
Seorang pria menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. "Jangan senang dulu karena ini baru saja dimulai," ucap pria itu.
Kembali ke pasangan Elsa dan Elardo.
Setelah mengisi perut keduanya kembali ke rumah sakit.
"Tuan nanti sore aku akan pindah ke apartemen," ucap Elsa tiba-tiba.
Sontak Elardo terhenyak dengan ucapan sang istri. Sejenak ia terdiam mencari kata-kata yang tepat untuk merespon ucapan sang istri karena Ia tidak ingin sekali lagi pembicaraan ini menjadi perdebatan. Ya, sebenarnya sebagai seorang pebisnis sepertinya ingin sekali memperkenalkan statusnya hingga akan mudah baginya menghindari kontak dengan wanita. Selama ini publik tahu jika Ia belum beristri. Kenyataannya sang istri sampai detik ini tidak ingin mengungkap pernikahan keduanya.
"Um, baiklah. Aku akan meminta paman Leo mengurus semuanya," ucap Elardo setelah berpikir panjang.
Mendengar hal itu Elsa mengangguk. Setelah itu keduanya berpisah, Elsa masuk ke lobby umah sakit sementara Elardo bergegas hendak ke kantor. Sesampainya di kantor sang sekertaris mengatakan jika seseorang pria menunggunya sejak pagi di ruangannya.
"Siapa?" telisik Elardo.
"Tuan Reno," sahut Arga yang saat itu tiba-tiba sudah berada dibelakang Elardo.
Tidak membuang waktu lama Elardo segera bergegas menuju ruangannya untuk menemui sahabatnya lamanya itu.
Elardo yang baru saja masuk disambut Reno yang langsung bangkit dari duduknya. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.Bagi Elardo, Reno adalah saingannya dalam masalah wanita karena Reno adalah sahabat masa kecil Elisa. Ya walaupun sebenarnya Elisa bukan Elisa namun raganya tetaplah Elisa. Sama halnya dengan Elardo, Reno juga menganggap Elardo adalah saingannya. Sudah sejak lama Ia mencintai Elisa namun entah mengapa Tuhan malah memberi kesempatan orang lain bukannya Ia yang selalu memperjuangkan Elisa.
"Lama tidak bertemu, apa kabar?" Reno yang merasa suasana di ruangan itu menjadi panas membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana. Ia mendekat, mengulurkan tangannya pada Elardo.
Elardo sendiri langsung menjabat balik uluran tangan Reno. "Baik," ucapnya dengan ekspresi datar.
Melihat ekspresi datar dari sang sahabat yang bahkan menurutnya sangat aneh Reno langsung menarik tubuh Elardo membuat keduanya saling berpelukan.
"Aku benar-benar merindukanmu El," ucap Reno saat memeluk Elardo dengan senyumnya yang merekah.
Berbeda dengan Reno yang begitu senang Elardo justru geram dan langsung menghempas tubuh Reno. "Jangan basa-basi, sebenarnya apa maumu!" ucapnya dengan emosi yang sudah tidak tertahan.
Tidak seperti Elardo yang kesal, Reno menanggapi emosi sahabatnya itu dengan santai. Ia justru kagum dengan sikap sahabat yang over protektif itu menandakan jika Elardo sangat mencintai Elisa. Sebenarnya Reno ingin bertemu dengan Elisa namun sebagai pria yang bermartabat membuatnya mempertanyakan keinginannya itu pada Elardo yang sudah sah menjadi suami Elisa. Itu Ia ketahui dari sumber yang sudah dipastikan kebenarannya.
__ADS_1
"Bisakah malam ini kita maksudku kau, aku dan Elisa makan malam?" pinta Reno yang tidak ingin basi-basi lebih jauh. Seandainya Elardo tidak mengizinkan setidaknya ia sudah mencoba.
Terlihat Elardo berpikir. Dalam benaknya, tidak ada salahnya karena Ia ingin menggunakan acara malam ini sebagai strateginya untuk memberi tahu jika Elisa atau Elsa hanya miliknya dan hanya menginginkannya.
"Ok," ucapnya menyetujui.
*****
Malam hari tepat di restoran khusus yang sudah di pesan Reno dan sesuai permintaan Elsa. Tempat itu harus tertutup dari umum karena bagaimanapun juga Ia belum siap jika dunia menghujatnya.
"Sayang kenapa di tempat seperti ini, ini terlalu sepi!" protes Elardo di sela langkah kaki keduanya menuju ruang yang telah disepakati.
Elsa tidak menggubris dan terus melangkah. Mau tidak mau Elardo terus mengekor dibelakang karena Ia tidak ingin rencananya malah gagal karena jika terus dilanjutkan akan berakhir perdebatan.
Sebelum masuk Elardo menarik tangan Elsa dengan paksa walaupun Elsa merasa tidak nyaman Ia tetap memaksakan keinginan itu.
