
Keesokan paginya.
Elsa berkutat di dapur di dampingi koki profesional. Walaupun tidak begitu pandai memasak namun Ia ingin membuat makanan spesial untuk mom Agatha.
Seorang pelayan nampak membawa nampan berisi secangkir kopi membuat perhatian Elsa tertuju padanya.
"Untuk siapa kopi itu?" tanyanya dengan ramah. Ya walaupun nyonya di rumah itu namun Elsa bersikap sopan dengan para pelayan.
"Ini untuk tamu tuan El, Nyonya."
"Tamu, siapa yang datang sepagi ini?" monolog Elsa pada dirinya sendiri. Ia kemudian mengekor di belakang pelayan itu.
"Entah bagaimana jadinya jika kemarin kau tidak segera meneleponku, aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa Agatha walau aku harus kehilangan segalanya." Seorang pria berucap dengan nada penuh kelegaan dibarengi ekspresi sendunya.
__ADS_1
Mendengar pria paruh baya itu berucap seketika langkah Elsa terhenti. Ia benar-benar tidak pernah berpikir jika pria bernama Galang itu benar-benar mencintai mom Agatha bahkan rela kehilangan segalanya. Bagi seorang pria harta adalah segalanya namun tidak dengan Galang karena nyawa Agatha jauh lebih penting.
Melihat Elsa yang nampak termenung menatapnya, Galang yang menyadarinya bersuara. "Elisa sini Nak, kenapa melamun disana?"
"Oh iya kau bukannya sudah menikah dengan Elisa jadi kau bisa memanggilku Dad," seru Galang dengan sorot mata berbinar.
Berbeda dengan Galang yang nampak bahagia Elsa malah semakin kesal. Ia yang tadinya merasa kagum seketika kembali kesal ketika mengingat akan semua yang diperbuat pria itu hingga menyebabkan hidup Elisa bahkan seperti di neraka. Ia memutar tubuhnya lalu melangkah pergi dengan acuh.
Grep.
"Jika kau marah lampiaskan semua pada Mom, Elma." Agatha mengarahkan tangan putrinya ke arah wajahnya dan berharap jika semua kemarahan itu dilampiaskan kepadanya.
"Mom aku tidak ingin membahas ini, jangan memaksaku!" tegas Elsa. Ia menarik lengannya kemudian kembali melajukan langkahnya.
__ADS_1
Langkahnya terhenti tepat di taman belakang dan saat ekor matanya menangkap bangku kosong ia menuju ke arahnya.
"Kenapa seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi?"
Ya setelah beberapa bulan ini Elsa merasa seperti berada di dalam mimpi. Setiap hal yang dilaluinya bahkan tidak bisa dicerna oleh otak manusia secara normal. Bagaimana Ia bisa hidup di tubuh orang lain lalu dengan sistem. Ya pertanyaan itu kini semakin membuat batinnya berkecamuk.
Pria yang sejak tadi menatapnya dari jauh perlahan mendekat. Pria itu tahu betul apa yang sedang dipikirkan wanitanya. Sejak kejadian kemarin Ia memang terlihat tidak baik-baik saja, mungkin sudah saatnya untuk menjelaskan semuanya.
"Bukankah ini yang selama ini kau ingin ketahui," ucap Elardo seketika membuat perhatian Elsa tertuju padanya. Memang benar yang dikatakan Elardo jika selama ini itulah yang ingin dicarinya, mengetahui identitas Elisa. Namun entah mengapa ketika mengetahui semua Ia bukannya senang malah sebaliknya.
Bukan respon dari bibir yang terucap dari bibir Elsa namun isakan. Sejak kemarin batinnya begitu rapuh akan semua hal yang telah dilaluinya terlebih Ia juga harus menanggung semua hidup saudara kembarnya yang bahkan sekalipun Ia tidak bisa menolak.
"Lupakan semuanya Elsa. Mulai saat ini kita akan memulai hidup baru entah kau ingin menjadi Elsa atau Elma yang terpenting kau bahagia dan nyaman," ucap Elardo sembari menggenggam erat tangan Elsa.
__ADS_1
Ya begitu banyak hal yang sudah dilalui Elsa dan sudah saatnya Ia untuk bahagia karena Ia yakin semua hal yang terjadi sudah menjadi ketetapan Tuhan.