
"Ibu!" seru Kiara yang langsung berlari memeluk ibunya karena sudah semalaman Ia menahan untuk bertemu ibunya karena dilarang Elardo.
"Anak baik, bagaimana kabarmu?" Elsa mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kiara.
"Kiara baik Bu." Kiara kembali mendekap tubuh ibunya kali ini begitu erat membuat Elsa hampir terjatuh ke belakang.
"Bu tinggal lah disini, Kiara tidak ingin ibu kenapa-kenapa. Ibu menikah-"
"Kiara waktunya belajar, guru mu sudah menunggu!" sela Elardo tiba-tiba.
"Cepat sana belajar ibu juga harus pergi!" perintah Elsa.
Kiara pun melangkah pergi menuruti perintah ayah dan ibunya.
"Nona Elisa bisa turun sekarang ada seseorang yang ingin aku perkenalkan" Elardo memberitahu. Ia hanya berdiri di depan pintu karena Ia tidak ingin menganggu privasi Elisa jika masuk ke kamar itu padahal kamar itu pintunya terbuka lebar.
"Baik." Elisa segera keluar dari kamar karena Ia sudah selesai bersiap-siap.
Seorang wanita cantik sudah duduk di ruang tamu menunggu kehadiran Elisa.
"El kau ini lama sekali kau benar-benar sudah berubah." Gadis itu langsung bergelayut manja di bahu Elardo.
"Siapa wanita ini apakah dia calon istri tuan Elardo, dia cantik sekali tapi bagaimana bisa Ia bersikap seolah mengingatkan aku jika seperti ini. Memang dimana-mana pria itu brengsek!" geram Elsa dalam hati.
Sementara Elardo dan gadis cantik itu nampak akrab lalu berbisik di telinga Elardo.
"Cih." Elsa semakin geram dengan kemesraan keduanya yang sengaja ditampilkan di depannya.
"Elisa kenal-"
__ADS_1
"Saya sudah tahu Tuan dan lain kali jika menyangkut diri anda saya sama sekali tidak tertarik!" ucap Elsa dengan nada ketus. Ia melangkah kesal meninggalkan keduanya.
"Kau ini dia jadi salah paham kan!" kesal Elardo pada gadis yang sebenarnya akan ditugaskan Elardo untuk menjaga Elisa.
"Hei cepat kejar wanitamu itu!" perintah gadis bernama Alin karena Elardo mengabaikannya dan malah fokus memarahinya.
Elardo langsung berlari mengejar Elisa.
Grep.
Tangan Elardo menahan tangan Elisa menghentikan langkahnya.
"Lepaskan, anda membuang-buang waktuku!" Elsa meronta dari cekalan tangan pria itu namun Elardo tidak melepaskannya.
"Kau cemburu?" Pertanyaan Elardo tiba-tiba membuat Elsa tertegun.
"Bagus kalau gitu karena dia bukan kekasihku. Alin kemari!" perintah Elardo menengok ke arah belakang dimana Alin berdiri.
.
.
"Kau masih cemburu?" tanya Elardo setelah memperkenalkan Alin dan menjelaskan siapa Alin.
"Siapa cemburu aku hanya tidak suka melihat pria macam itu menjadi aya angkat anakku," jelas Elsa.
"Jika kau cemburu aku sangat senang jadi katakan dengan jelas kau cem- buru." Elardo berbisik di telinga Elsa.
Elsa yang kesal segera mendorong tubuh Elardo menjauh.
__ADS_1
"Aku harus pergi sekarang karena aku akan terlambat, oh iya terima kasih telah mengizinkan aku menginap semalam." Elsa melangkah pergi setelah berbicara.
Sepeninggalan Elsa.
"Memang pantas kau menyukainya ternyata dia bukan wanita manja seperti gadis-gadis memuakkan yang biasa mengelilingi mu yang hanya bisa merengek seperti bayi." Respon Alin setelah bertemu dengan wanita yang membuat sahabat baiknya banyak berubah.
"Sudah kita bahas lain kali, aku tidak mau dia pergi sendiri." Elardo buru-buru naik ke mobilnya mengejar Elisa.
Beep ... beep.
Mobil Elardo berhenti tepat di depan Elisa yang berdiri di pinggir jalan tengah mencari taxi namun setiap kali taxi yang lewat sudah berpenumpang.
Elardo membuka. kaca jendela mobilnya. "Naik lah ku akan mengantarmu," tawar Elardo.
Elsa hanya diam melihat jalanan yang mulai sepi sedangkan Ia tidak ingin terus-terusan merepotkan pria itu.
"Ayo!" Tanpa aba-aba Elardo menarik tangan Elisa masuk ke dalam mobilnya.
Deg ... deg.
Jantung Elsa berdetak cepat karena saat itu tangannya masih di genggaman pria itu. Perasaan yang tidak biasa terjadi padanya membuatnya tidak berdaya seperti ada magnet yang membuatnya merasa tidak ingin dilepas.
"Maaf aku-" Elardo yang menyadari tangannya masih mencuri pegang segera menarik tangannya.
"Tidak apa-apa." Elsa tersenyum menatap pria itu namun segera mengalihkan pandangannya saat Elardo balik menatapnya.
Mobil Elardo berhenti tepat di Universitas Kedokteran di kota itu. Elsa yang merasa canggung langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan terima kasih.
"Wanita ini benar-benar membuatku semakin terpesona tapi aku harus tetap bersabar, aku tidak mau Ia lari dariku jika aku terlalu memaksa," gumam Elardo. Pria itu masih menatap punggung Elisa hingga hilang dari pandangannya setelah masuk ke gedung itu.
__ADS_1