Reinkarnasi Sistem Ibu

Reinkarnasi Sistem Ibu
Bab 51. Insiden Penembakan


__ADS_3

Sekembali dari apartemen Elsa, Elardo bergegas membersihkan diri tanpa Ia ketahui ponselnya terus bergetar menandakan panggilan masuk.


"Ah segar sekali." Elardo keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.


Sembari menunggu rambutnya yang kering Elardo memeriksa ponselnya.


Notifikasi dari ponselnya beberapa panggilan tidak terjawab dari Adrian. Orang yang ditugaskan nya untuk menyelidiki siapa dibalik penyerangan Elsa beberapa waktu.


Elardo langsung menghubungi balik Adrian. Setelah berbicara panjang lebar di dapatkan kesimpulan jika orang yang bertanggung jawab dari penyerangan itu adalah Elma dan suaminya membuat Elardo bertanya-tanya. Bagaimana mungkin saudara angkat Elsa itu menargetkan Elisa yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Hoover atau ada rahasia dibalik semua ini?


....


Pagi-pagi sekali Elsa mengantarkan Kiara ke kediaman Cashel. Jadwal yang padat Kiara membuat Kiara tidak punya banyak waktu hanya untuk berlama-lama dengan Ibunya.


Elsa dan Kiara menaiki taxi menuju ke kediaman itu.


"Kia apa kau merasa tertekan belajar begitu banyak?" Elsa yang merasa khawatir mempertanyakan langsung karena bagaimanapun juga umur kiara yang masih sangat muda berbanding terbalik dengan begitu banyaknya hal yang harus dipelajarinya. Selain sekolah Kiara juga mengembangkan kemampuannya dalam bidang IT selain itu juga mempelajari musik seperti biola dan piano sekaligus.


"Sama sekali tidak Bu, Kia sangat menikmati semua. Itu semua keinginanku bukan paksaan ayah," jelas Kiara. Ia menggenggam tangan ibunya, memberikan senyum terbaiknya.


"Bagus lah jika seperti itu, dengar dan patuhi apapun yang ayah El katakan!" tutur Elsa.


Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kediaman Cashel.


{Peringatan bahaya. Peringatan bahaya}


Suara dari sistem yang member peringatan namun baru beberapa detik.


Dor!


Dor!


Awas!"

__ADS_1


Dua tembakan melesat hampir mengenai Elsa jika tadi Elardo telat satu detik saja.


Tubuh keduanya jatuh ke jalanan tepat posisi Elardo dibawah tubuh Elsa. Sepersekian detik keduanya saling menatap dan bahkan mengabaikan sopir taxi juga Kiara yang memperhatikan keduanya.


"Ah maaf." Elsa yang menyadari langsung bangkit begitu juga dengan Elardo. Beberapa anak buahnya segera mengejar penembak yang hampir saja mencelakai Elsa.


.


.


"Minumlah!" Elardo menyodorkan segelas air putih ke Elsa. Elsa sendiri masih sangat syok membuat tangannya terus saja bergetar. Melihat keadaan Elsa membuat Elardo dengan cepat memegangi tangan Elsa agar gelas ditangannya stabil.


"Tenang lah kau aman sekarang." Elardo berusaha tersenyum membuat Elsa kembali tenang. Ya siapapun yang berada diposisi Elsa pasti akan syok. Sejak terakhir kali tidak terjadi kejadian seperti ini namun entah mengapa pagi ini terjadi lagi.


"Siapa yang sebenarnya melenyapkan Elisa, mungkinkah Elisa mempunyai musuh?" Setelah cukup tenang Elsa mengungkapkan segala kerisauannya yang sejak tadi menghinggapi pikirannya.


"Haruskah aku mengatakannya tapi jika aku katakan bukankah akan semakin membuatnya takut," gumam Elardo.


Drt ... drt.


Elsa merasa aneh karena biasanya Elardo selalu terbuka dengannya namun kali ini saat menerima telepon bahkan prianya itu masuk ke ruang kerjanya.


Setelah sepuluh menit Elardo kembali.


"Kau tetaplah disini, aku sudah meminta izin ke kampus juga rumah sakit jika kamu tidak bisa hadir." Ucapnya sembari memakai jasnya.


"Kau mau kemana?" Elsa menahan Elardo dengan menarik jasnya saat pria itu hendak melangkah.


"Aku ada sedikit pekerjaan." Elardo tersenyum sekilas lalu beranjak pergi.


Elsa terus menatap punggung prianya itu entah kenapa perasaan seperti tidak rela melihat pria itu pergi.


"Aw." Elsa memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri seakan ada sesuatu yang besar akan terjadi.

__ADS_1


.


.


Setelah perjalanan cukup panjang mobil Elardo berhenti tepat disebuah Gudang besar dimana anak buahnya sebutkan. Seperti yang anak buahnya katakan jika Ia telah berhasil menangkap penembak pagi tadi dan sudah menyekapnya.


"Kenapa sepi sekali dimana mereka?" Elardo melihat sekeliling yang nampak sepi Ia terus masuk lebih dalam.


Breekkkk


Tiba-tiba pintu gudang itu tertutup dengan keras membuat Elardo merasa ada yang aneh.


Klaakk


Saklar lampu menyala memperlihatkan anak buahnya lah yang terikat bukan sebaliknya.


"Kalian kenapa ...." Elardo yang merasa dibohongi tapi Ia tahu ada seseorang dibalik semua ini.


Prok ... prok ... prok.


Suara tepuk tangan langsung membuat fokus Elardo tertuju pada suara itu.


"Selamat datang tuan muda tidak disangka kelemahan anda ada pada wanita itu, aku sudah menduga." Sambut seorang pria dengan tatapan penuh kepuasan karena telah berhasil membawa seorang keturunan Cashel masuk ke dalam jebakannya.


"Paman Ben kau kah itu?"


Benny merupakan orang kepercayaan keluarganya namun entah mengapa sejak kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan tiba-tiba pria paruh baya itu ikut menghilang.


"Tidak disangka tuan muda masih mengingatku." Benny mendekat sembari menodongkan senjata api ke arah Elardo.


"Paman ada apa ini, kenapa Paman ...." Elardo tidak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba Benny tertawa lebar namun setelah itu tiba-tiba terdiam.


"Sudah saatnya mengakhiri semuanya hutang nyawa harus dibayar nyawa seumur hidup aku bersumpah untuk menghabisi keturunan Cashel tanpa sisa." Benny menarik pelatuk senjata api ditangannya. Tidak lama lagi dendamnya akan terbalas kan dan itu lah harapannya sebelum ikut mengakhiri hidupnya sendiri.

__ADS_1


"Tunggu Paman, aku masih tidak mengerti tolong jelaskan." Elardo berusaha mengulur waktu. Sama seperti di ponsel Elsa, Ia mengatur ponselnya dengan sistem Bodyguard Siluman ke ponsel asistennya. Sistem akan mengirim peringatan bahaya dari ponsel pengguna ke ponsel yang ditautkannya.


Sementara disebuah kantor Cashelion setelah mendapat peringatan bahaya Arga segera menyusun strategi untuk menyelamatkan CEO nya itu.


__ADS_2