
"Tuan, anda tidak boleh melakukan hal sesuka hati walaupun ini rumah sakit milik keluarga Cashel. Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap pasien rumah sakit ini akan dituduh melakukan mal praktek!" ucap seseorang dengan aura kemarahan yang kuat. Orang itu berada persis di belakang Elardo yang saat itu masih terfokus menatap sang istri masuk ke ruangan operasi.
"Oh, Pak Direktur anda sudah kembali." Bukannya merespon ucapan sang Direktur yang terlihat kesal Elardo malah mengulurkan tangannya untuk menjabat nya. Sang Direktur yang bernama Frans itu pun membalas jabatan tangan Elardo dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Keduanya lalu berpindah menuju ruangan Frans karena banyak hal yang perlu diperjelas.
Frans yang melakukan kunjungan kerja ke rumah sakit di Kuala Lumpur dan baru kembali kemarin mendapat laporan jika selama Ia bepergian banyak masalah yang timbul disebabkan seorang dokter magang mulai dari dokter Reinaldo yang tiba-tiba resign, dokter Anna yang masuk penjara dan terakhir dokter senior Edward. Ketiganya adalah dokter bedah di rumah sakit ini. Hal ini membuat posisi dokter bedah di rumah sakit ini kosong.
Belum lagi menyelesaikan semua masalah itu, pagi ini Ia dibuat tercengang atas keputusan Elardo yang mengizinkan dokter magang untuk melakukan operasi besar. Dokter yang bahkan belum menempuh dokter spesialis bagaimana mungkin akan melakukan operasi sebesar itu. Tidak hanya tidak memiliki sertifikasi dokter bedah wanita itu bahkan mendapat gelar dokter atas bantuan Elardo Cashel. Ia juga terpaksa menerima wanita itu atas permintaan menuntut Elardo.
"Tuan, rumah sakit ini dibangun dengan kerja keras, bagaimana mungkin anda menghancurkan dengan mudah!" Frans yang masih begitu marah meluapkan semua kemarahannya akan sikap seenaknya Elardo.
Namun Elardo masih berekspresi santai karena baginya tidak ada yang perlu ditakutkan. Ia paling tahu bagaimana kehebatan sang istri karena profesor Edward sudah menceritakan kehebatan Elsa hoover.
Ia masih ingat betul saat Elsa menghembuskan nafas terakhir bagaimana sang profesor begitu menyesali. Pria baya itu menceritakan semua potensi-potensi Elsa. Ya itulah alasan Elardo meminta hal gila pada profesor Edward untuk melakukan donor otak padahal itu hal yang mustahil. Selain tidak ingin kehilangan wanita berbakat seperti Elsa paling tidak Ia bisa menebus kesalahannya kepada wanita yang mendapat donor otak dari Elsa. Bertahun-tahun Ia tidak bisa menepati janji untuk menemui Elsa setelah insiden saat mereka kecil. Dan betapa tidak beruntungnya disaat Ia ingin menepati janji Elsa sudah tiada. Siapa sangka niat baik itu didengar oleh sang pemilik kehidupan hingga operasi itu berjalan lancar.
"Tuan, bagaimana anda masih bisa tersenyum seperti itu?" geram Frans karena Elardo masih bisa tersenyum sedangkan nasib rumah sakit ini berada di ujung tanduk.
"Maaf aku hanya teringat akan sesuatu. Jadi begini Tuan Frans jika operasinya gagal aku akan bertanggung jawab seratus persen tapi jika berhasil aku ingin meminta sesuatu...tolong hargai Nona Elisa. Tentang layak atau tidaknya dia kita akan lihat nanti. Perlu anda ketahui jika gelar dokter itu Ia dapatkan dengan kemampuannya sendiri. Itu menandakan seberapa jeniusnya Nona Elisa!" tegas Elardo dengan raut wajah berubah serius.
"Tapi Tuan ini mustahil."
__ADS_1
"Kita akan lihat hasilnya!" tegas Elardo dengan suara lantang. Ia bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi. Langkahnya terarah menuju depan ruang operasi. Disana juga menunggu keluarga dari pasien yang menunggu harap-harap cemas.
