
Elsa merasa tidak nyaman sejak di mobil hingga saat ini tiba di depan hotel bintang lima. Sejak tadi pria paruh baya yang entah siapa itu menatapnya terus menerus dan bahkan sesekali tersenyum.
"Jangan-jangan pak tua ini orang jahat, kenapa malah mengajak ke hotel," gumam Elsa. Sebenarnya Ia sangat penasaran bagaimana pria tua itu bisa mengetahui nama Elisa. Ia berpikir mungkin saja pria tua itu tahu tentang masa lalu Elisa hingga Ia menyetujui permintaannya untuk berbincang namun pria paruh baya itu mengajaknya ke hotel.
"Ayo." Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya setelah membuka pintu mobil untuk Elsa. Hal ini semakin memperkuat dugaan Elsa jika pria tua ini pria jahat. Bagaimana mungkin pria kaya itu bersedia membuka pintu mobil padahal Ia memiliki sopir pribadi dan bahkan pengawal yang juga turut di dalam mobil itu.
Secepat kilat Elsa menarik tangan pria tua itu membekukannya dengan tangan terkunci dibelakang. Kini posisi pria tua itu hanya pasrah sembari menahan sakit. Melihat Bos-nya dalam bahaya secepat kilat pengawal pribadi pria tua itu langsung beraksi.
"Tidak jangan lakukan apapun!" hentak pria paruh baya itu yang seketika menghentikan pengawal pribadinya yang hampir saja menyerang Elsa.
"Jangan banyak bicara kau tua bangka yang tidak tahu diri, kau menganggap aku seperti seorang ******!" Elsa yang semakin marah menarik tangan pria tua itu lebih kuat sehingga membuat pria itu mengaduh.
"Aku hanya bahagia karena aku seperti melihat sosok Agatha dalam dirimu," jelas pria paruh baya itu.
Sosok Agatha, ucapan pria paruh baya itu seketika membuat Elsa melepas tangan pria paruh baya itu. Tapi kenapa nama Agatha yang keluar dari mulut pria itu, apa jangan-jangan pria paruh baya itu tahu tentangnya yang bereinkarnasi hingga menyebut nama mommynya.
"Agatha, apa maksud Tuan?" Elsa yang sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya langsung melontarkan pertanyaan.
"Sudah Paman katakan semua akan Paman jelaskan sembari makan." Enteng pria paruh baya itu melangkah lebih dulu. Sementara Elsa yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan hanya bisa menghela nafas demi mengetahui cerita sebenarnya Ia harus tetap bersabar.
Sementara dari dalam mobil Elardo yang mengikuti Elsa tanpa sepengetahuan Elsa merasa kesal, bagaimana mungkin Elsa mau menuruti pria tua itu masuk ke hotel.
"Ini tidak bisa dibiarkan." Elardo yang sudah tidak bisa menahan karena hanya berdiam diri harus segera melakukan sesuatu. Ia keluar dari mobil namun dengan cepat Elsa yang sebenarnya mengetahui Elardo membututi di belakang memberi kode agar menjauh sembari mengisyaratkan semua akan baik-baik saja. Namun bukan Elardo jika hanya langsung menurut saja Ia tetap kukuh dengan keinginannya membuat Elsa geram dan langsung mengarahkan tatapan menghujam ke arah Elardo. Tidak ingin membuat marah Elardo langsung mengangkat tangannya sebagai bukti Ia menyerah.
"Sepertinya aku harus memasang cctv di tas Elsa agar hal seperti ini tidak terjadi lagi," keluh Elardo. Ia menendang mobilnya dengan kakinya namun nahasnya mobilnya tidak bereaksi apa-apa karena dialah yang mengaduh kesakitan.
.
.
__ADS_1
"Tadi pacarmu kenapa tidak mengajaknya masuk?" ucap pria paruh baya itu setelah kedua masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah restoran.
"Ini restoran, kenapa ada restoran di dalam hotel?" Elsa yang merasa aneh menatap sekeliling dengan restoran yang sudah di penuhi pengunjung itu.
