Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 73. Kekompakan Putri Dan Ayah


__ADS_3

Dua orang pria tengah duduk santai disebuah rumah tua tepatnya di desa terpencil.


"Apa bos sudah memberi perintah?" tanya salah seorang pria pada pria satunya.


"Kau diam lah lebih baik kau periksa apa wanita tua itu masih hidup jangan sampai dia sekarat!" Bukan jawaban melainkan perintah yang di dapat pria itu.


Sementara di dalam ruangan lain tepatnya dimana Agatha disekap.


"Nenek." Suara kecil namun begitu cergas membangunkan Agatha. Tubuh tua Agatha ditambah tubuhnya yang lemah karena sejak kemarin perutnya belum terisi.


"Siapa k-"


Belum selesai bicara mulut Agatha sudah dibekap tangan telapak tangan kecil Kiara. Ya, Kiara tidak ingin suara Agatha membuat gaduh hingga para penjahat di luar memeriksa ruangan itu.


"Nek, aku akan menyelamatkan Nenek," bisik Kiara di telinga Agatha.


"Bagaimana kau?" Agatha menatap tubuh kecil di depannya itu membuatnya mengerutkan kening. Bagaimana mungkin anak sekecil itu akan menyelamatkannya.


Jari jemari Kiara begitu lihai melepas ikatan itu tidak ada kendala sedikit pun. Setelah itu Ia membantu Agatha berdiri dari kursi. "Ayo Nek kita harus pergi sebelum mereka menemukan kita.


Dengan susah payah Kiara membantu Agatha melewati jendela. Ya tidak ada jalan lain kecuali harus melewati jendela yang agak tinggi. Setelah berhasil melewatinya Kiara menggandeng tangan Agatha melewati semak-semak menuju jalan besar. Kiara berpikir jika sebelum Ia sampai di jalan besar para penjahat sudah menyadari Ia dan Agatha dalam bahaya sehingga Ia memilih berjalan di semak belukar.

__ADS_1


"Aw." Kaki kiara tersandung kayu membuatnya mengaduh.


"Sudah Nak, kamu pergilah biarkan nenek disini. Gara-gara nenek kakimu berdarah." Agatha merasa bersalah.


Namun tidak dengan Kiara di detik selanjutnya Ia langsung kembali bersemangat setelah sebelumnya sempat hampir menangis.


"Aku baik-baik saja Nek, ayo Nek ayahku pasti sudah menunggu." Kiara menggandeng tangan Agatha keduanya kembali melangkah.


Sementara mobil Elardo terparkir di tepi jalanan sesuai permintaan Kiara. Dalam perjalanan menuju tempat yang Galang beritahukan lewat telepon, Kiara menghubunginya memintanya menjemputnya. Elardo yang menunggu selam lima menit kemudian berusaha menghubungi Kiara namun ponsel Kiara tidak aktif.


"Apa yang sedang direncanakan anak itu!" geram Elardo. Ya selain cerdas, Kiara sangat bandel. Ia sering sekali dijahili atau dalam bahasa gaul di prank putrinya itu🤣.


"Awas kau Kiara!" imbuhnya semakin geram ketika Kiara tak kunjung datang, teleponnya juga tidak aktif.


"Ayah." Lambai Kiara dari kejauhan.


Elardo membulatkan penglihatannya karena bukan hanya Kiara yang dilihatnya namun juga Agatha atau yang lebih tepat ibu mertuanya. Saat hendak turun dari mobil Elardo melihat dua orang bertubuh besar berlari menuju Kiara.


Tanpa berlama-lama Elardo bergegas turun, Ia langsung turun tangan melindungi.


"Serahkan wanita itu jika masih sayang nyawamu!" perintah salah seorang penjahat dengan suara garang.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya bertanya, dibayar berapa kalian?" balas Elardo namun bukannya ingin melawan pria itu memberikan penawaran.


"Ayah." Kiara langsung tepuk jidat. Ia tadinya berpikir jika sang ayah yang memiliki tubuh atletis dengan otot besarnya akan meremukkan kedua penjahat itu namun nyatanya diluar nurul eh nalar🤣.


"Omong kosong bedebah!" kedua penjahat itu yang sudah hilang kesabaran melayangkan pukulannya namun dengan cepat ditangkis Elardo.


"Tunggu! Jangan katakan kalian tidak mengenalku, Elardo Cashel pemilik perusahaan Cashelion internasional." Elardo berusaha meyakinkan untuk membuat penawaran.


"Cashelion internasional, perusahaan besar pembuat game online itu," bisik salah seorang penjahat. Setelah membuat kesepakatan antara kedua penjahat itu akhirnya mereka berbicara.


"Kami mau satu milyar!" tawarnya mantap.


"Itu terlalu kecil apa kalian tidak berniat menambah nominalnya?" remeh Elardo.


"Apa orang ini sudah tidak waras satu milyar kecil," bisik salah seorang penjahat.


"Uang segitu seperti membuang potongan kuku bagi sultan seperti dia, ini kesempatan kita," sahut penjahat satunya masih dengan berbisik.


Kesepakatan itu berjalan alot karena Elardo terus meremehkan nominal- nominal yang disebutkan kedua penjahat itu.


"Baiklah 10 milyar itu sudah cukup," tawar salah seorang penjahat yang sudah lelah membuat kesepakatan. Awalnya mereka hanya dibayar 10 juta namun pria ini bahkan menawarkan seribu kali lipat.

__ADS_1


Samar-samar dari kejauhan suara sirine, semakin lama semakin jelas hingga terdengar suara sirene mobil polisi.


Kedua penjahat itu kelabakan karena mereka sudah dikepung. Elardo memang sengaja mengulur waktu menunggu kedatangan Arga. Sebelum keluar dari mobil Elardo mengirim sinyal bahaya ke ponsel Arga. Dengan cepat Arga melacak keberadaan tuanya itu dan langsung melapor ke Polisi.


__ADS_2