
Tubuh Elsa seperti membeku sesaat berdiri di tempat yang selama ini baru sekali ini dikunjunginya. Tempat dimana sebuah nisan bertuliskan Elsa Birdella Hoover berserta tanggal lahir juga tanggal wafatnya.
Melihat Elsa yang nampak tidak berdaya membuat Elardo merasa khawatir ditambah ekspresi sedih namun setitik air mata tidak keluar dari pelupuk mata wanitanya semakin membuatnya cemas.
"Kau baik-baik saja, kita kembali ke mobil." Elardo memapah tubuh Elsa namun dengan cepat Elsa mendorongnya.
"Kau tidak perlu mencemaskan aku, kau lihat aku bahkan tidak sedih sama sekali," kukuh Elsa. Ya perkataan dan sikapnya berbanding terbalik. Siapapun bisa melihat kesedihan itu namun wanitanya itu berusaha untuk menutupinya.
"Mungkin perasaan seperti inilah yang ruh- ruh itu lihat ketika kematian tiba-tiba menjemput, ingin kembali namun tidak kuasa," gumam Elsa. Ia mengusap nisan yang bertuliskan namanya itu tanpa disadarinya air mata yang sejak tadi dibendungnya menitik.
Elardo yang menyadarinya lagi-lagi dengan sigap menjadi sandaran yang siap menahan kesedihan Elsa, diusapnya punggung Elsa lembut. "Kau tidak perlu malu menampakkan kesedihanmu."
"Tuan apa selama ini kau menganggap aku gila atau seorang pembual?"
Ya Elsa merasa jika selama ini Elardo hanya mengasihinya. Siapa yang akan percaya dengan ceritanya karena secara nalar pun tidak ada orang yang meninggal akan hidup lagi ditubuh orang lain.
Mendengar keraguan di mulut Elsa, Elardo hanya tersenyum namun tidak memungkiri jika Ia menjadi Elsa mungkin hal yang sama akan dilontarkannya.
"Kau tahu aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu." Bukannya menjelaskan Elardo malah menceritakan masa lalunya.
"Apa maksudmu?" Elsa yang terkejut mendengar ucapan Elardo langsung mengarahkan fokusnya ke Elardo. Mungkin Ia bereinkarnasi seperti Elsa lalu siapa Elardo sebenarnya?
"Tidak peduli bagaimana Tuhan memberimu kesempatan yang terpenting gunakan kesempatan ini sebaik mungkin." Elardo membelai rambut Elsa penuh kasih namun dengan cepat tangannya dihempas Elsa yang nampak kesal.
"Pasti anda berbicara seperti ini hanya untuk menghiburku. Terima kasih Tuan, aku tidak selemah yang anda kira." Elsa bangkit hendak melangkah pergi.
"Disana, disana makamnya," ucap seorang anak yang menunjuk ke arah Elsa.
__ADS_1
Beberapa anak kecil juga seorang wanita dewasa yang mendampingi anak-anak itu. Suasana sepi pemakaman yang tadinya begitu hening berubah riuh dengan kedatangan mereka.
Anak- anak itu langsung menaruh buket besar yang dibawa sembari menabur bunga di makam Elsa membuat makam itu begitu indah berhiaskan bunga berwarna-warni.
"Kak aku belum pernah melihatmu hanya cuma dari tivi tapi terima kasih kakak sudah berbuat banyak untuk hidupku." Salah seorang anak menaruh sekuntum bunga mawar pink ke atas makam itu begitu juga dengan anak lainnya.
"Anak-anak kita berdoa dulu untuk mendiang kak Elsa," tutur wanita yang mendampingi anak-anak itu.
Elsa tertegun mendengar ucapan anak-anak itu. Tidak hanya mengunjungi makannya dan mendoakan tapi ketulusan anak-anak ini membuat Elsa merasa pernah menjadi orang baik semasa hidupnya.
Selesai berdoa anak-anak itu kembali menabur bunga di makam Elsa.
Elardo yang penasaran kembali mendekat.
"Maaf Bu, Ibu dari mana?" Elardo yang penasaran sejak tadi akhirnya memberanikan untuk bertanya.
Mendengar hal itu Elardo tersenyum sembari melirik ke arah Elsa yang jelas mendengar dengan jelas ucapan wanita itu.
"Terima kasih Bu, mending Elsa pasti sangat senang."
"Tidak perlu berterima kasih Tuan, Nona Elsa adalah orang yang baik tentu saja ini semua tidak akan cukup membalas budinya. Kami percaya saat ini nona Elsa berada ditempat yang paling baik." Ucap wanita itu sebelum akhirnya pergi bersama anak-anak itu.
.
.
Dalam perjalanan pulang Elsa tersenyum, Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia berpikir jika semasa hidupnya adalah orang buang sangat berdosa besar adalah salah setidaknya ada satu kebaikan yang pernah Ia lakukan semasa hidupnya.
__ADS_1
"Tuan aku mau ke rumah sakit," pinta Elsa.
"Bukannya hari ini kau libur?"
"Iya itu benar tapi aku ingin kesana," kukuh Elsa dengan keinginannya.
"Baiklah kita meluncur." Elardo menambah laju mobilnya sehingga mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit dimana Elsa membantu secara sukarelawan disana.
.
.
"Tuan istirahat lah," pinta Direktur rumah sakit. Ya sejak tadi Ia mengikuti Elardo yang kesana kemari mengikuti Elsa yang terus saja melakukan pekerjaan dari mengelap kaca, merapikan ruangan, membuang sampah. Ia melakukan semua pekerjaan itu dengan sukarela dan tidak menyia-nyiakan waktu satu detik saja terbuang sia-sia
"Abaikan saja aku, kembalikan ke ruanganmu!" perintah Elardo sembari mendorong pria yang menjabat Direktur rumah sakit itu menjauh.
"Mbak berikan itu padaku," pinta Elsa saat melewati seorang cleaning service yang tengah mengepel lantai.
"Tapi." Ragu wanita itu sembari melirik ke arah pria tampan di belakangnya yang Ia ketahui pemilik rumah sakit ini.
"Sayang sudah kau sudah melakukan banyak hal bahkan belum makan siang. Istirahat dulu!" Elardo yang sudah tidak tahan melihat wanitanya terus melakukan pekerjaan kasar akhirnya melakukan sesuatu untuk menghentikannya.
Keduanya kini berjalan berdampingan keluar dari rumah sakit itu. Langkah keduanya terhenti saat seorang pria paruh baya berdiri tepat di depan mereka.
"Akhirnya aku menemukanmu nona Elisa," ucap pria itu penuh kelegaan.
"Anda siapa dan bagaimana anda mengenal saya?" Elsa menatap pria paruh baya itu dengan seksama sembari mengingat-ingat.
__ADS_1