
Satu jam berlalu sejak Elardo keluar dari kamar Elsa kemudian beberapa MUA melakukan tugasnya, Elsa belum kunjung keluar. Ekor mata Elardo yang sejak tadi tidak putus mengarah ruangan itu padahal saat ini Ia sudah duduk bersama penghulu, saksi juga Kiara yang duduk tepat disebelahnya.
"Ayah santai saja jangan gugup, ibu pasti akan segera keluar." Kiara yang jelas menangkap perasaan tidak nyaman ayahnya berusaha menenangkan.
"Kiara benar tuan El," sambung Profesor Edward yang bertindak sebagai saksi. Sungguh aneh pria yang biasa begitu berkarisma itu terlihat seperti mati kutu.
Elardo berusaha sebisa mungkin tersenyum walau sebenarnya terlihat begitu kaku hingga tidak bisa menutupi kegugupannya.
Kreekkkk.
Tap .... Tap.
Suara pintu dibuka lalu suara langkah kaki membuat fokus semua orang di ruangan itu langsung terarah ke sumber suara itu.
Elsa melangkah dengan anggun dengan balutan kebaya berwarna putih. Riasan wajah yang sederhana namun membuatnya justru semakin cantik paripurna bak bidadari yang turun dari langit. Rambutnya yang disanggul modern dengan hiasan mahkota benar-benar membuat semua orang terpukau termasuk Elardo. Pria itu sejak tadi tidak berkedip bahkan ketika Elsa sudah berada di sampingnya.
"Ehem, ehem." Penghulu berdehem beberapa kali agar perhatian Elardo tertuju padanya namun Elardo terus menatap Elsa.
"Tuan," sentak Elsa berusaha mengalihkan perhatian Elardo.
"Oh." Elardo yang menyadari acara akan segera dimulai karena pengantinnya sudah berada tepat di sampingnya segera menfokuskan pandangannya tepat ke arah penghulu yang berada di depannya.
"Tuan Elardo Cashel dan Nona Elisa Putri. Sebelumnya saya ingin memastikan Anda berdua sudah siap berumah tangga?" Penghulu memulai dengan pertanyaan untuk memastikan jika pernikahan ini benar-benar akan dilaksanakan.
"Siap, kami sangat siap." Elardo menjawab dengan mantap namun sang mempelai wanita hanya terdiam membuat Penghulu mengulangi pertanyaannya. "Sekali lagi saya bertanya, Nona Elisa anda siap diperistri Tuan Elardo? Benar-benar tidak ada paksaan?" Penghulu fokus menatap Elsa.
Elardo seketika langsung naik pitam mendengar deretan pertanyaan Penghulu itu yang justru menyudutkan Elsa dan terkesan menunda acara.
"K-"
__ADS_1
"Ayah tenanglah," bisik Kiara berusaha meredam emosi ayahnya.Ia juga memegangi tangan Elardo yang sudah mengepal. Berbeda dengan Elardo yang begitu emosi, Elsa justru terlihat menunduk.
"Bagaimana Nona, Anda menginginkan pernikahan ini atau tidak?" desak penghulu.
Elsa mengangkat kepalanya sembari menghembuskan nafas pelan. "Aku sebenarnya...sebenarnya...sangat tidak sabar dengan pernikahan ini. Anda bisa memulainya sekarang!"
Seketika jawaban Elsa membuat semua orang tersenyum termasuk Elardo.Ya walaupun Ia tadi memaksa pernikahan ini namun nyatanya Elsa juga menginginkannya.
Acara berlangsung hikmad tidak ada kendala. Walaupun terbata-bata Elardo akhirnya mengucap kata-kata sakral yang akhirnya membuatnya dan Elsa sah menjadi pasangan suami istri.
"Selamat ya Elisa dan tuan Elardo." Profesor Edward kembali menjabat tangan kedua mempelai kesekian kalinya sebelum meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih Prof dan terima kasih sudah merahasiakan acara ini."
Sesuai permintaan Elsa Ia tidak ingin acara ini diketahui khalayak ramai, Elardo pun menyetujui hingga acara yang baru saja berlangsung benar-benar privat.
"Ini air mata kebahagiaan, sekali lagi selamat berbahagia Elsa, Tuan Elardo." Ucap Profesor Edward lagi sembari menepuk bahu Elsa sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Elsa tersenyum bahagia walaupun tidak ada keluarga yang mendampinginya namun sosok Profesor Edward sudah menjadi pengganti walau sebenarnya sosok orang tuanya tidak akan pernah bisa digantikan dengan siapapun.
"Kau berani tersenyum pada pria lain saat suamimu masih disini!" geram Elardo mencubit hidung Elsa.
"Aw sakit," rintih Elsa memegangi hidungnya yang memerah.
"Tuan." Arga mengalihkan fokus Elardo. Ia yang sejak tadi menunggu tanpa kepastian memberanikan diri. Bagaimana tidak hari ini jadwal atasannya itu bahkan padat merayap namun tiba-tiba tuannya memutuskan untuk menunda semua jadwal itu.
Arga berbisik di telinga Elardo membuat Elardo menghela nafas kesal.
"Tidak bisakah hari ini aku libur hanya hari ini!" pekiknya kesal.
__ADS_1
"Ini acara penting Tuan bahkan anda sudah menunggu acara ini beberapa bulan." Arga menjelaskan dengan sabar.
Melihat Elardo terlihat kesal, Elsa berusaha menengahi.
"Pergilah, nanti malam kau bisa pulang kan?" bujuk Elsa dengan lembut seketika menurunkan emosi pria itu.
"Baiklah kau tunggu di mobil aku akan berganti pakaian!" perintah Elardo.
Arga membungkukkan tubuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
"Bisakah kau memberiku sesuatu sebelum aku pergi," tawar Elardo dengan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Apa, aku-"
Cupp
Bibir Elardo langsung mendarat di pipi Elsa. Ia tidak punya banyak waktu hingga tidak ingin membuang waktu.
Mendapat kecupan untuk pertama kalinya dari sang suami, pipi Elsa langsung merona. Elardo yang tidak tahan henda mencium lagi kali ini terarah ke bibir Elsa.
"Ayah!" geram Kiara dengan berteriak.
Upss, hampir saja Ia kelepasan dan melupakan keberadaan Kiara yang masih berada di tengah-tengah mereka.
"Baiklah Ayah pergi."
Cup, cupp.
Elardo mendaratkan kecupannya ke kening Kiara lalu ke Elsa sebelum akhirnya berganti pakaian lalu pergi.
__ADS_1