawan.


Blam! Blam! Splast!


Seorang pria memukuli dua orang itu tanpa ampun membuat dua pria yang hendak menculik Elsa itu langsung menyelamatkan diri masuk ke mobil karena tidak ingin menjadi bulan-bulanan pria itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.


"El kau tidak apa-apa?" cemas Anya. Tadi ia begitu takut kerena tidak bisa melakukan apapun saat dua pria itu hendak membawa paksa Elisa. Untung saja pria yang tidak lain Reinaldo itu datang tepat waktu.


"Kau baik-baik saja?" Reinaldo menatap lekat wajah Elsa membuat Elsa langsung menghentikan taxi dan berlaku pergi. Ya lagi-lagi itulah yang dilakukannya kabur.


"Dokter maafkan Elisa, dia sepertinya benar-benar tidak enak badan." Anya mewakilkan Elsa untuk meminta maaf karena sahabatnya itu tidak berterima kasih malah kabur begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku mengerti, baiklah aku pergi dulu." Reinaldo tersenyum sekilas lalu berlalu pergi.


__ADS_2