Dari luar sama sekali tidak terlihat restoran karena jelas-jelas terpampang nama hotel tapi ternyata sebuah restoran.
"Mari silahkan Tuan, Nona," sambut seorang pelayan yang berpakaian rapi dan bahkan berjas. Pelayan itu membuka sebuah ruangan yang sepertinya ruang VVIP class.
"Silahkan Tuan, Nona." Pelayan itu mempersilahkan masuk dengan sangat ramah.
Setelah cukup lama duduk sembari melihat-lihat akhirnya Elsa memberanikan diri untuk bertanya. Bagaimana mungkin tempat ini ada di kota ini sedangkan Ia tidak tahu apa-apa.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Elsa yang secara tidak langsung mengingatkannya pada masa lalu.
"Pemilik pengubah rencana awal yang tadinya ingin menjadikan hotel namun karena cintanya pada seorang wanita hingga mempersembahkan tempat ini menjadi restoran," jelas pria paruh baya itu.
"Tuan apa anda seorang malaikat dan semacamnya?" celoteh Elsa tiba-tiba yang seketika direspon tawa terbahak-bahak pria paruh baya itu.
"Lawak betul, kenapa tidak menjadi pelawak saja." respon pria paruh baya itu sembari di tengah tawanya.
"Saya tidak bercanda Tuan, bagaimana Tuan tahu tentang Agatha jika bukan malaikat," sela Elsa.
Pria itu langsung terdiam saat menatap raut wajah serius Elsa. Ya karena semua bukan candaan dan respon inilah yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang Elisa.
Galang Abimanyu seorang pengusaha sukses yang sudah melanglang buana dengan bisnisnya. Belum lama ini Ia kembali ke Indonesia setelah mengetahui jika orang yang dicarinya selama 20 tahun ditemukan.
"Silahkan Tuan , Nona," ucap seorang pelayan setelah menyajikan makanan pesanan di meja itu.
Galang yang tadinya ingin menjelaskan harus menunda dulu karena Ia tidak mungkin menyia-nyiakan makanan yang sudah ada di depannya terlebih Ia sangat lapar.
__ADS_1
"Nona Elisa sebaiknya kita makan dulu lalu setelah itu sayan janji akan jelaskan semuanya," ucap Galang.
Mendengar hal itu Elsa merasa tenang selain Ia percaya dengan pria paruh baya itu yang dengan wajah keseriusan tidak akan mengingkari ucapannya Ia tidak boleh menyia-nyiakan makanan di depannya.
Sembari menikmati makan siangnya banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran Elsa. Tanda apa ini mungkinkah Ia melakukan kesalahan hingga malaikat turun menyerupai manusia apakah untuk memberinya peringatan atau mengambil nyawanya dan berakhir lah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya.
Selesai makan Galang bersiap menceritakan semuanya dengan konsekuensi Ia akan dibenci Elisa nantinya. Namun tekadnya sudah bulat, bagaimana pun juga Elisa berhak mengetahui kebenaran tentang dirinya.
"Elisa sebelumnya Paman meminta maaf. Sebenarnya ...."
Drt! Drt! Drt!
Ponsel Elsa bergetar dan langsung membuat fokus Elsa berpindah namun Ia langsung menolak panggilan itu karena Ia fokus mendengar penjelasan pria di depannya itu. Ia langsung kembali fokus ke pembicaraan sebelumnya.
"Sebenarnya apa Tuan?" desak Elsa.
"Sebenarnya kamu adalah-"
Drt! Drt! Drt!
Ponsel Elsa kembali bergetar Elsa yang merasa kesal akhirnya meluapkannya.
"Paman kau menganggu ku!" bentak Elsa di telepon.
"Maaf Nona tapi non Kiara sakit dan terus memanggil nama anda," balas seseorang di seberang telepon.
"Kiara sakit, aku segera kesana." Elsa yang merasa sangat khawatir langsung bergegas pergi karena yang dipikirkannya saat ini hanya Kiara.
"Elisa kau mau kemana?" panggil Galang namun tidak direspon Elisa karena Ia terus berlari semakin menjauh.
__ADS_1