"Ma, apa papa akan sembuh?" Seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun bertanya dengan polos. Sang mama menjawab dengan hanya mengangguk. Air mata terus saja merembes dari pelupuk matanya membuat sang putri ikut sedih. "Mama jangan nangis, papa akan sembuh," ucap sang anak sembari menyeka air mata sang mama.
"Papamu pasti akan sembuh karena dokter kuat di dalam sana pasti akan berjuang keras untuk itu," ucap Elardo.
Sontak gadis kecil juga sang mama menatap Elardo intens. Seakan mendapat secercah harapan ucapan Elardo membuat keduanya melukiskan senyum penuh harapan.
Setelah 3 setengah jam akhirnya Elsa keluar dari ruangan itu bersama dokter lain yang membantunya.
"Dokter bagaimana keadaan suami saya?" Istri pasien langsung bangkit untuk mempertanyakan keadaan suami pasca operasi.
"Terima kasih Dokter terima kasih banyak." Wanita itu langsung bersujud di kaki Elsa. Ia benar-benar bersyukur karena suaminya yang didiagnosis tidak akan selamat akhirnya dengan tangan ajaib seorang dokter akhirnya selamat.
"Sudah Bu, bangun lah. Setiap manusia memiliki kesempatan dan hanya Tuhan sang pemilik yang memilikinya." Elsa menarik wanita itu untuk bangkit. Tidak lupa Ia melukiskan senyum bahagianya karena Ia juga merasa bahagia karena setidaknya kehidupan keduanya bermakna.
Satu hal yang Elsa pelajari hari ini, sesungguhnya selalu ada harapan untuk kembali namun hanya Tuhan lah yang berhak untuk memberi kesempatan kedua dan tangan dokter adalah perantara. Hidup keduanya juga berkat tangan ajaib seorang dokter hingga tidak akan lagi Ia menyia-nyiakan semua itu. Mulai hari ini Ia berjanji untuk membantu lebih banyak orang dengan tangan ajaibnya.
Fokus Elsa teralihkan pada sosok pria tampan yang sejak tadi menatapnya dengan senyuman. Sosok yang selalu mendukungnya dan bahkan sampai bersedia menunggu sampai operasinya selesai. Ia memberi kode untuk mengganti pakaiannya sebelum berbicara lebih banyak lagi.
15 menit kemudian.
__ADS_1
Elsa yang sudah berganti pakaian melangkah mendekat namun tiba-tiba tubuhnya ditarik hingga masuk ke pelukan pria itu.
"Kerja bagus sayang," ucap Elardo sembari menyunggingkan senyum bahagianya. Sekali lagi Ia dibuat bangga dengan sang istri karena telah berhasil melakukan tugasnya. Kedepannya tidak akan ada lagi orang-orang seperti dokter Frans yang meremehkan kehebatan sang istri.
"Kenapa kau bahagia sekali?" Elsa yang melihat senyum bahagia sang suami mempertanyakannya. Ia melepas dekapan sang suami menatapnya intens.
"Tidak, aku hanya sangat merindukanmu." Lagi Elardo menarik sang istri masuk ke dalam pelukannya.
Kruk...kruk!
Suara perut Elsa bergemuruh menandakan cacing-cacing diperutnya meminta jatah.
"Kau lapar?"
Elsa mengangguk.
Tanpa berlama-lama keduanya pun beranjak pergi untuk mengisi perut.
Disela langkahnya bersama sang suami Elsa tersenyum dengan kerja kerasnya tadi. Akhirnya Ia kembali diberi kesempatan untuk menyelamatkan walaupun tanpa bantuan sistem. Jiwa penyelamatnya tersistemasi dengan sendirinya walaupun sistem sudah hilang dari kepalanya. Hal itu tidak terlepas dari rasa syukurnya karena telah diberi kesempatan kedua
"Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk kesempatan kedua yang engkau berikan. Aku janji tidak akan menyia-nyiakannya," gumam Elsa.
__ADS_1