Seorang pelayan membuka ruangan itu memperlihatkan Reno yang sudah berada di ruangan itu. Sontak Elsa tercengang menatap sosok di samping Reno yang tidak lain Sylvia. Walaupun tidak sepenuhnya mengingat wanita itu namun Elsa bisa merasakan jika dulu Sylvia selalu berbuat jahat pada Elisa.
Elsa sendiri tidak menggubris wanita itu karena yang terpenting malam ini adalah meminta maaf juga berterima kasih pada Reno karena selama ini telah banyak membantu Elisa.
Suasana makan malam itu terasa canggung karena tidak ada obrolan sama sekali hanya dentingan sendok dan garpu saling beradu.
Sesekali Reno mencuri pandang ke arah Elisa yang tepat berada di depannya. Ia benar-benar merindukan wanita di depannya itu karena sejak ada Elardo Ia tidak lagi bertemu maupun bertutur sapa dengan wanita yang sejak lama dicintainya itu.
"Elisa bagaimana kabarmu, kau tahu kampung kita berubah banyak," ucap Reno.
"Oh ya, berubah seperti apa?" sambung Elsa. Ia lebih tertarik membicarakan kampung yang sudah beberapa bulan ini ia tinggalkan. Kampung yang memberikan banyak penderitaan untuknya dan sudah pasti untuk kakaknya Elisa. Sejak kejadian terakhir kali Andini membakar rumahnya Ia sudah tidak pernah lagi ke kampung itu karena jika Ia kembali seperti membuka lembaran kelam itu lagi.
"Kau lupa tentang janjiku saat kita kecil dulu?" Bukannya memberi tahu tentang apa maksud ucapannya yang sebelumnya, Ia malah melempar pertanyaan.
Uhuk, uhuk.
Elardo sengaja terbatuk-batuk demi membuat perhatian Elsa beralih padanya. Ia merasa Reno sudah berbicara terlalu jauh. Bagaimana bisa Ia membahas masa lalu pada wanita yang sudah bersuami.
__ADS_1
Sontak Reno juga Elsa memperhatikan Elardo. Elsa sendiri langsung menyodorkan minum pada suaminya itu yang berada persis di sampingnya. "Pelan-pelan makannya." Elsa menasehati.
"Ren, kau memang pria luar biasa tidak salah aku menyukaimu sejak kecil," ucap Sylvia. Ia bergelayut manja di bahu Reno membuat Elsa kesal memutar mata malas.
"Ak," ucap Elardo. Ia mengarahkan sendok garpu dengan potongan steak ke mulut Elsa. Elsa sendiri langsung membuka mulutnya hingga steak yang lezat itu membuat mulutnya bergoyang.
"Kau suka?" tanya Elardo yang langsung diangguki Elsa.
"Kau ini belepotan begini cuma makan steak." Elardo mengusap sudut bibir Elsa yang belepotan menggunakan jempolnya. Selanjutnya tanpa rasa jijik Ia menjilat jempolnya.
.
.
Setelah acara makan selesai pasangan itu berpisah di depan restoran itu. Namun sebenarnya masih ada yang mengganjal di hati Reno karena selama acara makan tadi Elardo tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara.
"Elisa tunggu!" ucap Reno menghentikan langkah Elsa yang sudah beberapa langkah. Ia mendekat dan langsung menjabat tangan Elsa. "Selamat atas pernikahanmu, aku turut berbahagia," ucap Reno sembari melengkungkan senyum yang sengaja dipaksakan.
Elardo langsung bertindak, melepas jabatan tangan Reno segera.
Elsa berpikir, "Pria ini sejak masuk sampai keluar bertingkah kekanak-kanakan." Ia yang sudah geram menatap tajam ke arah Elardo berharap suaminya itu mengakhiri tingkahnya. Benar saja Elardo langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Terima kasih Reno dan juga maaf, aku berharap ada seseorang wanita yang baik yang bisa mendampingimu," balas Elsa.
Mendengar hal itu Sylvia langsung pasang badan karena Ia berpikir jika yang Elsa maksud wanita baik itu adalah dirinya. Di detik selanjutnya ekspresinya berubah.
"Namun bukan dia!" ucap Elsa menohok.
"Kau!" Sylvia yang kesal hampir saja melayangkan pukulan ke arah Elsa namun demi menjaga citranya di depan Reno Ia berusaha keras menahannya.
Tidak ingin berlama-lama menatap wajah Sylvia yang menyebalkan Elsa meraih tangan Elardo mengajaknya pergi.
Reno sendiri juga ikut melangkah pergi sementara Sylvia yang geram mengepal telapak tangannya erat. "Jangan salahkan Sylvia karena kau sendiri yang cari masalah!" ucapnya dengan emosi tertahan.
__ADS_1