
"Ehem, ehem." Suara deheman membuat pelukan keduanya renggang lalu fokus ke arah pria yang berdiri di pintu sembari menatap jealous.
Spontan Kiara melompat dari ranjang lalu melompat ke pelukan pria itu.
Cup, cup.
Kecupannya lalu terarah ke kedua pipi pria itu yang tidak lain Elardo. " Ayah cepat sekali kau pulang, kau pasti merindukan aku?" kelakar Kiara. Bukannya menjawab pertanyaan Kiara, pria itu malah menatap ke arah lain.
Merasa diabaikan Kiara berencana untuk mengerjai ayahnya.
"Ayah, Ayah bolehkah makan ini aku tidur bersama Ibu?" Kiara mencoba mengalihkan perhatian Elardo dengan pertanyaannya.
Benar dugaan Kiara, ayahnya langsung fokus menatapnya sembari mengerutkan keningnya. Dipastikan jika ayahnya tidak senang dengan idenya.
"Kau harus pulang karena besok harus sekolah dan kau ada presentasi besok dengan beberapa mentor, kau lupa kau sudah menantikan hari esok?" bujuk Elardo.
Bukannya langsung setuju Kiara malah menggeleng tidak senang sebagai tanda penolakannya. "Tapi ayah, aku sudah mempersiapkan semuanya!"
"Pokoknya kau harus pulang karena-"
Puft.
Elsa yang sejak tadi mencoba menahan tawanya dengan perdebatan kecil antara ayah dan anak itu secara tidak sadar tidak mampu menahannya lagi hingga membuat Elardo tidak meneruskan ucapannya.
"Maaf." Elsa langsung menutup mulutnya setelah ditatap tajam Elardo dan Kiara.
__ADS_1
Di detik selanjutnya Kiara yang tadinya berada di gendongan ayahnya melompat turun mendekat ke Ibunya. "Ibu, Ibu katakan pada ayah untuk memperbolehkan aku tinggal satu malam disini." Kiara mempertontonkan muka memelasnya demi melancarkan aksinya.
Elsa yang merasa kasian menatap wajah Elardo sembari memberi isyarat untuk menyetujui keinginan kita. Namun Elardo tetap kukuh untuk memulangkan Kiara ke kediaman Cashel.
"Baiklah aku akan pulang." Kiara yang merasa kecewa turun dari ranjang lalu melangkah pergi dengan putus asa. Namun sebenarnya dalam hatinya bahagia karena berhasil mengerjai ayahnya dengan keinginan konyolnya. Bagaimana mungkin Ia menjadi pengganggu di malam pertama ayah dan Ibunya, itu tidak akan mungkin.
Demi meyakinkan aktingnya, tiba-tiba Kiara kembali berlari ke ranjang Ibunya.
"Kiara!!"
.
.
Kreekkkk.
Elardo memasuki kamar milik Elsa namun Ia tidak menemukan siapapun disana hanya ranjang yang sedikit berantakan.
Fokusnya tertuju pada pintu menuju balkon yang terbuka.
Sosok wanita dengan rambut sebahu yang terurai nampak berdiri di tepi balkon. Elardo tidak menyia-nyiakan kesempatan, Ia mendekap tubuh molek itu dari belakang. Aroma Jasmine yang lembut langsung menusuk hidungnya saat Indra penciumannya mengendus rambut wanitanya.
Sudah beberapa bulan ini Ia menunggu saat-saat seperti ini. Saat-saat bayangan kebersamaannya bersama wanita yang dicintainya menjadi kenyataan.
"Kau yakin membeli kucing dalam karung?" Elsa melontarkan pertanyaan yang menohok seketika membuyarkan Elardo yang sedang asyik mencumbu wanitanya.
__ADS_1
"Kucing tetaplah kucing. Entah di dalam karung atau di manapun tempatnya tetaplah kucing yang aku inginkan." Elardo berkata penuh keyakinan dan penekanan membuat Elsa tidak membantahnya lagi. Pria itu menarik tubuhnya membuat keduanya bertatapan intens.Tanpa membuang waktu Elardo membopong tubuh Elsa masuk ke dalam kamar.
...*****...
Keesokan paginya.
Elsa menggeliat manja sesaat setelah terjaga dari tidurnya.
"Hoam, nyaman sekali."
Setelah semalaman istirahat dengan baik Ia merasa begitu segar. Namun setelah mensinkronkan otaknya dengan baik Ia tersentak. Bagaimana Ia bisa lupa jika Ia sudah menikah kemarin. Belum hilang dari rasa terkejutnya Ia memeriksa pakaiannya yang ternyata masih lengkap tanpa kurang suatu apapun. Di detik selanjutnya Ia memeriksa sampingnya dimana tempat suaminya tidur.
"Oh kosong." Elsa terkejut sesaat mendapati tempat itu telah kosong tidak ada seorang pun.
"Apa yang terjadi semalam?" Monolognya sembari mengingat kejadian tadi malam.
Ya setelah Elardo mengangkat tubuhnya masuk ke dalam lalu membaringkannya ke ranjang entah mengapa serangan panik melandanya. Tubuhnya bergetar hebat, juga keringat dingin yang mengucur padahal saat itu Ia berada di kamar yang ber AC.
Pria itu kemudian memeluknya, menenangkannya dengan suara penuh kelembutan sembari mengusap punggungnya. Setelah itu Ia sudah tidak bisa mengingat apapun karena tertidur.
"Omg." Elsa menggeleng tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi semalam. Bagaimana bisa Ia begitu kolot menghadapi pria yang kini sudah berstatus suaminya itu.
Tring! Tring!
Suara deringan ponsel membuyarkan pikiran Elsa. Fokusnya langsung tertuju pada ponsel yang berada diatas nakas. Nama "Tuan El" masih tertulis di layar ponsel itu. Ya, memang Ia belum sempat mengganti nama itu.
__ADS_1