
"Masuk lah," ucap Elardo setelah keduanya sampai di depan kontrakan milik Elsa.
"Tuan aku tidak mau anda terus-terusan menyelamatkan saya jika begini bagaimana saya bisa menembusnya?" Elsa mengungkapkan kerisauannya. Ya memang benar setiap ada bahaya pria itu selalu datang menyelamatkannya hingga tidak terhitung jumlah hutang budi Elsa pada pria itu.
"Kau tidak perlu sungkan lakukan semua yang kau inginkan dan aku yang akan menyingkirkan bahayanya. Satu lagi izinkan aku tetap disamping mu aku tidak akan mengganggumu," terang Elardo.
Kata-kata Elardo semakin membuat Elsa tercekik karena bagaimanapun juga Ia tidak bisa membalas pria itu meski hanya cinta.
"Aku hanya seorang ibu tunggal yang sangat tidak pantas untuk tuan Elardo jadi jangan pernah sedikitpun memberinya harapan," gumam Elsa.
"Tapi Tuan aku sangat terganggu dengan anda jadi aku harap ini yang terakhir kalinya anda menemui saya. Kedepannya kita hanya boleh bicara jika menyangkut Kiara!" tegas Elsa.
"Baik jika itu kemauanmu tapi aku tetap akan melakukan sesuai keinginanku nona Elisa. Permisi." Elardo melangkah pergi meninggalkan Elsa yang masih bergetar hebat dengan penolakannya tadi. Bukan kata-kata yang mudah yang Elsa keluarkan demi menolak Elardo namun Ia juga tidak boleh terus-terusan memberi harapan yang tidak mungkin Ia bisa kabulkan.
Elsa sadar dia hanya seorang ibu tunggal yang juga tidak sebanding dengan Elardo. Beberapa waktu lalu seorang wanita memperingatkannya untuk menjauhi pria itu membuat Elsa sadar siapa dirinya.
Sementara itu Elardo yang tidak bisa mengatasi perasaan patah hatinya karena berulang kali ditolak Elisa melampiaskannya di sebuah bar. Sudah beberapa botol wine Ia tenggak membuatnya kini mabuk berat.
"Apa perlu aku mati baru kau mau menerimaku Elisa, aku ma- u mati sa-ja kalau itu bisa." Racau Elardo.
Seorang pria dengan tatapan penuh kebencian menyadari ada kesempatan emas untuk membalas dendam. Pria itu melangkah menuju Elardo.
__ADS_1
...
Tolong ... tolong." Samar-samar terdengar suara minta tolong membuat Elsa yang hendak masuk ke kontrakannya melihat sekeliling.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam.
"Suara ini sepertinya bukan pendengaran biasa." Elsa memejamkan matanya. Suara itu terdeteksi beberapa ratus meter dari tempatnya, tepatnya di gang sempit yang jarang dilewati orang.
Elsa berlari untuk membantu wanita itu yang terus saja berteriak minta tolong yang terdengar dari intuisi pendengarannya.
"Tidak jangan lepaskan aku, aku akan memberi kalian uang yang banyak orang tuaku pasti tidak segan," tawar wanita itu.
"Jangan, jangan!" teriak wanita itu. Pakaiannya sudah koyak karena ditarik dengan paksa empat pria itu.
"Arghhh!" teriak wanita itu ketika pria itu mencumbunya dengan liar.
"Hei binatang lepaskan gadis itu!" geram Elsa.
Ada rasa ketakutan dari diri Elsa ketika perhatian empat pria itu terarah kepadanya setelahnya. Ia sadar tidak mampu mengalahkan keempat pria itu mengingat ketrampilan kuat nya lemah hingga pasti tidak mampu melawan.
"Wah kita kedatangan tamu yang tidak diundang sepertinya Tuhan begitu baik hingga mengirim satu lagi kesenangan untuk malam ini." Seorang pria datang mendekat ke arah Elsa.
__ADS_1
"Berhenti jika kau mendekat aku remukan tulangmu!" tegas Elsa dengan ancamannya. Namun bukannya takut pria itu malah tertawa semakin kencang.
"Kau hanya seekor kelinci mau meremukkan tubuhku."
Blam! Blam!
Elsa menendang pria itu dengan kekuatan penuh namun tendangan itu tidak berpengaruh apa-apa.
{Ding. Peringatan bahaya prosentase kekuatan anda menurun drastis menjadi 20%}
Peringatan dari sistem. Tanpa Elsa sadari suasana hatinya setelah menolak Elardo terus membuat ketrampilannya menurun hingga tersisa 20% membuatnya tidak bisa melawan meski hanya membuat pria itu bergerak Ia tidak mampu. Tubuh keempat pria itu begitu kekar.
"Tidak jangan mendekat!" pekik Elsa saat keempat pria itu beralih mengepungnya.
Jiwa Elsa seperti melayang di udara sementara tubuhnya terkulai tidak berdaya. Jangankan untuk melawan ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Mungkinkah ini akhir hidupku, aku sudah berakhir. Aku ... aku pergi selamat tinggal Kiara, Elardo," gumam Elsa dengan mata terpejam.
Elsa membayangkan kebersamaannya dengan Kiara juga Elardo yang hanya walaupun sesaat Ia begitu bahagia.
Keempat pria itu tertawa terbahak-bahak menatapnya yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1